Indeks obligasi naik 12,42% pada 2025, yield bergerak turun

, JAKARTA — Pasar obligasi Indonesia menorehkan kinerja positif sepanjang 2025. Meski demikian kenaikan Indonesia Composite Bond Index (ICBI) tak setinggi indeks harga saham gabungan (IHSG).

Berdasarkan data PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), ICBI mencatatkan kenaikan return sebesar 12,42% dari level 392,6628 ke level 441,4269 pada akhir 2025. Performa itu lebih rendah atau underperform dari IHSG yang naik 22,13% year-on-year (YoY) ke level 8.646,93 per 30 Desember 2025. 

Selain ICBI, PHEI mencatat kinerja indeks return obligasi korporasi atau INDOBeXC-Total Return menghasilkan return sebesar 12,19% YoY.

Tim Analis PHEI menyampaikan pasar obligasi Indonesia menunjukkan kinerja positif seiring indeks return yang mengalami penguatan dan menyentuh rekor tertingginya (all time high) untuk masing-masing kelas aset. 

“2025 menjadi tahun yang cukup volatil di mana pasar obligasi Indonesia didominasi oleh sentimen higher for longer. Meskipun The Fed telah memangkas suku bunga pada akhir 2024 hingga mencapai kisaran 4,25%-4,50%, pelaku pasar memasuki 2025 dengan ekspektasi bahwa laju pelonggaran moneter akan berjalan lebih lambat dari ekspektasi awal,” paparnya dalam laporan yang dikutip Sabtu (3/1/2026). 

Pasar obligasi Indonesia bergerak cukup volatil sepanjang semester I/2025. Kuatnya pertumbuhan ekonomi AS pada awal tahun, inflasi inti yang tetap persisten, serta ketegangan geopolitik membuat yield US Treasury kembali bergerak naik. Hal tersebut berdampak pada pelemahan rupiah dan membuat Bank Indonesia menjaga sikap hati-hati dengan mempertahankan BI Rate di level 6,00% pada semester I/2025.

Di saat yang sama, lanjutnya, wacana kebijakan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump membuat gejolak pada perdagangan global, dan juga nilai tukar dunia. Selain itu ekspektasi kebijakan fiskal ekspansif, dan potensi pengetatan imigrasi menciptakan ketidakpastian pada perekonomian AS. 

“Kombinasi ini meningkatkan risk-off sentiment di pasar keuangan global dan menahan aliran dana asing masuk ke emerging markets, termasuk Indonesia.”

Namun memasuki semester II/2025, tekanan pasar mulai mereda. Data inflasi AS dan tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda moderasi, sejalan dengan pelonggaran moneter lanjutan oleh bank sentral global seperti Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB). Hal ini memberikan stabilisasi bagi yield UST dan membantu penurunan volatilitas pasar obligasi Indonesia.

Di sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid, pertumbuhan stabil berada di sekitar 5%–5,2% dengan inflasi yang terkendali, serta surplus neraca perdagangan yang terus berlanjut menjadi katalis utama bagi pasar obligasi Indonesia. 

Permintaan domestik menjadi penopang utama pasar SBN sepanjang 2025. Institusi Bank menjadi pembeli utama SBN pada 2025, selain itu institusi non-bank seperti dana pensiun dan asuransi memiliki kebutuhan reinvestasi yang besar sehingga secara efektif menyerap sebagian besar penerbitan SBN.

Dari sisi korporasi, PHEI mencatat nilai obligasi yang jatuh tempo sebesar Rp151,6 triliun pada 2025. Kebutuhan refinancing obligasi jatuh tempo itu mendorong peningkatan penerbitan baru, didorong optimisme pemerintahan Prabowo–Gibran dan didukung oleh cost of funds rendah. 

“Hal itu menjadi alasan utama bagi pelaku korporasi menerbitkan obligasi baru pada 2025, mendorong penerbitan obligasi korporasi (termasuk EBA) tahun ini mencapai level tertinggi yaitu Rp216,68 triliun,” tulisnya.

Secara keseluruhan, pasar obligasi pada 2025 berlangsung dalam kondisi yang fluktuatif pada paruh pertama tetapi cenderung stabil pada paruh kedua. Hal itu a.l. tecermin pada pergerakan yield yang bergerak turun dengan sensitivitas tinggi pada sentimen global.

Pos terkait