KediriNews.com – Di tengah upaya pemerintah daerah dan lembaga seperti Perpustakaan Nasional (Perpusnas) untuk meningkatkan minat baca masyarakat, kondisi perpustakaan daerah di beberapa wilayah masih menunjukkan angka pengunjung yang rendah. Salah satunya adalah di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Meski terdapat berbagai inisiatif untuk memperluas akses literasi, seperti digitalisasi koleksi dan layanan mobil perpustakaan keliling, kekhawatiran akan semakin menurunnya antusiasme masyarakat terhadap membaca tetap menjadi isu yang mengemuka.
Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kediri, diketahui bahwa rata-rata pengunjung perpustakaan daerah di Kecamatan Pare hanya mencapai 30 hingga 50 orang per minggu. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan perpustakaan-perpustakaan besar di kota-kota besar seperti Jakarta atau Malang. “Pengunjung umumnya adalah siswa sekolah dasar dan menengah atas. Mereka datang untuk mencari buku-buku pelajaran,” ujar salah satu petugas perpustakaan setempat.
“Kami juga menyediakan layanan e-Mobilib, namun penggunaannya masih sangat terbatas. Banyak warga yang tidak tahu cara mengakses aplikasi tersebut atau merasa lebih nyaman mengunjungi perpustakaan secara langsung,” tambahnya.
Faktor Penyebab Minat Baca Rendah
Menurut data dari Perpusnas, minat baca masyarakat Indonesia masih rendah, bahkan masuk dalam kategori terendah di Asia Tenggara. Dalam riset UNESCO tahun 2017, hanya 0,001% dari populasi Indonesia yang rajin membaca. Hal ini menunjukkan bahwa masalah literasi tidak hanya terjadi di daerah tertentu, tetapi juga menjadi tantangan nasional.
Di Kecamatan Pare, beberapa faktor utama penyebab rendahnya minat baca antara lain:
-
Kurangnya kesadaran akan pentingnya literasi
Banyak warga masih menganggap membaca sebagai aktivitas yang tidak mendesak. Mereka lebih memilih menonton televisi, bermain gawai, atau melakukan pekerjaan sehari-hari daripada membaca buku. -
Keterbatasan koleksi buku yang relevan
Meskipun perpustakaan memiliki ratusan judul buku, banyak di antaranya tidak sesuai dengan minat dan kebutuhan masyarakat. Buku-buku yang tersedia cenderung bersifat akademik, sedangkan buku-buku populer, fiksi, atau edukasi tentang teknologi dan bisnis jarang ditemukan. -
Fasilitas yang kurang memadai
Ruang baca yang disediakan terkesan sempit dan tidak nyaman. Beberapa pengunjung mengeluhkan kurangnya pencahayaan dan ventilasi yang baik, serta kurangnya fasilitas pendukung seperti tempat duduk dan meja belajar. -
Tidak adanya program promosi atau kegiatan literasi
Perpustakaan daerah di Pare belum memiliki program rutin yang menarik minat masyarakat. Misalnya, tidak ada acara baca bersama, diskusi buku, atau workshop menulis yang bisa membangun komunitas pembaca.
Upaya yang Dilakukan
Meski situasi saat ini masih memprihatinkan, pihak perpustakaan dan pemerintah setempat telah berupaya keras untuk meningkatkan minat baca. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
-
Meningkatkan kolaborasi dengan sekolah dan universitas
Perpustakaan daerah Pare bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk mengadakan kegiatan literasi, seperti lomba menulis, baca puisi, dan seminar tentang manfaat membaca. -
Memperluas akses melalui digitalisasi
Pihak perpustakaan sedang mengembangkan sistem e-Library yang dapat diakses oleh masyarakat secara online. Dengan demikian, warga yang tidak memiliki waktu atau kesempatan untuk datang ke perpustakaan tetap bisa mengakses bacaan favorit mereka. -
Mengadakan pelatihan bagi pustakawan
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pemahaman pustakawan terhadap kebutuhan pengunjung. Dengan pustakawan yang lebih profesional, diharapkan dapat memberikan pengalaman baca yang lebih menarik. -
Mendorong partisipasi masyarakat melalui lomba video literasi
Seperti yang diumumkan dalam lomba video literasi dan promosi ruang baca UNESA 2025, kegiatan ini bisa menjadi ajang untuk memperkenalkan perpustakaan kepada generasi muda. Dengan kreativitas, harapan besar tercipta kesadaran bahwa perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tapi juga ruang kreativitas dan pengembangan diri.
Kritik dan Harapan
Namun, meski begitu, masih banyak kritik yang muncul dari masyarakat. Salah satu pengunjung, Siti Aminah (45), mengatakan: “Saya sering datang ke perpustakaan, tapi rasanya tidak ada yang istimewa. Buku-bukunya biasa saja, dan tidak ada acara menarik yang bisa saya ikuti.”
Ia berharap perpustakaan daerah Pare bisa menjadi lebih dinamis, seperti perpustakaan di kota-kota besar. “Jika perpustakaan bisa menawarkan sesuatu yang baru, mungkin lebih banyak orang yang mau datang,” katanya.
Di sisi lain, para ahli seperti Luki Wijayanti, dosen Ilmu Perpustakaan UI, menilai bahwa perpustakaan harus menjadi ruang publik yang demokratis dan inklusif. “Perpustakaan harus mampu memenuhi kebutuhan informasi dan keterampilan masyarakat, bukan hanya menyimpan buku,” ujarnya.
Kesimpulan
Minat baca yang rendah di Kecamatan Pare dan daerah-daerah lain di Indonesia memang menjadi tantangan besar. Namun, dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, diharapkan dapat tercipta perubahan positif. Perpustakaan daerah tidak lagi dianggap sebagai tempat yang sepi, melainkan sebagai pusat pengembangan literasi dan kreativitas yang vital bagi masyarakat.
