Supriadi sopir angkot dicerai istri imbas pendapatan kurang, dapat Rp 70 ribu harus setor Rp 80 ribu

Ringkasan Berita:

  • Cerita miris dari sopir angkota di tengah aturan Pemkot Bogor yang akan menghapus angkot-angkot tua usia lebih dari 20 tahun
  • Kehidupan sopir angkot yang kekurangan penghasilan hingga dicerai istri
  • Para sopir angkot nekat tetap beroperasi

Aturan Pemkot Bogor yang akan menghapus angkot-angkot tua usia lebih dari 20 tahun membuat para sopir merasa miris.

Profesi sopir angkot di Kota Bogor memang kian hari kian dirasakan terpuruk.

Hal ini dirasakan Supriadi (52), yang sampai diceraikan istrinya akibat pendapatan yang kurang.

Sepinya penumpang angkot memang terjadi karena berbagai faktor.

Selain banyak warga yang kini punya kendaraan pribadi, ada pula transportasi online, hingga faktor turunnya jumlah pekerja pabrik penumpang angkot yang juga berpengaruh.

“Sekarang susah, angkot udah bener-bener jatoh,” kata Supriadi saat ditemui pada Jumat (2/1/2026).

“Anak saya empat, dicukup-cukupin aja. Makanya sekarang udah pisah (cerai) gegara ekonomi, beneran pisah, serius, udah enam bulan,” imbuhnya, melansir dari TribunBogor.

Dia pun mengaku keluarganya hidup tinggal di kontrakan dengan biaya Rp 1 Juta per bulan.

Jika tidak dibantu anaknya yang sudah besar, Supriadi mengaku sulit membayar biaya kontrakan tersebut.

Setoran Sering Nombok

Selain dirinya, kata Supriadi, banyak sopir-sopir lain di Kota Bogor yang juga hidup mengontrak tak punya rumah.

“Kadang setoran aja nombok, kurang, untung istilahnya yang punya mobil baik-baik, pada ngerti lah. Bawa angkot sekarang bawa duit Rp 50.000 aja udah alhamdulillah, kadang-kadang dapat cukup buat setoran doang,” katanya.

“Tahun baru kemaren aja saya dapet Rp Rp 70.000, sedangkan setoran Rp 80.000, kurang Rp 10.000, saya bawa aja semuanya ke rumah, nanti saya cicil setorannya tiap hari,” kata Supriadi.

Bahkan termasuk setelah di awal tahun 2026 ini, kondisi sulitnya pendapatan sopir angkot masih dirasakan.

“Saya juga mau pulang ini, gak jadi narik, daripada stres nanti narik gak dapat uangnya,” ujar Supriadi.

Di tengah pendapatan sopir angkot yang kini sulit, para sopir angkot Kota Bogor kini juga dihadapkan dengan aturan Pemkot Bogor yang akan menghapus angkot-angkot tua usia lebih dari 20 tahun.

Supriadi mengatakan, jika itu terjadi maka dia akan semakin sulit.

Sebab angkot yang dia gunakan termasuk angkot tua lebih dari 20 tahun.

“Kalau dihapus makin parah, tadinya mobil dua jadi satu, otomatis sopir salah satunya nganggur, cari kerja sekarang susah,” kata Supriadi.

“Kalau bisa mah jangan dikurang-kurangin, yang ada aja dibenahin, karena kalau dikurangin yang lainnya susah jadinya, saya mau usaha apa ?, saya kerjanya cuma sopir doang,” ujarnya.

Salah satu sopir angkot lain, Aprianto (59), mengatakan bahwa kondisi yang dialami Supriadi ini mungkin juga dialami sopir-sopir lainnya.

Dia berharap, pemerintah bisa memperhatikan nasib para sopir angkot dalam membuat kebijakan yang berdampak pada profesi ini.

“Harapan saya kepada pemerintah, coba lah dikaji lagi, bagaimana bagusnya. Kita ini rakyat kecil apapun kebijakan pemerintah kita juga sadari. Tapi tolong lah diperhatikan bagaimana caranya untuk mengelola angkot tua-tua Kota Bogor, kalau begini kan kadang-kadang saya sendiri juga capek,” ungkapnya.

Sopir Angkot Kebingungan

Sejumlah sopir angkot di Kota Bogor memilih tetap beroperasi meski angkotnya sudah melebihi batas usia 20 tahun.

Seperti diketahui, Pemkot Bogor menghapus angkot-angkot tua per 1 Januari 2026 ini yang jumlahnya mencapai 1.940 unit.

Namun, sejumlah sopir angkot yang terdampak tetap memilih beroperasi seperti biasa.

Di antaranya adalah Aprianto (59), salah satu sopir angkot di Bogor Utara, Kota Bogor.

Dia mengaku bahwa angkotnya merupakan salah satu yang terdampak karena beroperasi sejak tahun 2000.

“Saya sementara beroperasi,” kata Aprianto kepada TribunnewsBogor.com, Jumat (2/1/2026).

Dia mengaku tak tahu nasibnya ke depan setelah ada kebijakan Pemkot Bogor tersebut.

Namun sementara ini dia tetap bekerja demi mendapatkan uang untuk keluarga di rumah.

“Gak tahu kalau entar besok di-sweeping besok-besok sementara kita enggak tahu,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa profesi sopir angkot di Kota Bogor memang kini sudah sulit.

Untuk mendapatkan pendapatan bersih Rp 50.000 sehari saja setelah dipotong setoran, sopir sudah bisa bersyukur karena saking beratnya.

Hal ini diduga dipengaruhi oleh turunnya warga yang menggunakan transportasi angkot dari tahun ke tahun.

“Pendapatan sekarang jauh beda dibanding tahun 2000 sekianan, jauh pendapatannya,” katanya.

Untungnya, kata dia, pemilik atau pengusaha angkot memahami akan hal ini ketika pendapatan omzet sopir angkot kini kian berkurang.

Pos terkait