KAMPANYE STOP BULLYING! Ribuan Pelajar Cap Tangan di SLG Kecamatan Ngasem pada 8 Desember 2025

KediriNews.com – Pada hari Jumat, 8 Desember 2025, ribuan pelajar dari berbagai sekolah di Kecamatan Ngasem mengikuti kampanye besar-besaran bertajuk “Stop Bullying!” yang digelar di Sekolah Luar Biasa (SLG) setempat. Acara ini menarik perhatian masyarakat luas karena diikuti oleh ratusan siswa yang secara simbolis mencap tangan mereka sebagai bentuk komitmen untuk menghentikan tindakan perundungan di lingkungan pendidikan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa para pelajar siap menjadi agen perubahan dalam mencegah bullying. Dengan cap tangan ini, kami menyatakan bahwa kami tidak akan diam saat melihat teman-teman kami diperlakukan tidak adil,” ujar salah satu peserta acara, Rina, yang merupakan siswi SMK Negeri 1 Ngasem.

Acara ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Anti-Bullying Sedunia dan dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, guru, serta perwakilan dari organisasi pemuda setempat. Selain cap tangan, peserta juga diajak untuk ikut serta dalam berbagai sesi edukasi tentang pentingnya saling menghargai dan menjaga keharmonisan di lingkungan sekolah.

Pembukaan dengan Pesan Penting

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Panitia, Budi Santoso, yang menyampaikan bahwa kampanye ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi bagian dari upaya nyata untuk memberdayakan generasi muda. “Bullying adalah masalah serius yang bisa merusak psikologis anak-anak. Kami berharap melalui kampanye ini, para pelajar dapat lebih sadar akan dampak negatifnya dan bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman,” katanya.

Selain itu, Budi juga menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah dan masyarakat yang telah mendukung penyelenggaraan acara ini. Ia menekankan bahwa partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat sangat penting dalam menjaga kualitas pendidikan di wilayah Ngasem.

Materi Edukasi yang Menarik

Selama acara, peserta diajak untuk mengikuti sesi-sesi edukasi yang dirancang agar mudah dipahami. Salah satu materi utama adalah tentang jenis-jenis bullying dan cara menghadapinya. Materi ini disampaikan oleh dua narasumber yang terdiri dari guru dan anggota LSM lokal yang sudah lama bergerak dalam isu perlindungan anak.

“Kita harus tahu bahwa bullying tidak selalu berupa kekerasan fisik. Ada juga bullying verbal, seperti ejekan atau cemoohan, yang bisa sangat menyakitkan. Sering kali korban tidak berani melaporkannya karena takut dianggap lemah,” ujar Ibu Siti, salah satu narasumber.

Selain itu, peserta juga diajak untuk berpartisipasi dalam diskusi kelompok, di mana mereka diminta untuk membagikan pengalaman pribadi atau situasi yang pernah mereka alami. Diskusi ini membuka wawasan baru bagi peserta dan memperkuat kesadaran akan pentingnya empati dan kepedulian terhadap sesama.

Permainan Interaktif dan Aktivitas Kreatif

Untuk memperkaya pengalaman peserta, acara juga dilengkapi dengan berbagai permainan interaktif dan aktivitas kreatif. Salah satunya adalah permainan peran, di mana peserta diminta untuk memainkan peran sebagai korban, pelaku, atau penonton dalam skenario bullying. Hal ini membantu peserta memahami perspektif masing-masing pihak dan bagaimana tindakan yang tepat dapat diambil.

Selain itu, ada sesi mewarnai dan membuat kerajinan tangan yang digunakan sebagai media ekspresi diri. Anak-anak terlihat antusias dalam mengikuti kegiatan ini, dan suasana ruangan terasa hangat dan penuh semangat. Mereka saling berbagi ide dan mengekspresikan perasaan mereka melalui seni.

Penutup dengan Komitmen Bersama

Puncak acara ditutup dengan deklarasi komitmen bersama yang dipimpin oleh perwakilan siswa. Dalam deklarasi tersebut, seluruh peserta menyatakan tekad untuk tidak melakukan bullying dan berani melaporkan jika melihat tindakan tersebut. Mereka juga berjanji untuk menjadi contoh yang baik bagi teman-temannya dan turut serta dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan harmonis.

Hasil Nyata dan Harapan Masa Depan

Dari acara ini, tercatat sebanyak 1.200 peserta yang hadir, termasuk siswa dari berbagai tingkat pendidikan. Selain cap tangan, peserta juga diberikan bahan edukasi tentang cara menghadapi bullying dan nomor layanan darurat jika diperlukan. Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari inisiatif serupa di daerah lain, sehingga kesadaran akan pentingnya anti-bullying dapat menyebar lebih luas.

Menurut salah satu panitia, acara ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi para guru dan orang tua. “Kami berharap, melalui kampanye ini, para guru dan orang tua bisa lebih proaktif dalam mengidentifikasi dan menangani kasus bullying di lingkungan sekolah,” tambah Budi.

Kesimpulan

Kampanye “Stop Bullying!” yang digelar di SLG Kecamatan Ngasem pada 8 Desember 2025 berhasil menciptakan momen berharga bagi para pelajar. Dengan berbagai sesi edukasi, interaksi langsung, dan komitmen bersama, acara ini menunjukkan bahwa generasi muda siap menjadi agen perubahan dalam mencegah tindakan perundungan. Semoga langkah ini menjadi awal dari perubahan positif yang berkelanjutan di lingkungan pendidikan.

StopBullying #KampanyeAntiBullying #PelajarNgasem #LingkunganSekolahAman #PendidikanTanpaPerundungan

Pos terkait