KediriNews.com – Tradisi Grebeg Tahu Kuning di SLG (Sekolah Luar Biasa) Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, kembali memicu antusiasme warga pada Minggu, 7 Desember 2025. Acara tahunan ini menjadi ajang syukur atas hasil panen dan keberkahan, sekaligus menunjukkan semangat gotong royong masyarakat setempat. Dalam tradisi ini, tahu kuning khas Kediri menjadi pusat perhatian, dengan ribuan warga berebut untuk mendapatkannya.
Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual budaya, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap warisan leluhur yang terus dilestarikan. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu peserta, “Tadi terpaksa berebut karena takut nggak kebagian, Alhamdulillah dapat sayur dan buah-buahan. Nanti dimasak buat makan bareng keluarga di rumah,” ujar Dian, warga setempat. Antusiasme warga terlihat dari kerumunan yang memadati jalan saat gunungan tahu kuning dan hasil bumi ditaruh di tengah jalan.
-
Sejarah dan Makna Tradisi Grebeg Tahu Kuning
Grebeg Tahu Kuning merupakan bagian dari rangkaian acara sedekah bumi dan bersih desa yang digelar setiap tahun. Tradisi ini memiliki makna simbolis sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Tuhan, baik dalam bentuk hasil panen maupun keselamatan. Tahu kuning, yang menjadi ciri khas Kediri, disajikan dalam bentuk gunungan besar yang diarak dan dibagikan kepada warga. Selain tahu, berbagai jenis sayuran seperti tomat, wortel, bayam, dan kacang panjang turut dikirab sebagai bentuk apresiasi terhadap petani setempat. -
Prosesi dan Persiapan Acara
Acara dimulai sejak pagi hari dengan arak-arakan gunungan yang diiringi seni tradisional. Gunungan tahu kuning dan hasil bumi diletakkan di tengah jalan, menjadi pusat perhatian warga yang sudah menanti sejak pagi. Warga rela berdesak-desakan demi bisa mendapatkan tahu kuning dan hasil bumi yang diperebutkan. Meski panitia mengimbau agar tidak saling dorong, antusiasme warga membuat suasana menjadi lebih padat. -
Peran UMKM dan Petani Lokal
Tahu kuning yang digunakan dalam acara ini merupakan produksi warga sendiri, sementara hasil bumi seperti lombok dan sayuran berasal dari petani setempat. Hal ini menunjukkan komitmen masyarakat untuk menjaga keberlanjutan usaha UMKM dan memberdayakan ekonomi lokal. “Tahu ini khas Kediri. Kami juga menambahkan hasil bumi dari petani sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rezeki dan panen yang melimpah,” ujar Kepala Desa Toyoresmi, Gatot Siswanto. -
Dampak Budaya dan Pariwisata
Tradisi Grebeg Tahu Kuning tidak hanya menjadi ajang syukur, tetapi juga menjadi daya tarik wisata bagi masyarakat luas. Dengan adanya acara ini, Desa Toyoresmi dan sekitarnya semakin dikenal sebagai tempat yang menyimpan nilai-nilai budaya dan religius. Bahkan, beberapa peziarah dari luar daerah sering datang untuk mengikuti acara ini. “Mudah-mudahan bisa menjadi destinasi wisata di Kabupaten Kediri,” harap Gatot. -
Harapan Masa Depan
Menurut Kades Gatot, tradisi ini akan terus dilanjutkan setiap tahun dengan harapan semakin banyak warga yang ikut serta. Ia berharap, melalui acara ini, masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kearifan lokal dan meningkatkan rasa syukur terhadap segala nikmat yang diberikan Tuhan. “Ini sebagai ungkapan rasa syukur dari warga atas nikmat dan keselamatan serta keberkahan yang diberikan oleh Allah SWT,” tutupnya.
