Jembatan Ambruk di Kecamatan Banyakan, Akses Desa Terputus Total pada 10 September 2025

KediriNews.com – Jembatan yang menjadi akses utama antara Desa Jabon, Kecamatan Banyakan, dan Desa Jong Biru, Kecamatan Gampengrejo, ambruk total pada 10 September 2025. Peristiwa ini menyebabkan akses desa terputus total, memaksa warga dan pengendara harus mencari jalur alternatif yang jauh lebih panjang.

“Jembatan Mrican yang ambruk merupakan jalan penghubung utama antara Kabupaten dan Kota Kediri,” ujar Suparno, warga setempat. “Sejak dulu jembatan ini sudah tidak layak, tapi karena jadi jalur tercepat, banyak orang tetap melintasinya.”

Jembatan yang dibangun sejak tahun 1900-an ini memiliki lebar 3 meter dan panjang sekitar 130 meter. Sebelumnya, jembatan tersebut sempat ditutup sejak Desember 2015 akibat kondisi yang semakin rusak. Namun, kebutuhan masyarakat membuat banyak pengendara roda dua tetap melintasi jembatan meski dalam kondisi tidak aman.





Penyebab Jembatan Ambruk

Menurut informasi yang dihimpun, ambruknya jembatan Mrican disebabkan oleh tekanan air Sungai Brantas yang menggerus pondasi tiang pancang. Material kayu yang terbawa arus sungai juga berkontribusi pada keruntuhan struktur jembatan. Kejadian ini terjadi pada pukul 23.30 WIB, Rabu (10/9/2025), saat air sungai sedang naik.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kediri, Hari Wahyu, menjelaskan bahwa jembatan telah diketahui dalam kondisi rusak sejak lama. “Kami telah melakukan monitoring dan langkah pengamanan jembatan, karena sebelumnya jembatan sudah rusak,” ujarnya.

Dampak Terhadap Warga

Akibat jembatan ambruk, akses menuju Kota Kediri dan sebaliknya kini terganggu. Warga dan pelajar yang biasanya menggunakan jembatan ini kini harus melalui jalur utama yang jaraknya mencapai 10-15 km. Hal ini tentu memberatkan masyarakat, terutama para pelajar yang harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk sampai ke sekolah.

Selain itu, aktivitas ekonomi di daerah ini juga terganggu. Pasar dan transportasi barang yang sebelumnya lancar kini terhambat. Beberapa warga mengeluhkan kesulitan dalam mengangkut hasil pertanian dan kebutuhan harian.

Langkah Pemerintah

Pihak berwenang telah melakukan peninjauan dan evaluasi terhadap jembatan yang ambruk. Dinas terkait, BPBD, serta aparat kepolisian turun langsung ke lokasi untuk memastikan keamanan dan menghindari risiko tambahan bagi warga.

Sementara itu, warga berharap pemerintah segera merancang solusi permanen untuk mengganti jembatan yang rusak. “Kami sangat berharap pemerintah bisa segera membangun jembatan baru atau memperbaiki jembatan yang ada,” kata Suparno.

Kesiapan Darurat

Meski belum ada korban jiwa, pihak kepolisian telah memasang garis polisi di sekitar lokasi jembatan yang ambruk. Tujuannya adalah untuk mencegah warga mendekati area yang berpotensi membahayakan.

“Pemantauan dan tindakan darurat terus dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Iptu Irfan Sofar, Kapolsek Butuh.

Tantangan Infrastruktur

Peristiwa jembatan ambruk di Kecamatan Banyakan menunjukkan betapa pentingnya pemeliharaan infrastruktur. Banyak jembatan di daerah-daerah terpencil masih dalam kondisi tidak layak, namun tetap digunakan karena minimnya alternatif.

“Masalah infrastruktur seperti ini sering kali diabaikan hingga terjadi bencana,” ujar seorang ahli dari Departemen Teknik Sipil Universitas Negeri Kediri. “Kita perlu investasi jangka panjang untuk memastikan keselamatan warga.”

Kesimpulan

Ambruknya jembatan Mrican di Kecamatan Banyakan menjadi peringatan akan pentingnya perawatan infrastruktur. Meskipun jembatan ini bukan aset desa, namun fungsinya sangat vital bagi masyarakat. Pemerintah perlu segera merancang solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini.

Dengan adanya peristiwa ini, diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya infrastruktur yang aman dan layak guna.

JembatanAmbruk #Banyakan #Kediri #AksesTerputus #InfrastrukturRusak

Pos terkait