Oleh:
AKP Sosra Antoni A.Md., Han.
Ringkasan Berita:
- Ketika Jepang masuk ke Indonesia, para polisi yang sebelumnya bekerja di bawah pemerintahan kolonial Belanda tetap menjalankan tugasnya.
- Oemar Gatab adalah bagian dari generasi polisi intelijen yang ditempa oleh situasi sulit.
DALAM perjalanan panjang bangsa ini, ada sosok yang bekerja dalam senyap, namun jasanya menentukan arah keselamatan negara.
Ia adalah Raden Mas Muhammad Oemar Gatab — sosok yang dikenang sebagai Bapak Intelijen Kepolisian Indonesia.
Nama Oemar Gatab kerap dibicarakan dalam sejarah intelijen nasional. Ada pula arsip yang menuding dirinya pernah menjadi kaki tangan Belanda.
Namun sejarah tak selalu hitam dan putih. Ia adalah seorang polisi sejati, yang mengabdi pada negara dan masyarakat, di tengah perubahan zaman dan pergantian kekuasaan.
Ketika Jepang masuk ke Indonesia, para polisi yang sebelumnya bekerja di bawah pemerintahan kolonial Belanda tetap menjalankan tugasnya.
Begitu pula saat masa Revolusi, ketika suatu wilayah kembali diduduki Belanda, para polisi Republik tetap bertugas menjaga ketertiban.
Di mana pun dan kapan pun, seorang polisi terikat pada satu sumpah pengabdian: menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, siapa pun pemerintah yang berkuasa.
Oemar Gatab adalah bagian dari generasi polisi intelijen yang ditempa oleh situasi sulit.
Berpengalaman sejak masa pendudukan Jepang, ia berpangkat Inspektur dan bertugas di wilayah Banyumas.
Keteguhan sikap dan kemampuannya membaca situasi menjadikannya dipercaya memegang peran strategis.
Pada tahun 1948, Oemar Gatab menjabat sebagai Kepala Bagian Pengawasan Aliran Masyarakat atau PAM yang berkedudukan di Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu.
PAM dibentuk untuk menggantikan Polisi Bagian Politik atau PBP, dengan tugas mengawasi aliran-aliran yang berpotensi membahayakan negara, serta membangun kerja sama dengan masyarakat.
Indonesia dengan tegas menolak konsep Polisi Politik ala kolonial, seperti Politieke Inlichtingen Dienst atau PID.
PAM hadir bukan untuk menekan, melainkan untuk mencegah konflik dan menjaga keutuhan bangsa dan Negara.
Beberapa bulan sebelum pecahnya Peristiwa Madiun 1948, Oemar Gatab telah mencium adanya ketegangan antara kelompok sayap kiri dan sayap kanan.
Ia menyampaikan kekhawatiran itu kepada pemerintah, sebagai bentuk kewaspadaan dan tanggung jawab moral seorang intelijen.
Tak hanya itu, PAM juga berperan dalam penanggulangan berbagai gerakan separatis di tanah air, termasuk gerakan APRA yang dipimpin Westerling.
Semua dilakukan demi satu tujuan: menjaga persatuan Indonesia yang baru merdeka.
Dari PAM hingga Intelkam pada tahun 1951
PAM bertransformasi menjadi Dinas Pengawasan Keselamatan Negara atau DPKN, berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah tanggal 13 Maret 1951.
Umar Gatab tetap dipercaya memimpin lembaga tersebut.
DPKN terus memantau dinamika politik dan keamanan nasional yang berkembang pada era 1950-an.
Sebagai tokoh sentral intelijen kepolisian, Oemar Gatab tercatat oleh Ken Conboy dalam buku Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia sebagai anggota penting Badan Koordinasi Intelijen atau BKI yang dibentuk pada 5 Desember 1958.
Di lembaga itu, Oemar mewakili unsur Kepolisian.
Seiring perjalanan waktu, DPKN berubah menjadi Korps Polisi Security atau KPS, kemudian menjadi Korps Intelijen, lalu Direktorat Intelijen dan Security, hingga akhirnya dikenal sebagai Direktorat Intelijen dan Keamanan saat Polri tergabung dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Pada tahun 2002, ketika Badan Kordinasi Intelijen atau BAKIN bertransformasi menjadi BIN.
Direktorat Intelijen dan Keamanan Polri pun menjadi Badan Intelijen dan Keamanan Polri atau Baintelkam, yang hingga kini dikenal luas sebagai Intelkam.
Kisah Humanis Oemar Gatab di balik ketegasan dan peran strategisnya
Oemar Gatab juga menyimpan kisah sederhana yang penuh kehangatan.
Suatu ketika, ia ditugaskan mencari pematung untuk membuat patung Gajah Mada di depan Markas Besar Kepolisian.
Karena tidak ada satu pun foto asli Gajah Mada, Oemar Gatab diam-diam meminjam foto Muhammad Jasin, Komandan Brigade Mobil saat itu.
Foto tersebut diberikan kepada pematung. Jadilah patung Gajah Mada yang wajahnya sangat mirip Muhammad Jasin.
Setelah patung diresmikan pada Hari Ulang Tahun Polri, 1 Juli 1959, Oemar Gatab dengan rendah hati meminta maaf kepada Jasin dan memohon agar kisah itu dirahasiakan.
Oemar Gatab pensiun dengan pangkat terakhir Inspektur Jenderal Polisi. Ia menghabiskan masa tuanya di kawasan Menteng, Jakarta.
Di sanalah, putra tunggalnya, Indrodjojo Kusumonegoro yang dikenal Indro Warkop, tumbuh dan kelak dikenal sebagai penyiar radio, pelawak, dan aktor nasional.
Pengakuan Indro:
“Bapak gua pendiri intel di Indonesia, Dinas Pengawasan Keselamatan Negara yang akhirnya dipegang Angkatan Darat jadi BIN,” kata Indro Warkop yang dimuat Youtube Helmy Yahya Bicara.
Oemar Gatab lahir pada 8 Juni 1912, wafat pada 20 Maret 1968, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
“Warisan pemikiran dan strategi beliau terus hidup, menjadi fondasi bagi sistem intelijen Indonesia hingga hari ini.”
Tanggal 2 Januari 1946 merupakan awal operasi intelijen dan pengawalan pemindahan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarga dari Jakarta menuju Jogyakarta dalam rangka pemindahan ibukota Republik Indonesia, jadilah hari Intelijen.
“Selamat Hari Jadi Intelkam Polri ke-80.”
Jaya selalu Kepolisian Republik Indonesia.
Satya Haprabu.
Indra Waspada, Negara Raharja. (*)
Sumber:
– goodnewsfromindonesia.id
– tirto.id
– warfare.apparel
– divisi humas polri
