SERANGAN WERENG HANCURKAN PADI DI KECAMATAN PAPAR TAHUN 2025: FAKTA DAN SOLUSI

KediriNews.com — Serangan hama wereng cokelat (Nilapavarta lugens) yang melanda ratusan hektare lahan pertanian padi di wilayah perbatasan Kabupaten Trenggalek dan Tulungagung, Jawa Timur menyebabkan banyak petani terancam gagal panen lantaran tanaman padi mereka menunjukkan gejala kerusakan parah. “Tanaman padi menguning, batang melemah, dan bulir tidak berkembang sempurna,” ujar Camat Durenan Ahmad Zuhdan.

Penyebab dan Dampak Serangan Wereng

Petani menggunakan drone untuk menyemprotkan pestisida di sawah

Serangan wereng biasanya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan populasi hama ini. Kelembapan tinggi, curah hujan tak menentu, serta suhu hangat menciptakan kondisi ideal bagi populasi wereng. Selain itu, penggunaan insektisida secara tidak bijak juga memperparah situasi karena membuat wereng kebal dan musuh alami mereka pun ikut musnah.

Dampak serangan wereng sangat merugikan petani. Tanaman padi menjadi kuning, layu, hingga kering total. Kondisi ini dikenal dengan istilah hopperburn, di mana rumpun padi tampak seperti terbakar. Kerugian tidak hanya berupa kehilangan hasil panen, melainkan juga biaya tambahan yang harus dikeluarkan petani untuk penanggulangan.

Upaya Pengendalian yang Dilakukan

Petani bersama petugas telah melakukan berbagai upaya pengendalian, termasuk penyemprotan insektisida secara manual maupun menggunakan drone. Namun, serangan wereng yang masif membuat sebagian petani kewalahan. Beberapa area sawah yang sudah mengering pun menjadi sulit ditangani.

“Wereng musim ini kebal dengan obat hama. Ini sudah disemprot 12 kali tapi werengnya tetap ada bahkan makin banyak. Sekarang coba saya taburi pasir yang dicampur solar, semoga menjadi solusi (wereng pergi),” kata Muali, petani di Desa Kendal.

Strategi Pencegahan dan Pengendalian

Para ahli pertanian selalu menekankan pentingnya Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Prinsip ini menekankan pengelolaan sawah dengan berbagai cara, bukan hanya mengandalkan insektisida. Salah satunya adalah penggunaan varietas tahan wereng. Balai penelitian pertanian di Indonesia telah merilis sejumlah varietas padi yang lebih tahan, seperti beberapa seri Inpari.

Tanam serempak juga terbukti efektif memutus siklus hidup wereng. Jika satu hamparan menanam padi dalam waktu hampir bersamaan, maka wereng tidak memiliki kesempatan untuk berpindah ke sawah lain yang lebih muda. Pola tanam bergilir dengan palawija pun membantu memutus rantai makanan hama ini.

Solusi Alternatif dan Teknologi Pendukung

Selain itu, menjaga keberadaan musuh alami adalah langkah strategis. Laba-laba, capung, kumbang kepik, dan parasitoid merupakan predator alami wereng. Mereka bisa menjaga populasi tetap rendah jika tidak terganggu oleh penggunaan insektisida berlebihan. Oleh karena itu, petani disarankan melakukan penyemprotan hanya ketika populasi wereng sudah melewati ambang kendali.

Insektisida masih menjadi salah satu senjata utama ketika serangan wereng tidak terkendali. Beberapa bahan aktif yang sering digunakan antara lain imidakloprid, tiametoksam, dinotefuran, asetemiprid, fipronil, dan pimetrozin. Masing-masing memiliki cara kerja berbeda, mulai dari sistemik hingga mengganggu perilaku makan wereng.

Namun penggunaan insektisida tidak bisa sembarangan. Populasi wereng yang terus-menerus terpapar satu bahan aktif akan cepat beradaptasi. Hasilnya, serangan di musim berikutnya bisa lebih parah karena hama sudah kebal. Inilah yang membuat petani sering merugi meski sudah mengeluarkan biaya besar untuk pestisida.

Kesimpulan dan Harapan

Mengendalikan wereng bukan pekerjaan sehari dua hari. Dibutuhkan kesadaran kolektif petani dalam satu wilayah untuk menanam serempak, menjaga ekosistem, dan tidak tergoda menyemprot berlebihan. Dukungan dari penyuluh pertanian dan pemerintah daerah juga penting, terutama dalam penyediaan varietas tahan wereng dan edukasi tentang PHT.

Di masa depan, riset pertanian terus diarahkan untuk menghasilkan padi yang lebih tahan hama sekaligus tetap produktif. Inovasi teknologi digital pun mulai digunakan, seperti aplikasi pemantauan hama berbasis satelit atau drone. Harapannya, petani bisa lebih cepat mendeteksi potensi serangan sebelum terlambat.

#WerengPadi #SeranganHama #PertanianIndonesia #GagalPanen #PengendalianHama

Pos terkait