KediriNews.com – Longsoran tanah yang terjadi di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menyebabkan akses menuju destinasi wisata alam seperti air terjun menjadi terputus. Peristiwa ini terjadi pada 8 Februari 2025, dan berdampak langsung pada aktivitas pariwisata di kawasan tersebut. Dalam laporan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, longsor terjadi di dua titik yang berbeda, mengakibatkan jalan utama yang biasanya digunakan pengunjung untuk mencapai lokasi wisata tertutup total.
“Longsoran tanah terjadi akibat hujan deras yang terus-menerus mengguyur wilayah Kecamatan Mojo sejak beberapa hari sebelumnya,” ujar Camat Mojo, Hasan, dalam pernyataannya. “Jalur yang tertutup ini berada di Desa Jugo dan Desa Surat, sehingga akses ke wisata Besuki dan air terjun Irenggolo serta Dholo menjadi tidak bisa dilalui.”
Longsoran tersebut juga menimpa fasilitas umum dan rumah warga. Meski tidak ada korban jiwa, namun kondisi jalan yang rusak memicu kekhawatiran akan risiko bencana susulan. Pihak BPBD Provinsi Jawa Timur dan petugas gabungan telah melakukan peninjauan lapangan dan mulai melakukan pembersihan material longsor. Namun, karena volume tanah yang cukup besar, diperlukan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan.
“Untuk sementara waktu, akses ke air terjun harus dialihkan ke jalur alternatif yang lebih sempit dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua,” tambah Hasan. “Ini tentu mengganggu aktivitas wisata dan mobilitas warga setempat.”
Faktor Penyebab dan Dampak
Longsoran tanah yang terjadi di Kecamatan Mojo disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, khususnya di daerah lereng Gunung Wilis yang rentan terhadap bencana alam. Berdasarkan data dari BMKG, curah hujan di wilayah ini selama periode Januari hingga Februari 2025 mencapai rata-rata 300 mm per bulan, jauh di atas rata-rata nasional. Hal ini membuat tanah di lereng gunung menjadi labil dan rentan mengalami longsoran.
- Curah hujan tinggi – Hujan deras yang terus-menerus mengguyur wilayah Kecamatan Mojo.
- Topografi lereng – Wilayah ini memiliki kemiringan yang curam, sehingga mudah terjadi longsoran.
- Tanah gembur – Struktur tanah di area wisata alam cenderung gembur dan kurang stabil.
Dampak dari longsoran ini sangat signifikan, baik secara ekonomi maupun sosial. Wisata Besuki, yang merupakan salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Kediri, kini mengalami penurunan kunjungan. Pengelola wisata dan pelaku usaha lokal merasa khawatir karena akses jalan yang tertutup menghambat aktivitas bisnis mereka.
Upaya Penanganan dan Relokasi
Pemerintah setempat bersama dengan BPBD dan instansi terkait sedang berupaya keras untuk segera membersihkan jalur yang tertutup longsoran. Petugas gabungan dari TNI-Polri, BPBD Kota Batu, relawan, dan warga setempat telah turun tangan untuk membantu proses pembersihan. Namun, karena jumlah material yang besar dan keterbatasan alat berat, proses pembersihan memakan waktu cukup lama.
Selain itu, rencana relokasi bagi warga yang tinggal di daerah rawan longsoran juga sedang dipertimbangkan. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Desa Petungroto, Dariono, usulan relokasi telah diajukan sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah terulangnya bencana serupa.
“Kami sudah mengusulkan relokasi, dan sebagai alternatif, ada lahan bengkok desa yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya. “Relokasi ini penting, bukan hanya soal kenyamanan tapi keselamatan.”
Langkah Pencegahan dan Kesadaran Masyarakat
Selain upaya pembersihan dan relokasi, pemerintah juga sedang memperkuat langkah pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Kepala BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Joko Sukrisno, menjelaskan bahwa pihaknya akan terus memantau kondisi daerah rawan longsoran dan memberikan informasi terkini kepada warga.
“Kami akan terus melakukan asesmen dan memastikan bahwa masyarakat sadar akan risiko bencana alam,” ujarnya. “Kesadaran masyarakat sangat penting dalam mencegah terjadinya bencana susulan.”
Selain itu, pihak BPBD juga sedang merancang program mitigasi bencana yang lebih sistematis, termasuk pembuatan tanggul penahan tanah dan penanaman vegetasi penyerap air di daerah lereng.
Kesimpulan
Peristiwa longsoran di Kecamatan Mojo, yang menyebabkan akses wisata air terjun terputus, menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih waspada terhadap ancaman bencana alam. Meskipun upaya pembersihan dan relokasi sedang dilakukan, diperlukan kerja sama yang lebih intensif antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait untuk mencegah terulangnya bencana serupa. Dengan pendekatan yang lebih proaktif, diharapkan kawasan wisata alam di Kecamatan Mojo tetap dapat dinikmati oleh para pengunjung tanpa mengorbankan keselamatan dan kenyamanan.
