KediriNews.com – Fenomena embun es atau embun upas yang terjadi di Puncak Wilis Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi perhatian masyarakat setempat dan para pengunjung wisata. Pada pagi hari, 3 Desember 2025, suhu udara mencapai titik ekstrem yang memicu munculnya embun upas di kawasan tersebut. Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian para wisatawan tetapi juga menjadi peringatan akan perubahan cuaca yang bisa terjadi di daerah dataran tinggi.
“Embun upas ini biasanya muncul ketika suhu turun hingga di bawah titik beku. Di Puncak Wilis, kita sering melihat fenomena ini terutama saat musim kemarau,” ujar salah satu warga setempat, Dedi Suryadi.
Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian embun es di wilayah pegunungan seperti Puncak Wilis disebabkan oleh penurunan suhu udara yang sangat drastis, terutama di pagi hari sebelum matahari terbit. Suhu rata-rata di kawasan ini pada waktu itu mencapai 4-6 derajat Celsius, sehingga memicu kondensasi uap air di permukaan tanah dan tumbuhan, membentuk lapisan es tipis yang terlihat seperti salju.
Penyebab Fenomena Embun Upas

Fenomena embun upas di Puncak Wilis tidak terlepas dari kondisi iklim dan geografis wilayah tersebut. Kawasan ini berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, sehingga memiliki suhu yang lebih rendah dibanding daerah dataran rendah. Selain itu, angin musim timur yang bertiup dari arah laut mengandung kelembapan tinggi, yang ketika bertemu dengan suhu dingin di malam hari, menyebabkan terbentuknya embun es.
“Berdasarkan data BMKG, suhu ekstrem di kawasan ini bisa terjadi karena adanya aliran udara dingin dari utara yang membawa massa udara lembap,” jelas Dr. Arif Wibowo, ahli meteorologi dari Universitas Negeri Malang. “Puncak Wilis merupakan salah satu lokasi yang rentan terhadap fenomena ini, terutama jika ada perubahan pola cuaca akibat perubahan iklim.”
Dampak dan Peringatan
Meskipun fenomena embun upas tidak menimbulkan dampak langsung yang merusak, masyarakat dan pengunjung diminta untuk tetap waspada. Cuaca dingin ekstrem dapat memengaruhi kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit pernapasan atau daya tahan tubuh rendah.
“Kami mengimbau pengunjung untuk membawa pakaian hangat dan menjaga kesehatan selama berkunjung ke Puncak Wilis,” kata Kepala Desa Mojo, Suryadi. “Saat ini, kami juga sedang memperbaiki jalur-jalur pendakian agar aman dan nyaman untuk pengunjung.”
Keunikan Wisata dan Potensi Ekonomi
Selain sebagai fenomena alam, embun upas di Puncak Wilis juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Banyak pengunjung yang sengaja datang untuk menyaksikan pemandangan yang langka ini. Mereka mengabadikan momen tersebut melalui foto dan video, yang kemudian dibagikan di media sosial.
“Kami menduga bahwa fenomena ini bisa meningkatkan kunjungan wisata ke kawasan ini,” tambah Suryadi. “Kami juga sedang merancang beberapa program edukasi dan pariwisata berbasis alam untuk menarik minat masyarakat luas.”
Tantangan dan Langkah Penanggulangan
Meski fenomena embun upas menarik perhatian, masyarakat dan pemerintah setempat tetap menghadapi tantangan dalam mengelola kawasan ini. Keterbatasan infrastruktur dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang perlindungan lingkungan menjadi isu penting yang perlu diperhatikan.
“Kami berharap pemerintah pusat dan daerah bisa memberikan dukungan lebih dalam pembangunan infrastruktur dan edukasi lingkungan,” ujar Suryadi. “Kami ingin Puncak Wilis tetap menjadi tempat yang indah dan aman untuk dikunjungi.”
Dengan adanya fenomena embun upas di Puncak Wilis Kecamatan Mojo, masyarakat dan pemerintah diharapkan lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan memahami dinamika cuaca. Fenomena alam ini tidak hanya menjadi atraksi wisata, tetapi juga menjadi pelajaran tentang perubahan iklim yang semakin mengancam kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.
PuncakWilis #EmbunUpas #CuacaEkstrem #WisataAlam #KediriNews
