KediriNews.com – Jalan rusak parah di Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kini menjadi perhatian masyarakat setempat. Tak hanya mengeluhkan kondisi jalan yang memprihatinkan, warga juga melakukan aksi tak biasa dengan menanam pohon pisang di badan jalan. Aksi ini dilakukan pada 15 Agustus 2025 sebagai bentuk protes terhadap lambannya penanganan pemerintah daerah.
Pohon pisang yang ditanam sepanjang 600 meter di jalan tersebut bukan sekadar simbol kesabaran, melainkan ekspresi kekecewaan warga terhadap pengabaian infrastruktur jalan. “Jalan ini rusak sudah lama, sekitar 12 tahun,” ujar Rumadi (63), salah satu warga Dusun Kedungurip, Desa Brudu, Kecamatan Sumobito. Ia menyebutkan bahwa warga pernah mencoba memperbaikinya sendiri dengan menimbun tanah, tetapi tidak bertahan lama karena sering tergenang air saat hujan.
“Kalau bisa ya dicor sekalian, biar kuat. Ini jalannya jadi tempat aliran air, jadi kalau cuma diurug pasti rusak lagi,” tambahnya. Warga sepakat untuk tidak mencabut pohon pisang hingga jalan benar-benar diperbaiki.
Masalah Infrastruktur dan Penanganan yang Tertunda
Kondisi jalan di Kecamatan Plosoklaten tidak hanya menjadi masalah teknis, tetapi juga menggambarkan tantangan dalam pengelolaan infrastruktur oleh pemerintah desa. Menurut Kepala Desa Brudu, Ahmad Efendi, jalan tersebut memang rusak berat dan terakhir kali dibangun pada tahun 2013. “Bukan kami tidak membangun, tapi di situ sering dilalui truk-truk bermuatan besar, jadi kalau hanya diaspal atau paving kurang kuat,” jelasnya.
Efendi menjelaskan bahwa pembangunan jalan di wilayah Kedungurip akan dilakukan bertahap melalui Dana Desa (DD). “Kami sudah ajukan di Dana Desa, tapi bertahap. Rencananya tahun 2027 baru bisa dibangun. Panjangnya sekitar 600 meter dan biayanya diperkirakan lebih dari Rp1 miliar,” ungkapnya.
Sebagai langkah sementara, pemerintah desa berkoordinasi dengan warga, BPD, dan pihak keamanan untuk mengurug jalan agar tetap bisa dilalui. “Kami sudah rapat dengan warga, pengusaha, BPD, Kapolsek, Danramil, dan pihak kecamatan. Sementara ini kami akan urug dulu sambil menunggu perbaikan permanen,” pungkasnya.
Protes yang Berujung pada Aksi Simbolis
Aksi tanam pohon pisang oleh warga di jalan rusak bukanlah hal yang biasa. Namun, bagi warga Kedungurip, ini adalah cara mereka menyampaikan keluhan secara langsung kepada pemerintah. “Ini bukan sekadar aksi simbolik, tapi jeritan hati. Di tengah genangan lumpur dan janji pembangunan yang tertunda, kami menanam harapan agar jalan itu, suatu hari, tak hanya bisa dilalui kendaraan, tapi juga rasa percaya kepada pemerintahnya sendiri,” ujar Rumadi.
Dalam beberapa bulan terakhir, warga di Kecamatan Plosoklaten sering mengeluhkan kondisi jalan yang membuat mobilitas mereka terganggu. Anak-anak sekolah terpaksa melewati jalan berlubang, sementara kendaraan roda dua dan empat sering terjebak dalam genangan air. Masalah ini juga memengaruhi akses ke pasar dan fasilitas umum lainnya.
Peran Pemerintah dalam Solusi Infrastruktur
Meski ada upaya dari pihak desa, banyak warga merasa bahwa penanganan infrastruktur jalan masih terlalu lambat. Mereka berharap pemerintah daerah dapat segera menindaklanjuti permintaan mereka. “Kalau sekarang di bulan Maret, Agustus sudah jadi. Harusnya sudah rapi, sudah tidak ada lagi cerita Jeglongan Sewu di Kabupaten Kediri,” kata Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana saat meninjau jalan rusak di Desa Watugede, Kecamatan Puncu.
Ia menegaskan bahwa jalan rusak di wilayah tersebut harus segera diperbaiki. “Walaupun tinggal 1,7 kilometer, tidak ada alasan untuk tidak diperbaiki. Percuma jalan yang panjangnya 10 kilometer atau 50 kilometer, tapi jika ada 1 kilometer yang rusak. Jadi tidak ada artinya jalan yang sebelumnya sudah diperbaiki,” tegasnya.
Langkah Konkret untuk Perbaikan Jalan
Menyikapi keluhan warga, Plt. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kediri, Irwansyah, menyatakan siap menjalankan perintah bupati. “Segera kami realisasi proses pengadaannya, mulai bulan April sudah bisa pelaksanaan di lapangan sesuai perintah beliau. Namun yang jelas kami proses secepatnya dan kami PUPR, siap bekerja selama 24 jam,” katanya.
Namun, bagi warga, waktu yang dibutuhkan untuk perbaikan jalan masih terlalu lama. “Kami menunggu selama 12 tahun, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda perbaikan. Kalau belum, ya pisangnya tetap dibiarkan di situ,” imbuh Rumadi.
Tantangan dan Harapan
Kondisi jalan rusak di Kecamatan Plosoklaten bukan hanya masalah teknis, tetapi juga menjadi cerminan dari kesulitan pemerintah daerah dalam menangani infrastruktur. Meskipun ada rencana perbaikan, warga masih merasa bahwa penanganan masih terlalu lambat dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
[IMAGE: Warga menanam pohon pisang di jalan rusak sebagai simbol protes]
Bagi warga, aksi tanam pisang bukan hanya sekadar protes, tetapi juga harapan bahwa suatu hari jalan tersebut akan kembali layak digunakan. “Kami ingin jalan ini diperbaiki, agar anak-anak bisa sekolah dengan aman, kendaraan bisa lewat tanpa terjebak, dan kehidupan masyarakat bisa kembali normal,” ujar Rumadi.
Kesimpulan
Permasalahan jalan rusak di Kecamatan Plosoklaten menjadi isu penting yang harus segera ditangani. Aksi tanam pohon pisang oleh warga bukan hanya sekadar simbol, tetapi juga bentuk kekecewaan terhadap ketidaktanggungjawaban pemerintah daerah. Dengan dukungan dari pihak terkait, diharapkan jalan tersebut segera diperbaiki agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
