KediriNews.com – Cuaca panas ekstrem dengan suhu mencapai 38 derajat Celsius menghiasi kehidupan warga Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada siang hari, 10 Desember 2025. Fenomena ini menimbulkan keluhan berbagai masyarakat setempat yang mengaku kesulitan menghadapi kondisi cuaca yang tidak biasa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi bahwa kondisi cuaca seperti ini bisa terjadi hingga akhir Oktober atau awal November 2025. Meski khususnya untuk wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, informasi ini juga relevan bagi wilayah Jawa Timur, termasuk Kecamatan Pare.
“Cuaca panas ekstrem ini disebabkan oleh posisi gerak semu matahari yang berada di selatan ekuator, sehingga penyinaran matahari lebih intens di wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan,” jelas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dalam pernyataannya.
- Dampak Langsung pada Masyarakat
Warga Kecamatan Pare mengeluhkan rasa gerah yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa dari mereka mengatakan, suhu yang mencapai 38°C membuat tubuh mudah lelah dan sulit untuk melakukan pekerjaan luar ruangan.
“Pagi-pagi sudah gerah, apalagi siang hari. Saya harus bekerja di luar rumah, tapi rasanya seperti terbakar,” ujar Siti, seorang petani di daerah tersebut.
- Peringatan dari BMKG
BMKG merekomendasikan agar masyarakat menjaga kecukupan cairan tubuh dan menghindari paparan sinar matahari langsung dalam durasi lama. Selain itu, penggunaan pelindung seperti topi, payung, atau tabir surya juga dianjurkan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai kilat dan angin kencang,” tambah Ardhianto Septiadhi, Kepala Stasiun Geofisika Sleman, dalam konferensi pers daring beberapa waktu lalu.
- Langkah Antisipasi yang Dilakukan
Meskipun cuaca ekstrem belum menyebabkan bencana besar, pihak pemerintah setempat dan instansi terkait telah meningkatkan kewaspadaan. BPBD Kabupaten Kediri melalui koordinasi dengan BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan memberikan informasi kepada masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk memperhatikan kesehatan dan menghindari aktivitas berlebihan di luar ruangan saat cuaca panas. “Kami menyarankan agar warga mengurangi aktivitas fisik di siang hari dan tetap menjaga pola hidup sehat,” ujar salah satu perwakilan BPBD setempat.
- Dampak Terhadap Sektor Pertanian
Panas ekstrem juga berdampak pada sektor pertanian, terutama tanaman yang rentan terhadap kekeringan. Petani di Kecamatan Pare mengeluhkan hasil panen yang kurang optimal karena kondisi cuaca yang tidak stabil.
“Tanaman kami mulai layu dan tidak tumbuh maksimal. Kami khawatir produksi akan menurun,” ujar Iwan, seorang petani setempat.
- Perlu Kolaborasi dan Kesadaran Bersama
Untuk menghadapi cuaca ekstrem, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan instansi terkait. Pemantauan cuaca secara berkala, edukasi masyarakat tentang cara menghadapi panas ekstrem, serta peningkatan infrastruktur penunjang kesehatan dan lingkungan menjadi langkah penting.
“Kita semua harus bersama-sama menghadapi tantangan cuaca ekstrem ini. Dengan kesadaran dan kesiapan yang baik, risiko bencana bisa diminimalkan,” kata Ardhianto Septiadhi.
#PanasEkstrem #KecamatanPare #CuacaEkstrem #BMKG #KesehatanMasyarakat
