Ekspor Perdana Lele dari Kecamatan Pare ke Malaysia Tanggal 8 Desember 2025

KediriNews.com – Pada 8 Desember 2025, Kecamatan Pare di Kabupaten Kediri akan mencatat sejarah baru dalam sektor perikanan budidaya. Pada hari tersebut, ekspor perdana lele dari kawasan ini akan dilakukan ke negara tetangga, Malaysia. Ini menjadi momen penting bagi para petani lele setempat yang telah berupaya keras untuk memenuhi standar mutu dan keamanan pangan internasional.

“Ini adalah langkah besar bagi kami. Kami sangat bangga bisa mengirimkan produk lele dari Pare ke pasar luar negeri,” ujar salah satu petani lele di Pare, Suryadi. Ia menambahkan bahwa proses persiapan sudah dilakukan selama beberapa bulan, termasuk pengujian kualitas dan sertifikasi CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) yang diperlukan untuk ekspor.

  1. Pengembangan Budidaya Berkelanjutan
  2. Kecamatan Pare telah menjalankan strategi pengembangan industri budidaya lele berkelanjutan. Dengan adopsi teknologi seperti Recirculating Aquaculture System (RAS) dan bioflok, produksi lele meningkat secara signifikan.
  3. Teknologi RAS mampu meningkatkan produktivitas hingga 100 kali lipat dibanding metode konvensional, sementara bioflok membantu meningkatkan kualitas ikan dan daya tarik pasar.
  4. Penggunaan pakan mandiri juga mulai diterapkan, sehingga biaya produksi lebih efisien dan ramah lingkungan.

  5. Peran Pemerintah dan Asosiasi

  6. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, menyatakan bahwa ekspor lele merupakan peluang emas bagi sektor perikanan nasional.
  7. “Diprediksi, nantinya akan sangat bergantung pada perikanan budidaya. Ini peluang bagi pelaku usaha lele untuk menyuplai kebutuhannya termasuk untuk kepentingan ekspor,” jelasnya.
  8. Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Imza Hermawan, menegaskan bahwa sertifikasi CBIB sangat penting untuk menembus pasar ekspor. “CBIB ini mutlak sebagai syarat menembus ekspor dan meningkatkan daya saing produk.”

  9. Tren Permintaan Global

  10. Lembaga Pangan Dunia (FAO) mencatat bahwa produksi ikan global terus meningkat, bahkan pertumbuhan kebutuhan ikan global justru terus tumbuh hingga melebihi populasi penduduk dunia.
  11. Negara-negara tujuan ekspor seperti Malaysia, China, dan Amerika Serikat memiliki permintaan tinggi terhadap produk perikanan, termasuk lele.
  12. Contohnya, ekspor perikanan dari Maluku ke sejumlah negara di Asia dan Amerika mencatatkan nilai sebesar 13,2 juta dollar AS pada triwulan pertama tahun 2025, dengan peningkatan signifikan pada komoditas ikan hidup.

  13. Kesiapan Infrastruktur dan Layanan Karantina

  14. Untuk mendukung ekspor lele, Karantina Maluku telah memastikan kualitas komoditas melalui tindakan pemeriksaan karantina secara menyeluruh.
  15. Pemeriksaan ini mencakup isi dan jumlah barang, serta pengecekan standar mutu dan keamanan pangan sesuai persyaratan negara tujuan.
  16. Aplikasi Best Trust digunakan untuk memfasilitasi proses perdagangan dengan layanan 24 jam, memudahkan eksportir dalam mengajukan sertifikasi kesehatan karantina (KI.1).

  1. Potensi Ekspor dan Pasar Masa Depan
  2. Ekspor perdana lele dari Pare ke Malaysia diharapkan menjadi awal dari ekspansi pasar yang lebih luas. Dengan kualitas yang terjaga dan harga yang kompetitif, lele dari Pare dapat bersaing di pasar internasional.
  3. Menurut Slamet Soebjakto, potensi industri lele ke depan sangat terbuka, terutama di pasar Timur Tengah dan Eropa.
  4. “Saya optimis lele ini akan menjadi primadona bukan hanya di level domestik. Tapi juga dapat menguasai pangsa pasar ekspor utamanya ke Timur Tengah,” pungkasnya.

Hashtag Terkait:

EksporLele #KecamatanPare #BudidayaLele #IndustriPerikanan #Malaysia #KabupatenKediri #EksporPerdana #PanganNasional #TeknologiPerikanan #SertifikasiCBIB

Pos terkait