KediriNews.com – Di tengah krisis hama lalat buah yang semakin mengancam tanaman buah-buahan di berbagai daerah, para petani jambu di Kecamatan Banyakan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, memutuskan untuk melakukan tindakan drastis. Pada 11 Desember 2025, para petani ini memutuskan untuk membungkus seluruh buah jambu mereka dengan bahan pelindung agar terhindar dari serangan hama tersebut.
“Kami tidak bisa lagi menunggu. Serangan lalat buah sudah sangat parah dan mengancam hasil panen kami,” ujar Suryadi, salah satu petani jambu di wilayah tersebut. Ia menjelaskan bahwa serangan hama ini membuat banyak buah jambu rusak sebelum dipanen, sehingga mengurangi nilai jual dan pendapatan para petani.
Perkembangan Hama Lalat Buah di Wilayah Banyakan
Lalat buah (Bactrocera spp.) adalah hama yang sangat merugikan bagi petani karena mampu merusak buah secara langsung. Dalam siklus hidupnya, lalat betina menyuntikkan telur ke dalam buah yang sedang berkembang. Telur ini akan menetas menjadi larva yang kemudian merusak daging buah, sehingga buah menjadi busuk dan tidak layak konsumsi.
Di Kecamatan Banyakan, serangan lalat buah telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Menurut data dari Balai Penyuluhan Pertanian setempat, penyebaran hama ini meningkat pesat akibat kondisi iklim yang cukup lembab dan suhu yang stabil, yang merupakan lingkungan ideal bagi perkembangan lalat buah.
“Kami melihat adanya peningkatan jumlah lalat buah di areal persawahan dan perkebunan jambu. Ini sangat mengkhawatirkan,” kata Amin, petugas penyuluh pertanian di Kecamatan Banyakan.
Tindakan Preventif yang Dilakukan Petani
Untuk menghadapi ancaman ini, para petani jambu di Kecamatan Banyakan memilih cara yang agak unik. Mereka memutuskan untuk membungkus buah jambu dengan plastik atau kain khusus. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah lalat betina bertelur di dalam buah.
“Saya sudah mencoba metode ini sejak beberapa minggu lalu. Hasilnya cukup baik, meski butuh pengorbanan waktu dan biaya,” tambah Suryadi. Ia menjelaskan bahwa proses pembungkusan ini dilakukan secara manual, sehingga membutuhkan tenaga kerja tambahan.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Meskipun tindakan ini memberikan efek positif, ada juga tantangan yang dihadapi oleh para petani. Salah satunya adalah biaya produksi yang meningkat. Selain itu, penggunaan plastik sebagai bahan bungkus juga menimbulkan isu lingkungan, karena dapat menimbulkan sampah plastik jika tidak dikelola dengan baik.
Namun, bagi para petani, hal ini dianggap sebagai pilihan terbaik dibandingkan harus menerima kerugian besar akibat serangan hama. “Kami lebih memilih mengeluarkan sedikit biaya daripada kehilangan seluruh hasil panen,” ujar Suryadi.
Pandangan Ahli dan Solusi Alternatif
Menurut Dr. I Gede Sila Adnyana, ahli pertanian dari BPP Kecamatan Sukasada, tindakan membungkus buah adalah langkah sementara yang bisa dilakukan. Namun, ia menyarankan agar petani juga mempertimbangkan metode pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.
“Selain pembungkusan, petani bisa menggunakan perangkap feromon atau pestisida alami seperti neem oil. Ini lebih efektif dan aman untuk lingkungan,” katanya.
Langkah Kolaborasi Antara Petani dan Pemerintah
Menghadapi ancaman lalat buah yang semakin mengancam, kolaborasi antara petani dan pemerintah daerah menjadi penting. Di beberapa daerah, seperti Sumatera Utara, pemerintah provinsi sudah mulai mengambil langkah-langkah preventif, termasuk pendataan lahan dan penguatan teknologi pertanian.
Di Kecamatan Banyakan, para petani berharap pemerintah setempat bisa memberikan dukungan lebih lanjut, baik dalam bentuk pelatihan pengendalian hama maupun bantuan modal.
“Pemerintah harus hadir di tengah-tengah petani. Kami hanya ingin bisa bertani dengan aman dan nyaman,” tutup Suryadi.
