KediriNews.com – Pada tanggal 14 Desember 2025, ribuan warga dan pengunjung dari berbagai daerah berkumpul di sepanjang Sungai Brantas, Kediri, untuk menyaksikan tradisi larung sesaji yang kembali digelar dengan penuh khidmat dan keunikan. Acara ini menjadi salah satu momen budaya yang paling dinantikan setiap tahunnya, dan kali ini menarik perhatian lebih banyak masyarakat.
Tradisi larung sesaji adalah ritual sakral yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur terhadap alam dan Tuhan. Di Kediri, acara ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi momentum penting dalam membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Tahun ini, acara yang diadakan di kawasan Sungai Brantas menarik antusiasme luar biasa, dengan jumlah peserta dan penonton mencapai ribuan orang.
Ritual yang Menggambarkan Syukur dan Keberlanjutan
Prosesi larung sesaji dimulai dengan persiapan yang matang. Berbagai jenis sesajen seperti tumpeng, jenang sengkolo, polo pendem, dan umbarampe disiapkan oleh para tokoh masyarakat, kelompok tani, serta seniman lokal. Selain itu, ikan endemik seperti wader, koi, dan kotes juga dilarungkan ke sungai sebagai simbol pengorbanan dan harapan agar alam selalu memberi rezeki.
“Larung sesaji bukan sekadar ritual, tapi juga menjadi bentuk kesadaran kita terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujar Plt. Camat Ngancar, Moh. Muthoin, yang hadir langsung dalam acara tersebut. “Dengan melibatkan masyarakat, kami ingin mengajak mereka untuk lebih peduli terhadap kondisi sungai dan alam sekitarnya.”
Partisipasi Masyarakat yang Luar Biasa
Tahun ini, acara larung sesaji di Sungai Brantas diikuti oleh partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat. Selain perangkat desa, prosesi ini juga melibatkan pengusaha lokal, kelompok tani, tokoh masyarakat, hingga unsur Muspika. Ini menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menjadi sarana memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan.
Masyarakat setempat menyebut ritual ini sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang telah turun-temurun. “Ini sudah menjadi tradisi yang kami jalankan sejak dulu, bahkan sebelum saya lahir,” kata salah satu warga, Siti Aminah.
Dampak Positif pada Pariwisata dan Budaya Lokal
Selain nilai spiritual dan lingkungan, larung sesaji juga memiliki dampak positif bagi pariwisata dan ekonomi lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, acara ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan langsung keunikan budaya Jawa Timur. Banyak pengunjung datang dari luar kota, termasuk dari Jakarta, Surabaya, dan Malang, untuk menyaksikan ritual ini secara langsung.
“Kami berharap acara ini bisa terus berlangsung setiap tahun dan menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang patut dikunjungi,” tambah Ki Demang, salah satu tokoh budaya yang terlibat dalam penyelenggaraan acara.
Penutup: Menjaga Tradisi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Tradisi larung sesaji di Sungai Brantas Kediri tahun 2025 bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi juga menjadi representasi dari semangat kebersamaan, kesadaran lingkungan, dan kecintaan terhadap budaya. Dengan partisipasi masyarakat yang besar dan antusiasme yang tinggi, acara ini membuktikan bahwa tradisi tidak pernah mati, selama ada yang menjaganya.
“Jangan biarkan tradisi hilang karena perkembangan zaman. Kita harus menjaganya agar anak cucu kita juga bisa merasakan keindahan dan makna dari ritual ini,” tutup Ki Demang dengan penuh keyakinan.
