–Pemerintah Kabupaten Bangka bergerak cepat merespons putusnya jembatan penghubung di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu.
Jembatan yang menjadi akses vital ratusan warga itu ambruk pada Jumat (2/1/2026) sore setelah diterjang derasnya aliran sungai akibat hujan.
Sejak Sabtu (3/1/2026), satu unit alat berat dikerahkan ke lokasi untuk membuka jalur sementara.
Alat berat tersebut menerabas semak-semak di sisi jembatan yang putus, meratakan tanah, dan membentuk jalan darurat sebagai langkah awal pemulihan akses masyarakat.
Tak hanya membuka jalan alternatif, Pemerintah Kabupaten Bangka juga langsung memulai pembangunan jembatan darurat berbahan kayu tepat di sebelah jembatan lama yang rusak.
Jembatan sementara itu ditargetkan rampung dalam waktu satu pekan agar aktivitas warga tidak terlalu lama terganggu.
Jalur Utama
Camat Belinyu, Lingga Pranata, menegaskan bahwa jembatan Dusun Air Abik merupakan jalur utama yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat setempat.
Menurutnya, ratusan warga setiap hari bergantung pada akses tersebut untuk berbagai aktivitas.
“Jalan itu jalan utama Air Abik, aksesnya itu hidup. Banyak warga yang melintas setiap hari, termasuk warga desa lain,” ujar Lingga kepada .
Selain warga, jalur tersebut juga menjadi akses penting bagi pekerja perusahaan perkebunan sawit PT Gunung Pelawan Lestari (GPL).
Putusnya jembatan secara langsung berdampak pada mobilitas pekerja dan distribusi hasil perkebunan.
Meski demikian, Lingga menjelaskan bahwa jembatan darurat yang sedang dibangun hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda dua dan mobil kecil.
Sementara kendaraan berat, termasuk truk pengangkut sawit, dilarang melintas dan diwajibkan mengambil jalur alternatif.
“Kalau dari Silip ke Air Abik masih bisa, tapi kalau dari Gunung Muda ke Air Abik tidak bisa. Mobil-mobil besar harus memutar,” jelasnya.
Akibat kondisi tersebut, warga Dusun Air Abik yang hendak menuju Kota Belinyu kini harus menempuh jarak jauh.
Jika sebelumnya jarak tempuh hanya sekitar 5 kilometer, kini warga harus memutar sejauh kurang lebih 11 kilometer.
“Lumayan jauh. Biasanya paling ke Belinyu cuma 5 kilometer, sekarang harus mutar sekitar 11 kilometer,” ungkap Lingga.
Jembatan Darurat
Ia menambahkan, pembangunan jembatan darurat harus diselesaikan secepat mungkin mengingat banyak kepentingan warga yang terdampak, mulai dari anak-anak sekolah hingga masyarakat yang menggantungkan hidup dari berkebun.
“Anak-anak sudah mau masuk sekolah. Jembatan itu juga lintasan orang berkebun. Tidak mungkin orang berkebun mau memutar sejauh itu setiap hari,” imbuhnya.
Respons cepat juga ditunjukkan langsung oleh Bupati Bangka, Fery Insani.
Begitu menerima laporan putusnya jembatan pada Jumat sore, Fery bersama jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bangka langsung turun ke lokasi pada malam hari.
“Setengah enam sore kami dapat berita, terus kami langsung ke lokasi,” ujar Fery saat dikonfirmasi.
Dari hasil peninjauan langsung, Fery menilai kondisi jembatan mengalami kerusakan cukup parah, dengan bagian aspal amblas dan salah satu sisi jembatan patah.
Oleh karena itu, pembangunan jembatan darurat menjadi langkah mendesak untuk memastikan akses tetap terbuka.
“Mulai besok kami turunkan alat, kita bikin jembatan darurat pakai kayu. Yang penting mobil kecil bisa lewat, seperti ambulans. Kalau mobil bawa sawit jangan lewat dulu,” tegasnya.
Fery juga memastikan bahwa Pemkab Bangka tidak hanya berhenti pada pembangunan jembatan sementara.
Ia menargetkan pembangunan jembatan permanen dapat dimulai dalam bulan Januari 2026, mengingat peran strategis jembatan tersebut bagi masyarakat.
“Bulan Januari ini juga kita upayakan bangun jembatan permanen. Warga Air Abik banyak sekali, orang dari Silip, pekerja perkebunan juga banyak yang lewat situ,” kata Fery.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bangka, Mulyarto Kurniawan, menjelaskan bahwa pihaknya langsung melakukan langkah-langkah pengamanan sesaat setelah jembatan putus.
Polisi bersama warga setempat memasang tanda darurat agar pengendara tidak melintas dan mencegah terjadinya kecelakaan.
“Bapak Bupati bersama Kabid Bina Marga PUPR dan tim teknis segera menuju lokasi setelah menerima laporan dari Kepala Desa Gunung Muda,” ujar Mulyarto.
Menurutnya, langkah awal yang dilakukan adalah pemasangan rambu larangan melintas dan penanda darurat.
Cabang-cabang pohon diletakkan di bagian tengah jembatan yang putus agar pengendara menyadari kondisi berbahaya tersebut.
“Langkah utama kami memasang rambu agar tidak ada korban. Selanjutnya kami inventarisir penyebab ambruknya jembatan dan mengambil tindakan mendesak untuk perbaikan akses jalan,” jelasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, jembatan putus saat hujan mengguyur kawasan tersebut.
Derasnya aliran sungai diduga menjadi penyebab utama ambruknya struktur jembatan, hingga aspal ambles ke dasar sungai yang berada sekitar lima meter di bawah permukaan jalan.
Penemuan jembatan putus sempat mengejutkan warga yang melintas.
Sejumlah kendaraan terpaksa berhenti di ujung jalan karena tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Kondisi ini menimbulkan antrean dan kebingungan, terutama bagi warga yang belum mengetahui adanya jembatan ambruk.
Dengan dimulainya pembangunan jembatan darurat, warga berharap akses utama Dusun Air Abik dapat segera kembali normal meski bersifat sementara.
Pemerintah daerah pun memastikan akan terus mengawal proses pembangunan hingga jembatan permanen selesai dibangun.
Pemkab Bangka menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan keselamatan dan kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang akses infrastrukturnya sangat menentukan aktivitas ekonomi dan sosial warga sehari-hari.
(/Arya Bima Mahendra)
