Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi perhatian masyarakat di Kediri, Jawa Timur. Kasus penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti ini mulai meningkat, sehingga mengakibatkan rumah sakit di wilayah tersebut kelebihan kapasitas. Menurut informasi terbaru, sejumlah pasien DBD yang membutuhkan perawatan intensif kini harus menunggu antrian lama atau bahkan tidak bisa mendapatkan tempat tidur.
Menurut data dari Dinas Kesehatan setempat, jumlah kasus DBD di Kediri meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini diduga dipengaruhi oleh musim hujan yang berlangsung cukup lama, serta kondisi lingkungan yang tidak terjaga dengan baik. Genangan air di berbagai sudut kota menjadi sarang bagi nyamuk yang menyebarkan virus dengue.
“Saat ini, kami sedang melakukan pencegahan dan pengendalian DBD melalui berbagai program seperti PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), fogging, dan sosialisasi kepada masyarakat,” ujar salah satu petugas kesehatan di Kediri.
Namun, meskipun upaya pencegahan telah dilakukan, jumlah pasien DBD tetap meningkat. Banyak warga yang mengeluhkan kesulitan untuk mendapatkan layanan kesehatan, terutama di rumah sakit umum. Beberapa rumah sakit di Kediri bahkan dilaporkan sudah penuh dengan pasien DBD.
Salah satu keluarga korban DBD, Siti Aminah, mengatakan bahwa anaknya terkena DBD beberapa hari lalu dan harus dirawat di rumah sakit. Namun, karena kelebihan kapasitas, ia harus menunggu beberapa jam sebelum akhirnya mendapat tempat tidur.
“Anak saya demam tinggi dan sangat lemah. Kami langsung membawanya ke rumah sakit, tapi semua tempat tidur penuh. Akhirnya, kami harus menunggu hingga malam hari,” katanya.
Selain itu, banyak warga juga mengeluhkan sulitnya mengakses layanan kesehatan karena alasan biaya. Meski BPJS Kesehatan menjamin pengobatan bagi peserta, namun beberapa rumah sakit masih menolak pasien DBD dengan alasan tidak ditanggung oleh BPJS.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya juga telah mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi wabah DBD. Ia menekankan pentingnya penanganan dini dan kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
“Jika ada gejala DBD, segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk diagnosis lebih lanjut. Jangan sampai terlambat, karena DBD bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani,” ujarnya.
Untuk mengatasi situasi ini, pemerintah daerah dan dinas kesehatan di Kediri sedang memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian DBD. Termasuk dalam hal ini adalah penguatan kapasitas rumah sakit dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Kami akan terus berupaya agar semua pasien DBD dapat mendapatkan layanan kesehatan yang memadai. Tidak boleh ada pasien yang tertunda atau tidak ditangani karena alasan apapun,” tegas Kepala Dinas Kesehatan Kediri.
Dengan situasi yang semakin memprihatinkan, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap penyakit DBD dan segera mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat. Kediri News akan terus memantau perkembangan wabah DBD dan memberikan informasi terkini kepada pembaca.
