Ketupat Opor: Makanan Wajib Idul Fitri di Kecamatan Pare pada 10 Desember 2025

KediriNews.com – Di tengah keriuhan perayaan Idul Fitri yang jatuh pada 10 Desember 2025, masyarakat Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, kembali mempersiapkan tradisi unik yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari momen berkumpul keluarga. Salah satu hidangan yang selalu hadir dalam meja makan adalah Ketupat Opor. Dengan aroma rempah yang khas dan rasa lezat yang menggugah selera, kedua hidangan ini tidak hanya menjadi sajian utama, tetapi juga simbol kebersamaan dan nilai-nilai spiritual yang mendalam.

“Ketupat Opor selalu ada saat Lebaran. Ini bukan sekadar makanan, tapi bagian dari ritual budaya yang harus dipertahankan,” ujar Siti Aminah, salah seorang warga Kecamatan Pare yang sudah puluhan tahun merayakan Lebaran dengan menu ini. “Setiap tahun, kami berkumpul untuk menyiapkan bahan-bahan, memasak, dan menganyam ketupat bersama. Ini menjadi momen penting untuk saling berbagi dan menjaga ikatan keluarga.”

Asal Usul dan Makna Tradisional

Ketupat dan Opor Ayam memiliki akar sejarah yang kuat dalam budaya Indonesia, khususnya di Jawa. Menurut beberapa sumber, ketupat dipercaya diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, sebagai media dakwah Islam. Kata “kupat” dalam Bahasa Jawa berarti “ngaku lepat”, yang mengandung makna mengakui kesalahan dan memohon maaf kepada sesama. Hal ini sangat relevan dengan semangat Lebaran sebagai momen pemurnian diri dan pengampunan.

Sementara itu, Opor Ayam merupakan hidangan yang dibuat dari ayam yang direbus dalam santan kental dengan campuran rempah-rempah seperti kunyit, jahe, dan kemiri. Rasa gurih dan harumnya membuat hidangan ini menjadi pilihan utama dalam perayaan Lebaran. Opor Ayam juga sering dikaitkan dengan simbol kemakmuran dan keberlimpahan, karena proses pembuatannya yang rumit dan butuh waktu lama.

Tradisi di Kecamatan Pare

Di Kecamatan Pare, tradisi menyajikan Ketupat Opor tidak hanya dilakukan oleh keluarga biasa, tetapi juga menjadi bagian dari acara khusus yang diselenggarakan oleh komunitas setempat. Setiap tahun, masyarakat berkumpul di balai desa atau tempat umum lainnya untuk memasak dan berbagi hidangan ini dengan tetangga dan tamu.

  1. Persiapan Bahan: Sebelum Lebaran tiba, warga mulai membeli beras, daun kelapa muda (janur), serta bahan-bahan lain seperti ayam, santan, dan rempah.
  2. Membuat Ketupat: Proses menganyam janur menjadi ketupat dilakukan secara bersama-sama, baik oleh ibu-ibu maupun anak-anak. Ini menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengetahuan dan memperkuat ikatan sosial.
  3. Memasak Opor Ayam: Ayam yang telah dipotong dan dimasak dalam santan kental menjadi hidangan utama yang disajikan di meja makan.
  4. Berbagi dengan Tetangga: Setelah siap, Ketupat Opor dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan tamu yang datang. Ini menjadi bentuk kepedulian dan kebersamaan dalam masyarakat.

Peran Penting dalam Perayaan Keluarga

Selain menjadi hidangan wajib, Ketupat Opor juga memainkan peran penting dalam memperkuat ikatan keluarga. Dalam banyak keluarga, persiapan makanan ini menjadi momen khusus yang melibatkan semua anggota, baik tua maupun muda. Anak-anak diajarkan cara menganyam ketupat, sementara orang tua memberikan penjelasan tentang makna filosofis dari hidangan ini.

“Kami selalu mengajak anak-anak untuk ikut serta dalam proses membuat ketupat. Ini bukan hanya soal memasak, tetapi juga cara untuk mengajarkan nilai-nilai budaya dan kebersamaan,” kata Ibu Nuryani, warga Kecamatan Pare yang sudah bertahun-tahun menjalankan tradisi ini.

Pengaruh Modern dan Adaptasi

Meski tradisi ini sudah berlangsung lama, masyarakat Kecamatan Pare tidak ragu untuk mengadopsi cara-cara modern dalam mempersiapkan Ketupat Opor. Misalnya, banyak keluarga kini menggunakan alat bantu seperti mesin penganyam ketupat atau resep digital untuk memasak Opor Ayam. Namun, meskipun teknologi digunakan, nilai-nilai tradisional tetap dipertahankan.

Kesimpulan dan Harapan

Ketupat Opor tidak hanya menjadi hidangan istimewa saat Lebaran, tetapi juga simbol kebersamaan, toleransi, dan kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Kecamatan Pare. Dengan adanya tradisi ini, masyarakat tetap menjaga nilai-nilai luhur yang telah turun-temurun, sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

“Kami berharap, tradisi ini dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tambah Siti Aminah. “Karena dengan Ketupat Opor, kita tidak hanya merayakan Lebaran, tetapi juga merawat identitas budaya kita sendiri.”

Lebaran2025 #KetupatOpor #PareKediri #TradisiLebaran #BudayaJawa

Pos terkait