KediriNews.com – Di tengah meningkatnya kebutuhan transportasi saat musim mudik, Terminal Pare di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, justru terlihat sepi. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai alasan penumpang lebih memilih layanan travel gelap dibandingkan menggunakan terminal resmi. Pada 12 Desember 2025, kondisi ini semakin mencolok, dengan jumlah penumpang yang tercatat jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut pengamatan warga setempat, banyak penumpang memilih untuk bergabung dengan travel ilegal karena dinilai lebih praktis dan cepat. “Banyak orang memilih travel gelap karena mereka bisa langsung dijemput dari rumah, tidak perlu repot datang ke terminal,” ujar Siti Aminah, salah satu warga Pare.
Selain itu, kebijakan pemerintah yang semakin ketat terhadap operasional transportasi resmi juga turut berkontribusi. Sejumlah petugas terminal mengatakan bahwa proses pendaftaran dan pengajuan izin bagi kendaraan umum kini lebih rumit, membuat beberapa pengusaha travel beralih ke jalur ilegal.
Alasan Penumpang Memilih Travel Gelap
- Kenyamanan dan Kepraktisan: Travel gelap sering kali menawarkan layanan antar-jemput langsung dari rumah, sehingga menghemat waktu dan tenaga.
- Harga yang Lebih Murah: Banyak penumpang menyebut bahwa harga tiket travel gelap lebih murah dibandingkan tarif resmi.
- Kepercayaan Terhadap Layanan: Meski ilegal, beberapa travel gelap memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat, terutama jika sudah lama beroperasi dan tidak pernah menimbulkan masalah.
Tantangan dan Risiko
Meskipun banyak diminati, travel gelap membawa risiko yang signifikan. Tidak semua travel gelap memiliki izin operasional, sehingga potensi kecelakaan atau pelanggaran hukum sangat tinggi. Contohnya, kasus kecelakaan di KM 58 Tol Jakarta-Cikampek pada tahun lalu yang melibatkan travel ilegal dan menewaskan 12 orang.
“Travel gelap tidak diatur oleh pihak berwenang, sehingga tidak ada jaminan keselamatan dan kualitas layanan,” kata Wadirlantas Polda Metro Jaya AKBP Argo Wiyono. Ia menambahkan bahwa polisi akan terus memantau dan menindak tegas travel gelap yang beroperasi selama masa mudik.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah daerah dan instansi terkait telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi masalah ini. Misalnya, Pos Pengamanan (Pos Pam) Idulfitri 2025 di Terminal Pare disiapkan untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi para pemudik. Namun, meski pos ini beroperasi, banyak penumpang tetap memilih alternatif lain.
“Kami berharap masyarakat lebih memilih transportasi resmi yang terjamin keselamatannya,” ujar Ipda Juni Hartanto, Perwira Pengendali Pos Pam di Terminal Pare.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta untuk lebih waspada dan memilih layanan transportasi yang legal. “Jangan sampai keuntungan jangka pendek mengorbankan keselamatan diri sendiri dan keluarga,” pesan Ahmad Fauzi, petugas kesehatan yang bertugas di Pos Pam.
Kesimpulan
Terminal Pare yang sepi pada 12 Desember 2025 menjadi cerminan dari tren masyarakat yang lebih memilih travel gelap. Meski praktis dan murah, layanan tersebut tetap membawa risiko yang besar. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk menciptakan sistem transportasi yang aman, efisien, dan terjangkau.
