KediriNews.com – Harga daging sapi di pasar tradisional kembali mengalami lonjakan signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah atau Lebaran 2025. Di Pasar Setono Betek, Kecamatan Kota, harga daging sapi kualitas I dan II melonjak hingga mencapai Rp150.000 per kilogram. Kenaikan ini tercatat pada tanggal 15 Maret 2025, yang menjadi salah satu indikator kenaikan harga pangan strategis nasional.
“Harga daging sapi kualitas I naik 2,08% menjadi Rp142.450 per kilogram (kg), sementara daging sapi kualitas II naik 2,4% menjadi Rp134.250/kg,” ujar Arief Prasetyo Adi, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), dalam pernyataannya beberapa waktu lalu. Meski demikian, di beberapa daerah seperti Kediri, harga daging sapi kualitas I bahkan tembus di atas angka tersebut, yaitu Rp150.000 per kg.
Penyebab Kenaikan Harga Daging Sapi
Beberapa faktor menyebabkan kenaikan harga daging sapi, salah satunya adalah fluktuasi harga pakan ternak. Sebagaimana dilaporkan oleh media lokal, kenaikan harga pakan ternak memicu lonjakan harga daging ayam di pasaran, yang juga berdampak pada harga daging sapi. Hal ini terlihat jelas di Pasar Setono Betek, Kecamatan Kota, di mana para pedagang mengeluhkan penurunan omzet akibat kenaikan harga.
“Pembeli sekarang cuma beli seperempat kilo, biasanya setengah kilo,” keluh Bu Fitri, seorang pedagang ayam asal Kwadungan yang sudah berjualan sejak tahun 1982. Ia menambahkan, kenaikan harga yang terjadi secara bertahap dalam dua bulan terakhir membuat pembeli enggan membeli. Bahkan, bagian ceker dan kepala ayam kini tak laku terjual.
Dampak pada Masyarakat dan Usaha
Kenaikan harga daging sapi tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga pada masyarakat umum dan pelaku usaha. Misalnya, pengusaha katering harus menyesuaikan biaya produksi mereka. Kutiyah, seorang pembeli dari Ngrogo, Kediri, mengaku sangat keberatan dengan kenaikan harga daging ayam yang turut memengaruhi bisnisnya.
“Sangat kemahalan, Mas. Kalau standar itu Rp 32.000,” ujarnya. Ia harus menambah pengeluaran hingga Rp 140.000 per hari hanya untuk membeli ayam, padahal harga bumbu lainnya juga ikut naik. Ia pun harus mengurangi keuntungan demi mempertahankan bisnisnya.
Langkah Pemerintah dalam Mengendalikan Harga
Menurut Arief Prasetyo Adi, pihaknya akan terus berusaha agar harga daging sapi di tingkat peternak tidak lebih dari Harga Acuan Penjualan (HAP) di Rp 140.000/kilogram. Ia menegaskan bahwa harga daging di tingkat peternak seharusnya berada di kisaran Rp 120.000-130.000/kilogram, meskipun saat ini sedang mengalami kenaikan.
“Peternak itu harganya memang seharusnya sampai dengan Rp 140.000, kemarin itu karena PMK jadi memang harus naik,” tegasnya lagi. Ia juga menekankan bahwa harga daging secondary cut atau potongan sekunder harusnya di bawah Rp 140.000, bukan untuk daging prime cut yang dari awal memang mahal.
Perkiraan Stok dan Impor Daging Kerbau
Selain daging sapi, stok daging kerbau juga menjadi perhatian pemerintah. Menurut Arief, stok daging kerbau di Indonesia masih di kisaran 30.000 ton, dengan rencana impor sekitar 3.000-4.000 ton pada bulan Maret 2025. Dengan adanya impor ini, diharapkan harga daging kerbau bisa stabil di kisaran Rp 80.000-100.000 per kilogram.
Kesimpulan
Lonjakan harga daging sapi menjelang Lebaran 2025 menjadi isu penting yang memengaruhi ekonomi masyarakat. Dari segi produsen hingga konsumen, semua pihak terkena dampak kenaikan harga ini. Namun, pemerintah terus berupaya mengendalikan harga dengan mengecek stok dan memastikan harga sesuai dengan HET. Semoga kenaikan harga ini dapat segera diminimalkan agar masyarakat tetap nyaman dalam merayakan Lebaran.
