TOL GUSUR MAKAM? Warga Kecamatan Semen Menolak Pada 5 Desember 2025

KediriNews.com – Masyarakat di Kecamatan Semen, Jawa Tengah, kembali menunjukkan kekecewaannya terhadap rencana pembangunan jalan tol yang dinilai mengancam makam leluhur mereka. Pernyataan tersebut muncul setelah warga memprotes penghentian sementara proyek Tol Jogja-Bawen di Seksi 1 ruas Sleman-Banyurejo pada Agustus 2024 lalu. Meski sebelumnya proyek sempat dilanjutkan, isu penundaan dan perubahan arah pembangunan kembali menjadi topik hangat di kalangan warga.

“Kami tidak bisa menerima jika makam leluhur kami digusur tanpa adanya solusi yang jelas,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat dalam wawancara dengan media lokal. Ia menegaskan bahwa ratusan makam yang berada di area proyek harus dipindahkan terlebih dahulu sebelum pengerjaan jalan tol dilanjutkan. “Kami hanya ingin keadilan, bukan hanya keuntungan bagi pihak tertentu.”

Sejak awal, warga Kecamatan Semen menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap dampak lingkungan dan budaya dari proyek jalan tol ini. Mereka khawatir, tindakan yang diambil oleh pemerintah dan pihak pengembang akan merusak nilai-nilai tradisional dan spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, kondisi tanah di sekitar makam juga dikhawatirkan bisa menjadi ancaman keselamatan jika tidak ditangani secara baik.

  1. Proses Penimbunan Tanah yang Mengkhawatirkan
    Pengerjaan proyek Tol Jogja-Bawen di Seksi 1 ruas Sleman-Banyurejo terpaksa dihentikan karena protes keras dari warga. Di lokasi tersebut, tanah telah diurug hingga ketinggian sekitar 3 meter, menjulang lebih tinggi dari pagar makam. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas tanah, terutama saat musim hujan tiba. Warga khawatir longsoran bisa terjadi, sehingga mengancam keamanan makam-makam yang ada.

  2. Tuntutan Relokasi Makam Sebelum Proyek Dilanjutkan
    Warga menuntut agar pemerintah dan pihak terkait segera mengambil tindakan untuk memindahkan makam tersebut sebelum kelanjutan proyek tol dilaksanakan. Mereka merasa bahwa penundaan ini sudah terlalu lama dan kurangnya komunikasi serta sosialisasi dari pihak proyek membuat warga semakin resah. Hingga kini, jumlah makam yang belum dipindahkan mencapai 101 dari total 374 makam yang ada.

  3. Dukungan dari Lembaga Lingkungan dan Komunitas Lokal
    Isu ini juga mendapat perhatian dari berbagai lembaga lingkungan dan komunitas lokal. Mereka menilai bahwa proyek jalan tol harus disertai dengan evaluasi yang mendalam terhadap dampak sosial dan lingkungan. Dukungan ini semakin memperkuat posisi warga dalam menolak pembangunan yang dianggap tidak mempertimbangkan aspek budaya dan ekologis.

Pemprov Jawa Tengah dan pihak pengembang jalan tol diminta untuk segera menyelesaikan konflik ini dengan cara yang transparan dan inklusif. Warga menegaskan bahwa mereka tidak ingin makam leluhur mereka diabaikan demi kepentingan ekonomi semata. Tuntutan mereka adalah keadilan dan penghargaan terhadap warisan budaya yang telah ada selama ratusan tahun.

Meskipun proyek Tol Jogja-Bawen diharapkan dapat meningkatkan mobilitas dan ekonomi daerah, para aktivis lingkungan dan masyarakat setempat tetap bersikeras bahwa keberlanjutan dan keadilan harus menjadi prioritas utama. Mereka menilai bahwa proyek ini tidak boleh dijalankan tanpa adanya solusi yang memenuhi hak-hak masyarakat dan melindungi lingkungan.

Dalam konteks yang lebih luas, kasus ini menjadi contoh bagaimana pembangunan infrastruktur sering kali mengabaikan aspek budaya dan lingkungan. Warga Kecamatan Semen menunjukkan bahwa mereka siap bertindak tegas jika kepentingan mereka tidak diakui. Dengan tanggal 5 Desember 2025 sebagai batas waktu, masyarakat berharap pihak terkait segera memberikan jawaban yang memuaskan.

TolGusurMakam #WargaSemenMenolak #ProyekJalanTol #LingkunganDanBudaya #PerlawananRakyat

Pos terkait