Kemacetan di Stasiun Citayam, seriuskah kita mengatasinya?

Pemandangan kemacetan di beberapa tempat sudah lazim terjadi terutama di pusat-pusat keramaian dan jalan-jalan protokol. Namun, saya ingin mengulas kemacetan yang terjadi hampir setiap hari di Stasiun Citayam, Depok, Jawa Barat.

Kalau pembaca melewati stasiun ini, panjangkan sabar Anda dan jangan emosi, karena yang bersalah di sini lebih galak. Kalau ditanya, apa yang tidak begitu disukai kalau mendengar kata “Citayam”, orang dengan mudahnya menjawab “macet”.  

Sejak tahun 2000, hampir setiap hari saya melewati stasiun kereta ini. Ketika itu saja, stasiun ini sudah sangat macet. Bayangkan, 25 tahun berlalu sampai sekarang masuk tahun 2026, situasinya tidak jauh berbeda. Masih macet.

Dahulu, di depan stasiun ini, selain para pedagang dan pangkalan ojek, ada spot khusus yang menjadi pangkalan pedagang pisang untuk menjual dagangannya. Saya pasti akan berpikir ulang kalau harus lewat depan stasiun. 

Maka, tidak jarang, saya harus mencari jalan alternatif lain meski harus memutar lebih jauh. Perlu kecermatan untuk mempelajari situasi yang lebih baik dan terutama tahu jalur-jalur alternatif.

Kini, situasinya masih macet, bahkan lebih parah. Pedagang pisang sih masih terlihat satu-dua, tapi hanya di pagi hari. Masih ada juga tukang ojek yang mangkal di depan stasiun.

Kalau dulu, durasi tertahan di depan stasiun ini saja mencapai 15 menit. Kini, saya bisa tertahan hampir setengah jam untuk lewat. Sudah lancar? Belum. Itu hanya waktu untuk melewati panjangnya kemacetan itu saja.

Yang paling parah terlihat pada kemacetan di depan stasiun ini adalah angkutan umum biru yang ngetem berlama-lama persis di depan pintu keluar stasiun. Antrian bisa terjadi mulai dari perlintasan kereta sampai melewati stasiun. 

Kemacetan yang terjadi di depan Stasiun Citayam ini sudah lama menjadi perbincangan publik. Hampir sepanjang hari, di depan stasiun ini dipastikan macet. 

Penyebab Kemacetan

Kemacetan yang memperburuk lalu lintas di depan dan sekitar Stasiun Citayam umumnya terjadi akibat kombinasi banyak hal. Kepadatan penumpang KRL Commuter Line yang turun, angkot yang berhenti dan memutar sembarangan, palang pintu kereta yang sering ditutup, infrastruktur jalan yang sempit, sepeda motor mangkal di tepi jalan, dan banyaknya pedagang kaki lima. 

Kepadatan Penumpang Commuter Line

Seiring bertambahnya pemukiman penduduk urban baik di Depok dan Bogor, dukungan KAI pada sarana transportasi semakin menambah daya tarik dua wilayah ini. Jam-jam keberangkatan kereta sedikit demi sedikit mulai bertambah. 

Diperkirakan ada seratus lima puluhan lebih jam keberangkatan kereta dari Bogor yang terlihat di aplikasi commuterline.id saat ini, belum termasuk dari arah Jakarta Kota ya . 

Maka, pada jam-jam itu terutama pada sore hari hingga malam hari, volume penumpang yang turun sangat ramai di Stasiun Citayam, persis seperti karyawan pabrik yang baru keluar shift kerja.

Pintu Perlintasan KRL Sering Buka-Tutup

Jumlah jam keberangkatan dan kedatangan kereta yang bertambah banyak itu menandai juga jumlah rangkaian KRL yang melintas. Paling tidak, sekitar 5 menit sekali, akan ada kereta yang lalu lalang dan menutup jalur kendaraan yang melintasi jalan raya yang tidak terlalu lebar ini. 

Frekuensi penutupan palang pintu perlintasan KRL yang  cukup sering ini, memicu antrean panjang di sekitar stasiun yang bisa mencapai hingga 200 meter. Selain itu, durasi penutupan palang pintu juga sering lebih lama. 

Pengguna jalan sering sekali harus menunggu kurang lebih lima menit untuk menunggu sampai kereta lewat bahkan bisa sampai 2-3 rangkaian. Maka, antrian kemacetan baru terjadi sebelum pintu perlintasan menuju arah stasiun.

Perilaku Berkendara yang Buruk

Banyak pengendara sepeda motor atau mobil bersikap sesuka hati. Mereka seolah tampil sebagai “orang paling prioritas sedunia” dibandingkan orang lain. Pengendara saling berebut agar lebih cepat dengan cara mendahului kendaraan lain atau menerobos pintu perlintasan KRL. 

Sikap Arogan Supir Angkot dan Kroni-Kroninya 

Perilaku supir angkot yang ngetem terutama bertujuan untuk mengambil penumpang yang baru turun dari kereta. Tetapi, tidak jarang, mereka sudah ngetem sebelumnya. Lamanya ngetem inilah yang membuat arus kendaraan menjadi sangat terhambat. 

Uniknya, kehadiran “jagoan-jagoan” yang ada justru berusaha agar angkot yang ngetem itu bertahan selama beberapa waktu. Mereka tidak peduli dengan kemacetan yang terjadi, seolah macet yang mereka buat adalah kewajaran.

Tentu saja, kemacetan terus terjadi. Kendaraan lain yang berada di belakang angkot yang ngetem biasanya akan mulai berteriak-teriak atau membunyikan klakson berulang-ulang.

Dampak yang Timbul

Kemacetan di sekitar Stasiun Citayam ini menjadi pemborosan yang luar biasa bagi ekonomi masyarakat. Pembakaran bahan bakar pada ratusan kendaraan dan waktu yang terbuang menjadi tindakan yang sia-sia. 

Yang tidak habis pikir adalah, sangat jarang ditemukan petugas yang mengatur lalu lintas di tempat itu. Bulan lalu, saya sempat melihat beberapa petugas, tapi sementara dan sebentar. Masyarakat pun merasa, koq seperti tidak kelihatan greget dan usaha yang signifikan ya untuk menghalau angkutan yang ngetem sembarangan itu. 

Mungkin mereka berpikir, kalau kendaraan bergerak, sebentar lagi kan kereta akan lewat lagi. Itu berarti akan macet lagi. Pada akhirnya, masyarakat disuruh bersabar lagi dan mencari solusi sendiri rupanya.

Usulan Solusi Jangka Panjang

Saya pernah mendengar usulan untuk membuat underpass yang memisahkan rel dan jalan raya. Tapi, itu sudah sangat lama. Belakangan ide itu muncul lagi. Entah kapan mau diwujudkan. Meski rencana ini tidak mudah, bukan berarti rencana itu tidak bisa diwujudkan. 

Saat ini, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana mengatur angkutan umum ini. Actionnya angan hanya sebentar, lalu hilang lagi. Citayam ini, dari subuh sampai pagi kesiangan aja sudah macet. Sore hingga malam, masih kena macet lagi. Masalahnya masih sama. Dari dulu begitu-begitu aja. 

Paling tidak, ada solusi tercepat yang bisa diberikan kepada masyarakat. Dengan ritme frekuensi buka tutup perlintasan kereta sedemikian, seharusnya bisa dimanfaatkan petugas untuk untuk membuat lalu lintas lancar. Bagaimana cara mengatur angkutan-angkutan umum itu? Pemerintah daerah pasti sudah lebih tahu.

Faktor lebar jalan yang hanya 5-6 meter tentu tidak mampu menampung volume kendaraan yang terus bertambah. Jalan sempit ini sudah kesulitan menampung kendaraan yang melintas seperti sepeda motor, mobil, dan truk. Jalan ini masih harus menampung lagi ojek-ojek dan pedagang kaki lima yang mangkal tak beraturan. Mesti diapakan jalan sempit ini? Pasti sudah tahu juga.

Dan rasanya, pemerintah masih harus bekerja keras untuk membuat wilayah ini menjadi pemukiman yang ramah lingkungan dan bebas asap kendaraan. 

Sudah banyak lho pemukimannya, tapi polusi udaranya nya juga semakin banyak. Berikutnya, saya mau cerita soal aliran airnya. Semoga dalam waktu dekat, ada solusi baik dari pemerintah yang bisa dinikmati masyarakat.***

Pos terkait