Sumatera, NTB, Kalimatan, hingga Pulau Jawa Dilanda Banjir

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sejumlah wilayah di Indonesia dilanda banjir selama dua hari terakhir. Laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) menunjukkan bencana hidrometeorologi terjadi di wilayah Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, hingga Pulau Jawa.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari memaparkan, di Sumatera Selatan, hujan dengan intensitas tinggi sejak Jumat, 9 Januari 2026, menyebabkan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dilanda banjir bandang. Hujan lebat yang terjadi secara merata di wilayah itu membuat 23 desa terendam air. Puluhan desa itu meliputi Kecamatan Belitang III, Belitang II, Semendawai Suku III, dan Belitang Mulya

Abdul mengatakan ketinggian muka air pada awal kejadian mencapai 150 sentimeter. “Sejumlah desa di masing-masing kecamatan mengalami genangan dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari halaman rumah hingga masuk ke dalam bangunan tempat tinggal,” kata dia melalui keterangan resmi pada Senin, 12 Januari 2026.

Berdasarkan data sementara, banjir tersebut berdampak pada sekitar 1.359 kepala keluarga. Abdul menuturkan ribuan warga harus menghadapi genangan air yang merendam rumah mereka, dengan jumlah unit rumah terdampak diperkirakan mencapai 1.359 unit. Karena itu, sejumlah warga terpaksa mengungsi. “Hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa, namun kerugian materiil cukup besar akibat terendamnya rumah dan perabotan warga,” tutur Abdul.

Pada hari yang sama, hujan lebat yang memicu luapan air sungai menyebabkan banjir di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Luapan air sungai itu menggenangi rumah-rumah warga di sekitar bantaran sungai. Berdasarkan hasil pendataan sementara, banjir tersebut berdampak pada sekitar 251 kepala keluarga, dengan rincian 206 keluarga di Desa Taman Baru dan 45 keluarga di Desa Pesisir Mas.

Beralih ke Pulau Kalimantan, bencana banjir meliputi 8 kecamatan dengan total 23 desa terdampak. Beberapa daerah yang terendam banjir ialah Kecamatan Banyuke Hulu, Air Besar, Jelimpo, Menyuke, Mempawah Hulu, Kuala Behe, Menjalin, dan Meranti.

Abdul mengatakan banjir tersebut telah merusak 2.282 unit rumah dan berdampak pada ribuan keluarga dengan angka yang sama. “Sejumlah desa mengalami dampak cukup signifikan, terutama desa-desa yang berada di dataran rendah dan sepanjang aliran sungai,” tutur dia.

Selanjutnya, pada periode yang sama banjir juga terjadi Bengkulu. Di provinsi ini, banjir terjadi di Kabupaten Seluma. Kejadian itu dipicu oleh curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan peningkatan debit air secara signifikan pada saluran pelelangan.

Bencana tersebut berdampak pada wilayah Kecamatan Seluma Utara, tepatnya di Desa Lubuk Resam. Air di wilayah ini merendam sejumlah rumah warga dan lahan pertanian di sekitarnya. “Aktivitas masyarakat sempat terganggu akibat genangan air yang masuk ke lingkungan permukiman,” ujar Abdul.

Sementara itu, banjir di Jawa Tengah menunjukan dampak yang lebih parah. Sebanyak 4.668 rumah di Kabupaten Kudus terendam air selama dua hari terakhir. Tercatat pula sebanyak 65 akses jalan tergenang, beberapa jembatan mengalami gangguan, serta kurang lebih 120,8 hektare areal persawahan terdampak.

Masih di Jawa Tengah, cuaca ekstrem melanda Kabupaten Kendal pada Sabtu, 10 Januari 2026. Kondisi cuaca ekstrem tersebut, kata Abdul, mengakibatkan sejumlah wilayah di Kecamatan Rowosari terdampak. Sejumlah bangunan dan pohon pun tumbang akibat diterjang angin kencang. Jawa Tengah, kata Abdul, saat ini berada pada status siaga darurat bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Terakhir, di Provinsi Jambi, banjir terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur sejak Sabtu malam. Kejadian ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi yang diperparah oleh saluran parit yang tersumbat.

Air yang tidak tertampung oleh sistem drainase itu lantas menyebabkan sejumlah wilayah pemukiman warga tergenang. BPBD setempat masih terus mendata dampak banjir ini.

Abdul memastikan tidak ada korban jiwa dalam rentetan bencana banjir di sejumlah wilayah selama dua hari terakhir tersebut. BNPB, ia menambahkan, mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah rawan banjir, dan cuaca ekstrem, agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan.

Ia meminta masyarakat terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari pemerintah daerah serta BNPB, menjaga kebersihan saluran air dan drainase, serta segera melapor kepada aparat setempat apabila terjadi kondisi darurat.

Pos terkait