KediriNews.com – Dugaan pencemaran air di wilayah Desa Plosolor, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri kembali memicu kekhawatiran masyarakat. Pada 10 Desember 2025, sejumlah warga melaporkan adanya fenomena aneh: ikan-ikan di sungai dan sumur lokal mati mendadak, sementara air yang keluar dari sumur terlihat keruh dan bau tidak sedap. Peristiwa ini memicu alarm bagi warga setempat dan pihak berwenang.
“Beberapa hari sebelumnya, air dari sumur kami terasa jernih, tetapi tiba-tiba menjadi keruh dan berbau seperti besi atau karat,” ujar Bintoro, salah satu warga setempat. “Setelah dibiarkan selama satu jam, air tersebut bahkan mengendap dan berbusa. Kami sangat khawatir karena air ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.”
Tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri langsung turun tangan untuk menindaklanjuti laporan ini. Menurut Kepala DLH, Putut Agung Subekti, tim telah melakukan pengambilan sampel air di 12 titik lokasi, termasuk 7 sumur warga dan area sekitar timbunan blotong PG. Sampel tanah juga diambil dari perkebunan yang diduga menjadi sumber pencemaran.
“Langkah berikutnya adalah menunggu hasil uji laboratorium untuk melihat kandungan air. Saat ini sampel dibawa ke laboratorium di Mojokerto untuk diperiksa. Kami tunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menyimpulkan (asal cemaran),” kata Putut Agung Subekti dalam wawancara dengan KediriNews.com.
Pencemaran yang Mengancam Kesehatan dan Ekosistem
Pencemaran air bukanlah isu baru di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang dekat dengan industri atau pertanian. Di Kecamatan Plosoklaten, dugaan keterlibatan limbah blotong dari perkebunan PT SGN MKSO Tebu Kebun Dhoho menjadi fokus utama investigasi. Limbah blotong, yang biasanya merupakan sisa-sisa proses pengolahan tebu, sering kali mengandung bahan kimia berbahaya jika tidak dikelola dengan benar.
“Kami masih mencari jalan keluar, apakah perlu di-dropping air bersih atau seperti apa. Karena kebutuhan air bersih masyarakat yang paling penting,” tambah Putut.
Dalam konteks yang lebih luas, pencemaran air di Indonesia sering kali disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak terkendali. Limbah rumah tangga, limbah industri, pertambangan, hingga pestisida dari lahan pertanian terus mencemari air yang menjadi sumber kehidupan. Ironisnya, banyak dari kita masih memandang masalah ini sebagai isu pinggiran, bukan prioritas. Padahal, kerusakan ekosistem dan ancaman kesehatan masyarakat kini kian nyata dan tak terbendung.
Langkah Penanganan dan Solusi Jangka Panjang
Selain pengujian laboratorium, DLH Kabupaten Kediri juga mempertimbangkan solusi darurat bagi masyarakat yang membutuhkan air bersih. Salah satunya adalah pengiriman air minum dari luar daerah hingga hasil uji laboratorium diterima.
“Kami akan terus memantau situasi ini dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar bisa segera memberikan solusi yang efektif,” imbuh Putut.
Di sisi lain, upaya penanganan lingkungan juga perlu dilakukan secara sistematis. Dari studi-studi yang ada, diketahui bahwa limbah domestik dan industri menjadi penyumbang utama pencemaran air. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan limbah serta partisipasi aktif dalam menjaga lingkungan sangat diperlukan.
Kesimpulan dan Harapan
Peristiwa kematian ikan dan pencemaran air di Kecamatan Plosoklaten menjadi peringatan bahwa masalah lingkungan tidak bisa diabaikan lagi. Diperlukan komitmen kuat dari pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk menjaga kualitas air dan ekosistem alami.
Sebagai individu, kita juga memiliki peran yang tidak bisa dianggap remeh. Tindakan sehari-hari seperti mengurangi penggunaan deterjen berbahan fosfat, tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah, hingga mendukung program daur ulang, adalah kontribusi nyata terhadap pelestarian air.
Air adalah sumber kehidupan. Ketika air tercemar, maka kehidupan pun terancam. Indonesia tidak kekurangan inovasi dan solusi, tetapi kekurangan aksi dan ketegasan. Sudah saatnya kita membalik keadaan: dari krisis menuju harapan, dari kelalaian menuju kesadaran.
