BMKG mencatat bahwa sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur, masih berada dalam fase transisi musim hujan ke musim kemarau. Meskipun sudah memasuki pertengahan musim kemarau, dinamika atmosfer global dan regional masih mendukung terjadinya hujan deras dan cuaca ekstrem. Hal ini disebabkan oleh interaksi antara gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin, zona konvergensi, serta sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Hindia dan Pasifik.
“Meski sudah memasuki pertengahan musim kemarau, berbagai faktor atmosfer global dan regional masih mendukung terjadinya hujan lebat dan cuaca ekstrem di banyak wilayah,” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam keterangan resmi yang diterima pada Sabtu (12/7/2024).
Wilayah yang berisiko tinggi mengalami hujan lebat dan angin kencang antara lain Aceh, Sumatera Utara, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. BMKG juga memprakirakan potensi cuaca ekstrem akan tinggi dalam periode 12-18 Juli 2025. Selain itu, angin kencang berpotensi melanda wilayah barat hingga timur Indonesia, termasuk Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
Kecepatan angin lebih dari 25 knot diprediksi akan memicu gelombang tinggi di beberapa perairan seperti Perairan Utara Aceh, Laut Cina Selatan, Laut Natuna Utara, Laut Jawa bagian timur, Laut Flores, Laut Arafuru, Laut Timor, Laut Banda, dan Laut Seram. Gelombang tinggi juga diperkirakan terjadi di Samudera Pasifik sebelah utara Maluku Utara, serta Samudera Hindia sebelah barat daya Banten, sebelah selatan Jawa, dan sebelah selatan NTT.
Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap enteng potensi cuaca ekstrem yang bisa datang tiba-tiba. Masyarakat diminta untuk menjauhi area terbuka saat terjadi petir, hindari pohon atau bangunan tua saat angin kencang, serta tetap menjaga kesehatan karena cuaca terik masih mungkin terjadi di tengah pola hujan yang aktif.
BMKG juga mengingatkan bahwa meski secara kalender Indonesia berada di musim kemarau, masyarakat tidak boleh lengah. Cuaca bisa berubah cepat dan membawa dampak besar. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk terus memperbarui informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca dari BMKG.
Selain itu, BMKG juga memperhatikan perkembangan bibit siklon tropis 93S yang berpotensi memicu cuaca ekstrem di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Meskipun belum menjadi siklon tropis, bibit siklon ini dapat memicu hujan dengan intensitas sedang-lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah. BMKG memprediksi potensi dampak tidak langsung dari bibit siklon ini dalam beberapa hari ke depan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi anjuran dari pihak berwenang. Jika terjadi cuaca ekstrem, segera lakukan evakuasi jika diperlukan dan hindari daerah rawan banjir atau longsor. Selain itu, pastikan kelengkapan darurat seperti alat komunikasi, lampu senter, dan persediaan makanan tersedia di rumah.
BMKG juga merekomendasikan agar masyarakat memperhatikan perkembangan cuaca melalui media massa atau aplikasi resmi BMKG. Informasi terkini tentang cuaca ekstrem akan terus diberikan untuk memastikan keselamatan masyarakat.
Dengan adanya peringatan dari BMKG, masyarakat di Kediri dan sekitarnya diharapkan dapat bersiap menghadapi cuaca ekstrem hingga akhir Desember 2025. Jangan biarkan ketidakpastian cuaca mengganggu aktivitas harian, tetapi tetaplah waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan.
