Pengrajin Tenun Ikat di Bandar Kidul Kecamatan Mojoroto: Melestarikan Warisan Budaya pada 12 Januari 2025

KediriNews.com – Di tengah tantangan modernisasi, pengrajin tenun ikat di Bandar Kidul Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tetap berupaya mempertahankan warisan leluhur mereka. Pada 12 Januari 2025, para pengrajin ini akan menggelar acara khusus untuk menunjukkan keahlian mereka dalam memproduksi kain tenun yang memiliki nilai budaya dan ekonomi tinggi. Acara ini tidak hanya menjadi momen pelestarian budaya, tetapi juga ajang promosi yang akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya seni tenun ikat.

Tenun ikat merupakan salah satu bentuk kerajinan tradisional yang memiliki makna filosofis dan estetika tinggi. Di Bandar Kidul, proses pembuatannya melibatkan teknik khusus yang turun-temurun dari generasi ke generasi. Menurut sumber dari Pemkot Kediri, industri tenun ikat di wilayah ini telah berkembang sejak zaman penjajahan Belanda. Awalnya, tenun ikat dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM), dan kini masih digunakan oleh banyak pengrajin sebagai simbol kesenian asli daerah.

“Kami selalu berusaha menjaga tradisi ini agar tidak punah. Setiap helai kain tenun ikat membawa cerita dan nilai-nilai budaya yang perlu dijaga,” ujar Siti Rohmah, salah satu pengrajin ternama di Bandar Kidul.

Proses pembuatan kain tenun ikat melibatkan beberapa tahapan. Pertama, benang-benang dipilih dan dicelupkan dengan warna alami seperti daun jambu atau kulit manggis. Selanjutnya, benang tersebut diikat sesuai motif yang diinginkan, lalu ditenun menggunakan alat ATBM. Setiap motif memiliki makna tersendiri, mulai dari simbol keberanian hingga keharmonisan alam.

Berikut adalah beberapa tahapan utama dalam pembuatan kain tenun ikat:

  1. Pemilihan Benang

    Benang yang digunakan berasal dari serat kapas atau sutra, yang dipilih sesuai dengan kebutuhan desain.

  2. Pewarnaan

    Pewarnaan dilakukan dengan bahan alami seperti daun, buah, atau akar tanaman untuk memberikan warna yang tahan lama dan ramah lingkungan.

  3. Pengikatan Motif

    Benang diikat dengan tali rafia atau kain untuk menciptakan pola tertentu, sehingga saat dicelup, bagian yang diikat tidak menyerap warna.

  4. Pencelupan

    Benang yang telah diikat diberi warna sesuai desain, dan setelah kering, tali pengikat dilepas.

  5. Penenunan

    Kain akhirnya ditenun menggunakan alat ATBM, yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Selain itu, tenun ikat Bandar Kidul juga memiliki keunikan dalam hal warna dan motif. Warna-warna yang digunakan biasanya khas daerah, seperti biru tua, merah, dan kuning. Motif yang sering muncul antara lain “Goyor Kembang”, “Sarung Palikat”, dan “Motif Bunga”.

Dalam beberapa tahun terakhir, tenun ikat Bandar Kidul semakin dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional. Bahkan, produk ini sudah diekspor ke Jepang dan Timur Tengah. Hal ini membuktikan bahwa karya seni ini memiliki daya tarik yang tinggi dan mampu bersaing di pasar global.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kediri, permintaan kain tenun ikat meningkat sebesar 15% dalam dua tahun terakhir. Ini menjadi peluang besar bagi para pengrajin untuk meningkatkan produksi dan pemasaran. Dengan adanya inovasi dalam desain dan pemanfaatan media sosial, kain tenun ikat Bandar Kidul semakin mudah diakses oleh konsumen di berbagai daerah.

“Pengrajin tenun ikat harus terus berinovasi dan memperluas pasar. Kami juga berharap dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan dan promosi,” tambah Siti Rohmah.

Acara pada 12 Januari 2025 akan menjadi momentum penting bagi para pengrajin untuk menunjukkan keahlian mereka. Selain pameran kain, acara ini juga akan menyajikan demo tenun langsung, serta diskusi tentang strategi pemasaran dan pengembangan usaha.

Dengan upaya mempertahankan warisan leluhur, pengrajin tenun ikat di Bandar Kidul Kecamatan Mojoroto menunjukkan bahwa budaya lokal bisa tetap hidup dan berkembang di tengah era modern.

tenunikat #bandarkidul #mojoroto #kediri #budayaindonesia #warisanleluhur

Pos terkait