Natal syahdu di Gereja Ortodoks Gaza, di tengah ancaman bom Israel

.CO.ID, JAKARTA — Umat Kristen Ortodoks di Gaza akhirnya dapat merayakan Malam Natal Ortodoks Timur dengan doa pada Selasa (6/1) malam, untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun sejak perang melanda wilayah tersebut. Perayaan ini menjadi simbol ketahanan iman di tengah kehancuran yang belum usai.

Komunitas Kristen di Gaza, yang merupakan minoritas kecil dengan perkiraan jumlah hanya sekitar 1.000 penganut dari total populasi lebih dari 2 juta jiwa, hidup dalam penderitaan yang sama dengan tetangga Muslim mereka. Seperti semua warga Gaza, mereka menghadapi ancaman kematian, kehilangan tempat tinggal, dan keputusasaan akibat perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Perayaan ini mengikuti Kalender Julian atau sering disebut Kalender Timur, yang digunakan oleh banyak gereja Ortodoks. Kalender ini tertinggal sekitar 13 hari dari Kalender Gregorian (Barat) yang lebih umum dipakai secara internasional, sehingga perayaan Natal jatuh pada tanggal 6-7 Januari, sebagaimana diberitakan TRT World.

Pohon Natal dinyalakan di halaman Gereja Ortodoks Yunani St. Porphyrius, salah satu gereja Kristen tertua di dunia yang dipercaya telah berdiri sejak abad ke-5. Gereja bersejarah ini, yang namanya diambil dari Uskup Gaza abad ke-5, telah berulang kali menjadi tempat perlindungan bagi warga sipil dari segala keyakinan selama konflik. Natal diselenggarakan di sana karena gereja ini merupakan pusat spiritual utama bagi komunitas Ortodoks Yunani di Gaza sekaligus simbol ketahanan fisik dan iman yang telah bertahan melalui berbagai zaman.

“Natal tahun ini datang dengan harapan baru bahwa tahun mendatang akan menandai berakhirnya penderitaan, dimulainya penyembuhan bagi Gaza dan kembalinya ketenangan ke setiap rumah,” kata Metropolitan Alexios, vikaris patriarkal di Gaza, sebagaimana diberitakan Reuters.

“Pohon Natal itu bukan sekadar hiasan, tetapi sebuah doa yang bersinar yang menyatakan kepada dunia bahwa rakyat Gaza masih percaya pada kehidupan, cinta, dan kelahiran kembali perdamaian.”

Namun, sukacita itu tertutup awan duka yang pekat. Bagi warga Gaza, perayaan Natal kali ini memiliki makna yang sangat dalam dan pahit. Ini adalah pernyataan bertahan hidup dan keimanan di tengah kepedihan, sebuah upaya untuk mempertahankan normalitas dan harapan saat segala sesuatu di sekitar mereka hancur. Setiap doa dan nyala lilin adalah bentuk perlawanan terhadap keputusasaan.

Tragisnya, seperti semua penduduk Gaza, komunitas Kristen tidak luput dari serangan. Menurut data Palestina, setidaknya 20 orang Kristen tewas dan tiga gereja dibom, termasuk St. Porphyrius yang beberapa kali diserang. Salah satu serangan paling mematikan pada 19 Oktober 2023 menewaskan setidaknya 18 warga Palestina yang berlindung di dalamnya.

Patriarkat Ortodoks Yunani menyebut penerangan pohon Natal di tengah penderitaan dan kehancuran sebagai tindakan yang “mengandung di dalamnya sebuah doa untuk kehidupan, martabat, dan perdamaian.”

 

Elias Al-Jilda, anggota dewan gereja, menggambarkan perayaan terbatas tahun ini sebagai “pembukaan yang hati-hati” setelah dua tahun vakum. “Meskipun berhasil menyalakan pohon Natal dan mengadakan doa, kesedihan mendalam tetap ada bagi Gaza yang hancur dan bagi mereka yang telah tiada,” katanya. “Kebahagiaan tidak akan lengkap selama orang-orang masih tinggal di tenda.”

Lebih dari 85 persen umat Kristen Gaza telah kehilangan rumah mereka dan kini menjadi pengungsi, bahkan tinggal di dalam gereja-gereja yang beralih fungsi menjadi tempat penampungan. Ritual Natal, kata Jilda, kini terbatas pada “doa di dalam gereja” sebagai “pesan harapan dan kasih sayang yang menyerukan agar perang dan pendudukan berakhir.”

Yazan Ayad, seorang warga Gaza, menggambarkan betapa kondisi bencana telah menghapus kegembiraan. “Segala sesuatu di sekitar kita hancur dan pengeboman terus berlanjut,” ujarnya. “Doa akan dipanjatkan untuk setiap keluarga yang kehilangan orang yang dicintai, setiap ibu yang menunggu kabar yang menenangkan tentang anaknya, dan setiap anak yang tertidur dalam ketakutan.”

Harapannya sederhana namun mendasar: bantuan tanpa hambatan, perlindungan bagi rumah sakit dan tempat ibadah, akses air dan obat-obatan, serta kehidupan normal di mana orang dapat beribadah dengan tenang dan berkumpul tanpa rasa takut. “Doa kami panjatkan untuk seluruh Gaza, baik Kristen maupun Muslim,” kata Ayad.

Konflik yang telah berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 71.400 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 lainnya. Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan masih terus berlanjut, menewaskan ratusan warga Palestina tambahan menurut catatan Kementerian Kesehatan setempat. Di tengah statistik mengerikan itu, nyala pohon Natal di St. Porphyrius adalah saksi bisu sebuah komunitas yang menolak untuk padam.

Saudi Gelontorkan Bantuan

Pusat Bantuan dan Kemanusiaan Raja Salman (KSrelief) terus menunjukkan komitmennya dalam meringankan penderitaan warga Palestina melalui pendistribusian bantuan makanan bagi para pengungsi di bagian selatan Jalur Gaza.

Inisiatif ini merupakan bagian dari kampanye resmi Kerajaan Arab Saudi untuk mendukung rakyat Palestina di tengah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

Pada Selasa (6/1/2026), tim lapangan Pusat Kebudayaan dan Warisan Saudi, yang menjadi mitra KSrelief di Jalur Gaza, mendistribusikan paket makanan kepada para pengungsi yang kehilangan rumah serta sumber pendapatan akibat konflik.

 

Bantuan darurat ini sangat krusial untuk meringankan beban para pengungsi, sekaligus memastikan ketersediaan makanan dan kebutuhan pokok di tengah kondisi yang semakin sulit.

Langkah tersebut juga memperkuat peran sentral Kerajaan Arab Saudi dalam upaya kemanusiaan global, mewujudkan prinsip-prinsip kemanusiaan serta menegaskan komitmen moral yang mendalam terhadap rakyat Palestina yang sedang menderita.

Sehari sebelumnya, pada Senin (5/1/2026), KSrelief telah mendirikan kamp pengungsian baru di Kota Gaza untuk menampung keluarga-keluarga yang kembali dari pengungsian paksa di wilayah tengah dan selatan setelah rumah mereka hancur total akibat konflik berkepanjangan.

Kamp baru tersebut didirikan di lingkungan Tel Al-Hawa, salah satu kawasan di Kota Gaza yang paling parah terdampak kerusakan.

Para pemimpin Arab Saudi telah menginstruksikan peningkatan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melalui berbagai jalur, termasuk udara, laut, dan darat.

Kebijakan ini diambil sebagai respons langsung terhadap memburuknya situasi kemanusiaan di wilayah tersebut, dengan seluruh bantuan disalurkan melalui Kampanye Arab Saudi untuk Mendukung Rakyat Palestina.

Kepala KSrelief, Abdullah bin Abdulaziz Al Rabeeah, dalam pernyataan kepada Saudi Press Agency (SPA), menegaskan bahwa arahan tersebut merupakan kelanjutan dari komitmen kemanusiaan Kerajaan Arab Saudi dalam membantu warga Palestina yang terdampak krisis di Jalur Gaza.

Pos terkait