Tesla tergeser, BYD jadi raja mobil listrik dunia di tengah tahun penuh gejolak

SEPUTAR CIBUBUR – Raksasa otomotif asal China, BYD resmi mencatat sejarah baru di industri kendaraan listrik dunia.

Untuk pertama kalinya, BYD berhasil menyalip Tesla sebagai penjual mobil listrik murni (battery-electric vehicle/BEV) terbesar di dunia, menandai pergeseran besar peta persaingan global kendaraan listrik yang selama bertahun-tahun didominasi perusahaan milik Elon Musk tersebut.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal keempat 2025, Tesla mencatat penjualan 1.636.129 unit kendaraan listrik secara global sepanjang 2025.

Angka ini turun cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.789.226 unit.

Penurunan tersebut sekaligus menjadi dua tahun berturut-turut penjualan Tesla mengalami kontraksi, mengakhiri dominasi panjangnya di puncak pasar EV dunia.

Sebaliknya, BYD justru tampil impresif. Sepanjang 2025, perusahaan asal Shenzhen itu berhasil menjual 2.254.714 unit kendaraan listrik murni, melonjak sekitar 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski BYD sebelumnya sempat mengungguli Tesla dalam hitungan bulanan atau jika digabung dengan kendaraan hybrid, pencapaian ini menjadi pertama kalinya BYD unggul secara tahunan untuk kategori mobil listrik murni di tingkat global.

Persaingan Makin Ketat, China Tancap Gas

Keberhasilan BYD tidak datang secara tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir, pabrikan-pabrikan China agresif memperluas pasar ke Asia Tenggara, Eropa, Amerika Latin, hingga Australia.

Strategi mereka bertumpu pada harga yang lebih terjangkau, teknologi baterai yang terus diperbarui, serta jarak tempuh kompetitif, faktor-faktor yang dulunya menjadi keunggulan mutlak Tesla.

Profesor Ekonomi Bisnis dari University of Birmingham, David Bailey, menilai Tesla kini berada di bawah tekanan serius.

“Tesla semakin terjepit oleh produsen China yang menawarkan nilai lebih baik, inovasi cepat, dan teknologi baterai yang kuat,” ujarnya, dikutip dari sejumlah media internasional.

Ia juga menyoroti lini produk Tesla yang relatif menua serta belum hadirnya mobil listrik kecil yang benar-benar menyasar pasar massal.

Insentif Berakhir, Kontroversi Membayangi

Tesla memang berupaya mengerek kembali minat pasar dengan meluncurkan varian lebih murah, seperti versi sederhana dari Model Y.

Namun, langkah ini belum sepenuhnya mampu menahan laju penurunan penjualan.

Kondisi pasar global yang melambat turut memperberat situasi, terutama ketika insentif kendaraan listrik mulai dikurangi atau dihentikan.

Di Amerika Serikat, kredit pajak federal untuk pembelian mobil listrik resmi berakhir pada akhir 2025, membuat harga efektif kendaraan listrik melonjak dan minat konsumen melemah.

Sementara itu, di Eropa dan Australia, ketidakpastian kebijakan, termasuk wacana tarif penggunaan jalan untuk kendaraan listrik membuat calon pembeli bersikap lebih hati-hati.

Kontroversi politik yang melibatkan Elon Musk juga dinilai memberi dampak psikologis pada sebagian konsumen.

Sejumlah analis menilai citra Tesla tidak lagi netral di mata publik, berbeda dengan awal kemunculannya sebagai simbol teknologi hijau dan masa depan transportasi.

Investor Masih Percaya, Tapi Realitas Berubah

Meski kehilangan takhta penjualan global, saham Tesla relatif tetap bertahan, didorong keyakinan investor terhadap proyek jangka panjang perusahaan.

Tesla terus mengembangkan teknologi kendaraan otonom, kecerdasan buatan (AI), serta rencana layanan robotaxi, yang kabarnya akan mulai diuji di beberapa kota dunia pada 2026.

Namun, data penjualan berbicara jelas. BYD kini berada di posisi teratas, sekaligus menegaskan bahwa era baru industri kendaraan listrik telah dimulai, dengan pabrikan China tampil sebagai penentu arah dan kecepatan inovasi.

Sejumlah lembaga riset otomotif global, termasuk BloombergNEF dan International Energy Agency (IEA), sebelumnya juga memprediksi bahwa dominasi China di sektor kendaraan listrik akan semakin menguat, seiring dukungan ekosistem baterai domestik dan skala produksi yang sulit ditandingi.

Bagi Tesla, tantangan ke depan bukan hanya soal mempertahankan inovasi, tetapi juga menemukan kembali relevansinya di pasar yang kini jauh lebih kompetitif.

Sementara bagi BYD, mahkota baru ini menjadi pijakan penting untuk memperluas pengaruhnya di panggung otomotif dunia. ***

Pos terkait