KediriNews.com – Harga cabai yang melonjak tajam pada awal tahun 2025 membuat para emak-emak di Pasar Pamenang Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, kebingungan. Pada 2 Januari 2025, harga cabai merah dan cabai rawit mencapai angka Rp120 ribu per kilogram, angka yang sangat tinggi dibandingkan harga normal sebelumnya. “Saya tidak bisa lagi beli cabai seperti biasa. Harganya terlalu mahal,” ujar Siti, salah satu pengunjung pasar yang mengeluh.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan kenaikan sebesar 1,98% month to month (mtm) pada Januari 2025. Dalam laporan tersebut, cabai merah dan cabai rawit menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan masing-masing 61,67% dan 65,84%. “Penyebab utamanya adalah curah hujan yang tinggi pada Januari 2025, yang memengaruhi produksi tanaman hortikultura seperti cabai,” jelas Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga Cabai
Beberapa faktor menyebabkan kenaikan harga cabai di berbagai daerah, termasuk Kediri. Salah satunya adalah kondisi cuaca yang tidak menentu. Curah hujan yang tinggi pada bulan Januari 2025 mengganggu proses panen dan produksi cabai. Selain itu, adanya gangguan logistik dan distribusi juga berdampak pada kenaikan harga.
Selain cuaca, permintaan pasar yang meningkat menjelang bulan Ramadan juga turut berkontribusi. Masyarakat cenderung membeli bahan pokok dalam jumlah lebih banyak, sehingga memicu lonjakan harga. “Harga cabai naik karena permintaan tinggi dan pasokan yang tidak stabil,” kata Ibu Rina, pedagang cabai di Pasar Pamenang.
Dampak pada Masyarakat
Kenaikan harga cabai memberikan dampak signifikan pada masyarakat, terutama para ibu rumah tangga. Banyak dari mereka harus memangkas pengeluaran lain untuk bisa memenuhi kebutuhan dapur. “Dulu saya bisa beli cabai hanya Rp50 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp120 ribu. Ini sangat memberatkan,” keluh Siti.
Pengeluaran rumah tangga yang semakin besar juga memicu kekhawatiran akan inflasi yang lebih luas. Banyak warga khawatir bahwa kenaikan harga cabai ini akan berdampak pada harga bahan pangan lainnya. “Kalau cabai naik, pasti bahan-bahan lain juga ikut naik. Ini sangat mengganggu kehidupan ekonomi masyarakat,” tambah Ibu Rina.
Langkah Pemerintah dan Solusi yang Ditunggu
Pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk mengendalikan inflasi, termasuk mengimbau kepada petani untuk meningkatkan produksi cabai. Namun, solusi yang diharapkan oleh masyarakat belum sepenuhnya terwujud. Beberapa warga mengusulkan agar pemerintah mengadakan pasar murah atau subsidi untuk membantu meringankan beban masyarakat.
“Kami berharap pemerintah bisa memberikan solusi nyata, seperti pasar murah atau bantuan langsung tunai. Jika tidak, masyarakat akan semakin sulit bertahan,” harap Siti.
Tantangan di Tengah Inflasi Tinggi
Di tengah situasi ini, masyarakat dihadapkan pada tantangan ekonomi yang semakin berat. Harga bahan pokok lain seperti beras, minyak goreng, dan telur juga mengalami kenaikan. Hal ini membuat masyarakat semakin waspada terhadap perkembangan inflasi dan harga-harga pangan.
Meski begitu, masyarakat tetap berharap ada solusi yang dapat segera diterapkan. “Semoga pemerintah bisa segera mengambil tindakan efektif agar harga-harga ini bisa kembali stabil,” ujar Ibu Rina.
Kesimpulan
Kenaikan harga cabai pada awal tahun 2025 menjadi isu penting yang memengaruhi kehidupan masyarakat, khususnya para emak-emak di Pasar Pamenang Kecamatan Pare. Dengan harga yang melampaui batas normal, masyarakat mulai merasa kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok. Meski pemerintah telah mengambil langkah-langkah tertentu, solusi yang diharapkan masih dinantikan. Semoga masalah ini segera teratasi agar masyarakat dapat kembali merasakan stabilitas ekonomi.
