Jaranan Kesurupan di Kecamatan Ngasem: Pemain Makan Beling pada 7 Desember 2025

KediriNews.com – Peristiwa yang mengejutkan terjadi di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, pada Minggu, 7 Desember 2025. Seorang pemain jaranan kesurupan memakan beling di tengah pementasan tradisional yang digelar dalam rangka merayakan budaya lokal. Kejadian ini menarik perhatian warga dan penggemar seni tradisional, sekaligus mengingatkan akan pentingnya menjaga kesehatan dan kesadaran saat berpartisipasi dalam ritual-ritual kebudayaan.

“Sebelum acara dimulai, kami sudah memberikan instruksi kepada penari agar tetap waspada dan tidak melakukan tindakan berisiko,” ujar Darno, ketua kelompok jaranan Setyo Budoyo. Ia menambahkan bahwa para penari selalu diberi edukasi tentang cara bertahan dalam ritual kesurupan tanpa mengabaikan keselamatan diri sendiri.

Pementasan jaranan di Kecamatan Ngasem kali ini memiliki makna tersendiri. Jaranan adalah salah satu bentuk kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Timur, khususnya daerah Mataraman. Tarian ini sering kali melibatkan unsur magis dan kesurupan sebagai bagian dari prosesi ritual. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, upaya untuk melestarikan seni ini dilakukan dengan lebih hati-hati, termasuk dalam hal keamanan dan kesehatan para pelaku.

  1. Latar Belakang Jaranan
    Jaranan adalah tarian tradisional yang menggambarkan kisah-kisah legendaris, seperti cerita tentang Dewi Sangga Langit dan perjuangan antara dua tokoh pria yang ingin menikahi putri raja. Tarian ini biasanya diiringi oleh musik gamelan dan diiringi oleh suara pengrawit yang menyampaikan narasi dari mulut ke mulut.

Di Kecamatan Ngasem, jaranan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya. Para penari, yang umumnya berasal dari kalangan petani, menghabiskan waktu luang mereka untuk berlatih dan memperbaiki teknik tari. Mereka juga sering dipanggil untuk tampil dalam acara hajatan atau festival budaya.

  1. Proses Kesurupan dalam Ritual Jaranan
    Dalam ritual jaranan, kesurupan dianggap sebagai bentuk komunikasi antara manusia dan roh leluhur. Penari yang kesurupan akan mengalami perubahan perilaku, seperti berbicara dengan suara berbeda atau melakukan gerakan yang tidak biasa. Namun, tidak semua penari mengalami kesurupan secara nyata. Beberapa hanya memainkan peran sebagai simbol atau representasi.

Selama acara di Kecamatan Ngasem, seorang penari muda tiba-tiba memakan beling setelah diduga kesurupan. Kejadian ini membuat warga terkejut, namun tidak ada korban luka serius. Menurut saksi mata, penari tersebut langsung dikelilingi oleh kelompok jaranan lainnya untuk membantunya kembali tenang.

  1. Peran Komunitas dalam Pelestarian Budaya
    Komunitas jaranan di Kecamatan Ngasem telah berusaha keras untuk menjaga keberlanjutan seni ini. Darno, yang sudah bergabung sejak kecil, mengatakan bahwa generasi muda kini mulai tertarik untuk belajar tari jaranan. “Anak-anak saya bahkan sudah bisa menari. Ini menunjukkan bahwa budaya ini tidak akan punah,” katanya.

Selain itu, banyak grup jaranan di wilayah ini terus berkembang, baik dalam hal jumlah anggota maupun variasi tarian. Di Kediri, terdapat lebih dari 400 grup jaranan yang aktif, dengan tambahan 22 grup baru pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap kesenian tradisional masih tinggi.

  1. Tantangan dan Peluang di Masa Depan
    Meskipun jaranan masih eksis, tantangan seperti minimnya dukungan finansial dan kurangnya pengakuan resmi dari pemerintah tetap menjadi isu utama. Banyak penari jaranan mengandalkan pendapatan dari pentas di acara hajatan, yang tidak selalu stabil.

Namun, ada harapan besar bahwa seni ini akan terus berkembang. Dwi Cahyono, sejarawan dari Universitas Negeri Malang, menyatakan bahwa jaranan merupakan seni kuno yang harus dilestarikan. “Ini bukan sekadar tarian, tapi juga warisan budaya yang perlu dipertahankan,” katanya.

  1. Mengapa Jaranan Masih Penting?
    Jaranan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi cara bagi masyarakat untuk merayakan identitas dan nilai-nilai tradisional. Dalam dunia modern yang semakin cepat, jaranan menjadi pengingat bahwa budaya lokal memiliki arti yang mendalam.

Menurut Hari Pratondo, ketua paguyuban kesenian jaranan Kabupaten Kediri, jaranan harus terus dipertahankan karena memiliki makna filosofis. “Ini adalah bentuk ekspresi kekuatan dan kepercayaan diri. Dengan menari, kita merasa dekat dengan leluhur dan alam,” ujarnya.


Jaranan #BudayaTradisional #Ngasem #Kesurupan #SeniKerakyatan #Kediri #PementasanTradisional

Pos terkait