KediriNews.com – Di tengah kekayaan kuliner tradisional yang mengalir deras di berbagai sudut Yogyakarta, salah satu peristiwa menarik yang akan digelar pada 15 Oktober 2025 adalah pameran dan festival geplak bantul di Kecamatan Ngasem. Geplak, kudapan khas Bantul yang terbuat dari kelapa parut dan gula, akan dipertontonkan dalam berbagai warna-warni yang menarik perhatian pengunjung. Dengan penampilan yang memukau, acara ini diharapkan menjadi ajang promosi budaya lokal sekaligus meningkatkan daya tarik wisatawan.
Geplak tidak hanya dikenal sebagai camilan manis, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang dalam. Menurut laman Warisan Budaya Tak Benda, geplak sudah ada sejak abad ke-19. Nama geplak disebutkan dalam Serat Centhini jilid VI, yang berisi tentang pengembaraan Syech Amongraga. Dalam dokumentasi Mustikarasa tahun 1967, geplak disebut sebagai resep masakan Jogja yang legendaris. “Geplak itu makanan khas daerah Bantul. Saya enggak tahu kalau di tempat lain, tapi kalau di sini pure cuma parutan kelapa sama gula,” ujar Mala, pemilik usaha geplak di Bantul, seperti dilansir dari KOMPAS.com.
Dalam acara tersebut, para pengunjung akan bisa melihat proses pembuatan geplak secara langsung. Para pelaku usaha lokal akan memperlihatkan bagaimana kelapa parut dicampur dengan gula merah atau gula aren, lalu dibentuk sesuai selera. Selain itu, mereka juga akan menambahkan pewarna alami untuk memberikan warna-warni yang menarik. “Kalau yang berwarna itu ada pewarna makanan, kalau cuma putih sama coklat jadinya pucat,” tambah Mala.
Sejarah dan Keunikan Geplak
Geplak merupakan kudapan tradisional yang telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Bantul sejak ratusan tahun lalu. Awalnya, geplak dibuat sebagai camilan yang bisa bertahan lama karena bahan utamanya adalah kelapa dan gula. Dalam buku “Kuliner Yogyakarta – Pantas Dikenang Sepanjang Masa” (2017) oleh Murdijati Gardjito, dkk., disebutkan bahwa geplak lahir dari pengolahan dua bahan utama yaitu gula tebu dan kelapa. Keduanya diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan camilan yang kini dikenal dengan nama geplak.
Geplak Bantul memiliki ciri khas yang berbeda dari geplak di daerah lain. Misalnya, geplak Bantul lebih lembut dan memiliki tekstur yang kenyal. Selain itu, rasa manisnya juga lebih kuat karena menggunakan gula aren yang khas. “Di samping itu, daya tarik geplak dari Bantul juga lebih kuat. Jadi, masyarakat sekarang lebih mengenalnya,” tulis Murdijati Gardjito dalam bukunya.
Peran Geplak dalam Budaya Lokal
Geplak tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga memiliki makna budaya yang dalam. Dalam beberapa ritual adat, geplak sering kali digunakan sebagai persembahan atau oleh-oleh. Contohnya, dalam acara pernikahan, geplak sering disajikan sebagai hidangan pelengkap. Hal ini menunjukkan bahwa geplak bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol dari kebersamaan dan kesederhanaan.
Selain itu, geplak juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Bantul. Dengan adanya festival geplak di Kecamatan Ngasem, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami dan melestarikan warisan budaya ini. Festival ini juga akan menjadi ajang promosi bagi para pelaku usaha lokal yang ingin memperkenalkan produk mereka kepada kalangan lebih luas.
Pengunjung Tertarik dengan Warna-Warni Geplak
Salah satu hal yang membuat geplak semakin diminati adalah variasi warna yang ditawarkan. Dengan penambahan pewarna makanan, geplak kini hadir dalam berbagai warna seperti merah muda, hijau, biru, dan kuning. Hal ini membuat geplak lebih menarik secara visual dan cocok untuk dijadikan oleh-oleh.
Menurut Cynthia Mala Silvia, pemilik usaha geplak, warna-warna ini juga memberikan kesan estetika yang tinggi. “Biasanya geplak ditambahkan dengan pewarna makanan untuk mempercantik tampilannya. Kalau yang berwarna itu ada pewarna makanan, kalau cuma putih sama coklat jadinya pucat,” jelasnya.
Acara yang Menarik Minat Wisatawan
Festival geplak di Kecamatan Ngasem pada 15 Oktober 2025 akan menjadi acara yang sangat dinantikan oleh wisatawan. Acara ini tidak hanya menampilkan geplak, tetapi juga berbagai aktivitas lain seperti pertunjukan seni, demo masak, dan pameran kerajinan tangan. Pengunjung juga akan bisa mencicipi berbagai jenis geplak yang tersedia, mulai dari geplak biasa hingga geplak rasa buah-buahan.
Selain itu, acara ini juga akan memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha lokal untuk mempromosikan produk mereka. Dengan adanya festival ini, diharapkan akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Kesimpulan
Geplak Bantul adalah kudapan tradisional yang tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang mendalam. Dengan adanya festival geplak di Kecamatan Ngasem pada 15 Oktober 2025, diharapkan masyarakat dan wisatawan dapat lebih mengenal serta melestarikan warisan budaya ini. Dengan warna-warni yang menarik dan cita rasa yang khas, geplak akan terus menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta yang tak tergantikan.
