Ringkasan Berita:
- Ramalan zodiak kini banyak dijadikan rujukan anak muda dalam menentukan pasangan hingga keputusan hidup.
- Psikolog Hafizh Mutiara Nisa menjelaskan hal ini berkaitan dengan Barnum Effect, yakni kecenderungan menerima deskripsi umum seolah sangat personal.
- Zodiak masih wajar sebagai hiburan, namun menjadi masalah saat dijadikan pedoman utama yang memicu kecemasan dan ketergantungan.
Laporan Wartawan , Aisyah Nursyamsi
, JAKARTA– Di era media sosial, ramalan astrologi kini tak hanya hadir di majalah atau koran, tetapi juga membanjiri TikTok, Instagram, hingga aplikasi kencan.
Banyak anak muda menjadikan horoskop sebagai referensi dalam menentukan pasangan, pekerjaan, bahkan suasana hati harian.
Namun, muncul pertanyaan penting, apakah percaya pada zodiak merupakan hal yang wajar secara psikologis, atau justru dipengaruhi faktor sosial tertentu?
Psikolog di Klinik Utama Kasih Ibu Sehati, Hafizh Mutiara Nisa, S.Psi., M.Psi., CHt, menjelaskan bahwa dalam psikologi dikenal sebuah konsep yang disebut Barnum Effect.
Yakni, kecenderungan individu menerima deskripsi yang bersifat umum seolah-olah sangat spesifik dan akurat menggambarkan dirinya.
“Dalam psikologi itu ada yang namanya Barnum Effect, di mana seseorang itu cenderung untuk menerima deskripsi umum atau ramalan sebagai hal yang sangat akurat dan spesifik bagi diri mereka,”ungkapnya pada Healthy Talk Tribun Health di kanal YouTube Tribun Health, Rabu (7/1/2026).
Menurut Hafizh, ketertarikan pada zodiak pada dasarnya masih tergolong wajar selama individu tetap mampu mengendalikan diri dan menjalani kehidupan sosial secara normal.
Zodiak menjadi masalah ketika mulai mengambil alih cara seseorang berpikir, merasa, dan mengambil keputusan.
Ia menegaskan bahwa batas kewajaran itu terlampaui ketika zodiak dijadikan sandaran utama dalam menentukan langkah hidup, bukan sekadar hiburan atau refleksi ringan.
“Dan juga menjadi tidak wajar ketika Zodiak ini sebagai sarana untuk pengambilan keputusan, kemudian ketika menjadikan perdoaan hidup,”imbuhnya.
Dalam praktiknya, ketergantungan pada ramalan zodiak dapat memicu dampak psikologis yang tidak sehat.
Beberapa orang justru mengalami kecemasan berlebih karena mempercayai prediksi negatif yang belum tentu terjadi.
Rasa takut, overthinking, dan perasaan tidak nyaman bisa muncul hanya karena membaca satu ramalan.
Kondisi ini dapat diperparah oleh faktor sosial, seperti lingkungan pertemanan yang sama-sama menggantungkan diri pada zodiak, atau rendahnya rasa percaya pada orang-orang di sekitar.
Dalam situasi tersebut, zodiak seolah menjadi “pegangan aman” ketika individu merasa ragu menghadapi realitas.
Namun, Hafizh menekankan bahwa zodiak tidak selalu berdampak negatif.
Ketika diposisikan sebagai hiburan, zodiak justru bisa dimanfaatkan untuk melihat sisi positif diri dan mendorong pengembangan pribadi.
“Nah itu bisa dimanfaatkan untuk pengembangan diri dari si genjet ini sendiri,”lanjutnya.
Masalah muncul ketika zodiak dijadikan pedoman hidup yang kaku.
Ketergantungan ini dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya tanpa validasi ramalan.
Bahkan ragu mengambil keputusan sederhana tanpa terlebih dahulu melihat prediksi zodiaknya.
Hafizh mengingatkan bahwa kehidupan nyata jauh lebih kompleks dibandingkan gambaran zodiak yang bersifat universal.
Masalah personal, dinamika emosi, dan tantangan hidup setiap individu tidak bisa disederhanakan hanya melalui ramalan berbasis tanggal lahir.
Karena itu, penting bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk memiliki literasi psikologis yang sehat.
Mengenali diri sendiri, membangun kepercayaan pada kemampuan pribadi, dan berani mengambil keputusan berdasarkan realitas tetap menjadi kunci utama kesehatan mental.
Hafizh menyarankan masyarakat mulai waspada jika mulai merasa cemas, takut mengambil keputusan, atau menunda aktivitas penting hanya karena menunggu ramalan zodiak tertentu.
Zodiak boleh dibaca, dibagikan, bahkan dinikmati. Namun, kendali hidup tetap berada di tangan individu, bukan pada ramalan.
