KediriNews.com – Penemuan arca Ganesha di sawah Kecamatan Badas pada 7 Desember 2025 kembali menghebohkan dunia budaya dan sejarah. Arca yang ditemukan dalam kondisi tersembunyi di lahan pertanian ini menjadi salah satu bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat peradaban kuno. Sejarah penemuan ini bermula dari sebuah kejutan tak terduga yang berawal dari aktivitas sederhana warga setempat.
-
Dari Sawah ke Sejarah
Kisah penemuan arca Ganesha dimulai pada tahun 2008, ketika tiga warga Dusun Babadan, Desa Sumber Cangkring, Kecamatan Gurah, sedang menggali tanah untuk membuat batu bata. Tidak disangka, cangkul Syai’in mengenai benda keras yang ternyata adalah fragmen gapura candi dengan relief Kala. Benda tersebut memiliki ukuran 48 sentimeter panjang, 35 sentimeter tebal, dan 45 sentimeter lebar. Penemuan ini menjadi awal dari serangkaian temuan bersejarah di lahan sawah Babadan. -
Temuan Demi Temuan
Dua hari setelahnya, para penggali kembali menemukan benda lain, yaitu arca Dwarapala setinggi 98 sentimeter. Pada Minggu (7/9/2008), mereka menemukan arca kepala dewa setinggi 48 sentimeter. Dan akhirnya, sekitar satu meter di bawah kepala dewa itu muncullah fragmen arca Ganesha. Meski ukurannya kecil, hanya 16 sentimeter tingginya, fragmen ini diyakini menyimpan makna besar karena Ganesha dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
-
Arkeolog Menyibak Misteri
Temuan warga segera dilaporkan kepada pihak berwenang. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan segera turun tangan. Kepala BP3 saat itu, I Made Kusumajaya, mengungkap bahwa area persawahan Babadan menyimpan indikasi kuat adanya struktur candi. “Selain fragmen dan arca, ada sungai kecil, dua umpak batu, dan banyak bata kuno yang berserakan. Semua ini mengindikasikan adanya bangunan candi di bawah tanah,” ungkap Made. -
Jejak Kerajaan Kadiri
Arkeolog menduga situs Babadan merupakan bagian dari peninggalan Kerajaan Kadiri, salah satu kerajaan besar di Jawa Timur abad ke-11 hingga ke-12. Fragmen yang ditemukan, termasuk kepala Ganesha, diperkirakan rusak akibat bencana alam. Temuan ini juga memiliki kemiripan dengan benda-benda bersejarah di Situs Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, yang ditemukan setahun sebelumnya pada 2007. -
Dari Lahan Sawah ke Museum
Fragmen kepala Ganesha kemudian menjadi salah satu koleksi penting di Museum Bagawanta Bhari, Kediri. Benda mungil itu disimpan, dipamerkan, dan dikisahkan kepada publik sebagai bagian dari warisan panjang Kerajaan Kadiri. Namun nasib berkata lain. Pada 30 Agustus 2025, ketika massa melakukan aksi anarki di Gedung DPRD dan Kantor Pemerintah Kabupaten Kediri, museum ikut menjadi sasaran penjarahan.
-
Hilang dan Kembali Ditemukan
Fragmen kepala Ganesha dilaporkan hilang. Namun, pada Kamis (4/9/2025), dua pelajar SMKN Ngasem, Salman Al-Farisi dan Ahmad Rifqi Fakhruddin, menemukan benda itu di pinggir jalan dekat parkiran sekolah. Setelah memastikan identitasnya, mereka langsung mengembalikannya ke Pemkab Kediri. “Alhamdulillah utuh,” ujar Mustika Prayitno Adi, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Kediri. -
Makna dan Nilai Sejarah
Arca Ganesha yang ditemukan di sawah Kecamatan Badas memiliki nilai historis dan arkeologis yang tinggi. Selain menjadi petunjuk tentang sejarah Kerajaan Kediri Kuno, arca ini juga menjadi simbol rapuhnya pelestarian sejarah di tengah hiruk pikuk zaman. Penemuan kembali arca ini menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya tetap tinggi.
#ARCA_GANESHA #Sejarah_Kediri #Budaya_Jawa #Penemuan_Arkeologi #Museum_Bagawanta_Bhari
