Laporan Wartawan , Garudea Prabawati dan Gilang Putranto
– Sambil membuka layar laptop, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Ninik Chaeroni memperlihatkan satu per satu kolom dalam platform bernama E-Kendali.
Tampak dalam kolom ‘Indikator’, tertulis Perencanaan dan Sosialisasi Tahunan Program Literasi dan Numerasi hingga rekomendasi: Kegiatan 15 menit membaca.
E-Kendali, sebuah platform sederhana, namun sarat makna, lahir dari kebaikan dan kerja bersama: para guru, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal serta Tanoto Foundation.
E-Kendali menampilkan data pendidikan secara informatif dan real-time, para guru serta kepala sekolah dapat melihat grafik capaian tiap indikator, laporan kegiatan sekolah, hingga pemetaan wilayah berdasarkan tingkat ketercapaian.
“Kehadiran E-Kendali, menjadi alat strategis dalam mendukung pengembangan kemampuan peserta didik, khususnya pada aspek literasi dan numerasi yang menjadi fondasi utama pendidikan dasar,” ujar Ninik kepada Tribunnews, saat dikonfirmasi Jumat (9/1/2026).
Ninik juga mengatakan lewat E-Kendali, setiap sekolah bisa melakukan self assestment, para guru maupun kepala sekolah juga dapat membagikan serta mengadopsi praktik baik yang sudah dilakukan pengajar lainnya.
Setelah guru mengisi indikator, sistem akan menampilkan predikat capaian sekolah, hal ini tentu saja memudahkan Disdikbud Kendal menentukan sekolah mana yang butuh pendampingan intensif hingga seperti apa bentuk pendampingannya.
“Sehingga kami tahu treatment seperti apa yang dapat difokuskan pada masing-masing sekolah yang memerlukan pendampingan,” imbuhnya.
Praktik tersebut dinilai efektif, mengingat jumlah SD di Kendal sebanyak 567 hingga jumlah guru kurang lebih sebanyak 6.000 tersebar di 20 kecamatan, Kendal, Jawa Tengah.
Kolaborasi Berbuah Regulasi
E-Kendali diluncurkan sebagai implementasi Peraturan Gubernur (Perbup) Kendal Nomor 49 Tahun 2024.
Lantas apa itu Perbup Kendal Nomor 49 Tahun 2024?
Seperti halnya E-Kendali, lahirnya Perbup Kendal Nomor 49 pada 2024 juga merupakan hasil kolaboratif lintas sektor yang menjadi sebuah kebijakan.
Ninik menerangkan Perbup tersebut berisi tentang gerakan peningkatan kemampuan literasi dan numerasi, juga dirancang untuk menjawab kebutuhan akan sistem pembelajaran yang akuntabel, dan terukur.
“Perbup Kendal Nomor 49 merupakan hasil kerja kolektif yang terus terbangun antara pendidik atau guru di Kendal, pemerintah daerah serta Tanoto Foundation,” lanjut Ninik.
Kerja bersama yang panjang itu tak berhenti di materi dan pelatihan saja.
Disdikbud Kendal, bersama masukan dari banyak guru serta rekomendasi teknis dari Tanoto Foundation, akhirnya mendorong lahirnya Perbup Kendal Nomor 49.
Perbup ini menjadi tonggak penting.
Yakni regulasi resmi yang mengatur penguatan literasi dan numerasi, sekaligus memperkuat peran guru, kepala sekolah, dan komunitas dalam praktik pembelajaran yang lebih bermakna.
Ninik menyebut Perbup ini sebagai bukti bahwa perubahan yang dimulai guru di kelas kini sudah naik kelas menjadi arah kebijakan kabupaten.
“Kalau dulu saya hanya memprogramkan sekolah saya sendiri, pada saat itu saya ingin sekolah saya yang nomor satu. Sekarang saya harus memastikan semua sekolah bergerak. Perbup ini salah satu jalannya,” katanya sambil tersenyum.
Program Lengkap dari Pelaksanaan hingga Evaluasi
Dalam praktik di lapangan, kebijakan Perbup Kendal Nomor 49 Tahun 2024 serta E-Kendali memberikan ruang dan pengarahan untuk para pendidik serta kepala sekolah bergerak dalam proses belajar mengajar.
Kepala SD Negeri 1 Kebumen dan SD Negeri 2 Sukorejo Kabupaten Kendal, Diannita Ayu Kurniasih misalnya mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran terutama literasi dan numerasi adalah komitmen dan konsistensi para pendidik di satuan pendidikan.
“Jadi sebenarnya saya yakin teman-teman guru, kepala sekolah itu punya kemampuan, hanya komitmen untuk konsisten begitu dalam berinovasi, berkreasi, serta berkolaborasi dalam mengintegrasikan literasi dan numerasi,” ungkap Diannita dalam program dialog Overview Tribunnews, yang tayang di YouTube Tribunnews, Jumat, 21 November 2025 lalu.
Dari pengalamannya, Dian menyebut cara mengatasi tantangan tersebut adalah dengan menerapkan budaya literasi dan numerasi.
Selain itu, belum adanya panduan yang bisa dijadikan rujukan sekolah membuat para guru kesulitan untuk merancang program peningkatan literasi dan numerasi.
Tetapi, munculnya Perbup No 49 Tahun 2024 memberikan jawaban atas kesulitan tersebut.
Perbup tersebut juga dilengkapi Petunjuk Teknis (Juknis) Tentang Gerakan Peningkatan Kemampuan Literasi dan Numerasi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 400.3/1628/Disdikbud Kendal.
Dikutip dari Juknis Nomor 400.3/1628/Disdikbud Kendal, berikut daftar 14 kegiatan yang bisa dipakai sekolah untuk meningkatkan literasi dan numerasi:
- Perencanaan & Sosialisasi Program Litnum
- 15 Menit Membaca
- Perpustakaan Standar
- Pelatihan & Big Book
- Pojok/Saung Baca
- Bulan/Wisata Literasi & Numerasi
- Kolaborasi Bahan Bacaan
- Big Book oleh Guru & Peserta didik
- Laman Literasi
- Kelas Numerasi Kontekstual
- Tantangan Numerasi Harian
- Festival Numerasi Sekolah
- Literasi Digital
- Lingkungan Kaya Sumber Belajar Litnum
“Adanya Perbup 49 itu sangat membantu kami ya. Awalnya sekolah sudah melakukan kegiatan tapi belum ada panduan yang dijadikan rujukan. Jadi begitu Perbup 49 itu diluncurkan kami jadi ada panduan. Oh, panduan untuk peningkatan literasi numerasi itu salah satu alternatifnya ada di Petunjuk Teknis,” ungkap Dian.
Sekolah yang sebelumnya kegiatan peningkatan literasi numerasinya masih belum terprogram, sekarang sudah memiliki acuan minimal dari Perbup yang diturunkan menjadi program-program sekolah.
“Di Juknis jelas sekali menerangkan kegiatannya apa saja, indikator capaiannya apa saja, nanti yang bisa menunjukkan kalau kegiatan ini terlaksana itu di bagian mananya saja, kalau sekolah sudah ada nanti peningkatannya seperti apa. Nah, itu jelas sekali kami di sekolah itu bisa merujuk ke Perbup itu untuk menyusun program literasi dan numerasi di sekolah,” ungkapnya.
Kolaborasi Baik yang Terus Terbangun
Sejak 2018, Pemkab Kendal lewat Disdikbud bersama satuan pendidikan dasar di wilayahnya telah menjalin kolaborasi berkelanjutan dengan Tanoto Foundation.
Berawal dari pelaksanaan Program Pintar dan terus berkembang hingga penguatan capaian literasi dan numerasi.
Di tengah laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menunjukkan skor literasi dan numerasi siswa Indonesia masih berada pada kategori rendah dan memicu kekhawatiran nasional terhadap kualitas pendidikan dasar, Kabupaten Kendal, justru tampil sebagai praktik baik melalui model kolaboratif yang solid antara pemerintah daerah, komunitas sekolah, dan mitra filantropi tersebut dalam mendorong peningkatan mutu pembelajaran dasar.
Melalui PINTAR Tanoto Foundation, para guru di Kendal diberi ruang untuk merancang dan menjalankan proyek literasi–numerasi secara mandiri, sesuai tantangan dan karakteristik sekolah masing-masing.
Program ini menjadi titik balik penting bagi guru-guru untuk tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga inovator pendidikan.
“Untuk menguatkan literasi dan numerasi, tidak ada cara lain selain kolaborasi,” lanjut Ninik, perempuan pendidik yang pernah mengikuti Program PINTAR Tanoto Foundation dan menjadi Fasda di Kendal.
Upaya peningkatan kualitas pembelajaran di Kabupaten Kendal tidak hanya berlangsung di ruang-ruang kelas, tetapi juga melalui gerakan berbagi pengetahuan antarguru.
Salah satu wadah yang lahir dari semangat kolaborasi tersebut adalah Kendal Pintar Berbagi (KPB), sebuah komunitas pembelajaran daring yang terbentuk berkat difasilitasi Tanoto Foundation.
KPB dibentuk sebagai ruang belajar bersama bagi guru-guru Kendal, khususnya untuk memperkuat kompetensi literasi, numerasi, serta kemampuan pedagogi digital.
Ninik mengatakan melalui komunitas ini, para pendidik dapat saling mendampingi, berbagi praktik baik, hingga memproduksi konten pembelajaran yang bisa diakses secara luas.
“Kami difasilitasi Tanoto Foundation untuk membentuk komunitas yang bisa memfasilitasi pembelajaran bagi guru secara daring. Maka dibentuklah ‘Kendal Pintar Berbagi’, yang sampai sekarang masih berjalan walau tidak seaktif dulu,” ungkap Ninik, sosok yang pernah menjadi Koordinator KPB untuk jenjang sekolah dasar.
Pendekatan Praktik dan Penguatan Sistem
Sementara itu dalam pandangan Tanoto Foundation, kunci kemajuan literasi dan numerasi terletak pada kolaborasi.
Sejak 2018, lembaga itu bekerja bersama Pemkab Kendal dan satuan pendidikan untuk menghadirkan perubahan yang berkelanjutan, menyampaikan praktik baik bagi satuan pendidikan.
“Kami menerapkan dua pendekatan, yakni praktik dan penguatan sistem,” ujar Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, kepada dalam acaraOverview , Jumat (21/11/2025).
Melalui pendekatan praktik, Tanoto Foundation memperkuat kapasitas guru, kepala sekolah, dan aktor pendidikan lainnya.
Mereka dilatih, didampingi, serta difasilitasi untuk menghasilkan praktik baik yang kelak menjadi acuan percepatan peningkatan mutu pembelajaran.
Praktik baik itu kemudian ditularkan kepada sekolah-sekolah lain yang belum mendapatkan pendampingan, sehingga manfaatnya meluas.
Pendekatan kedua adalah system strengthening atau penguatan sistem.
Di sini, kolaborasi dilakukan bersama Dinas Pendidikan untuk memastikan pondasi kebijakan yang kuat.
Salah satu hasilnya adalah lahirnya Peraturan Bupati Kendal Nomor 49 Tahun 2024 tentang Penguatan Literasi dan Numerasi di jenjang SD dan SMP.
Kebijakan ini menjadi payung bagi seluruh upaya perubahan, memastikan praktik baik berjalan berkelanjutan dan didukung penuh oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Implementasi penguatan literasi dan numerasi melibatkan pengawas, guru, hingga kepala sekolah. Semua bergerak dengan semangat yang sama, karena ada kebijakan yang memayungi,” jelas Anang.
Melalui perpaduan praktik lapangan dan penguatan sistem, Kendal menegaskan bahwa perubahan pendidikan hanya dapat tumbuh bila hati, komitmen, dan kolaborasi berjalan seiring.
Sementara itu tahun ini, kerja besar kembali dimulai.
Kendal terpilih mengikuti program peningkatan numerasi Tanoto Foundation di 120 sekolah dasar, di mana 50 persen lokasi kegiatan berada di Kabupaten Kendal.
Program penelitian, pelatihan, dan pendampingan ini berlangsung hingga 2027, dimulai dari persiapan pembentukan fasilitator dan pelatihan guru pada tahun depan.
Selaras Target SDGs Poin ke-4
Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Kendal, khususnya dalam mendorong capaian literasi dan numerasi sebagai bagian implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
Anang menilai Perbup Kendal Nomor 49 Tahun 2024 tentang Gerakan Peningkatan Literasi dan Numerasi sebagai fondasi strategis untuk memastikan program Revolusi Literasi dan Numerasi berjalan secara sistemik, berkelanjutan, dan berbasis kebijakan, bukan sekadar gerakan sesaat.
Melalui regulasi ini, literasi dan numerasi ditempatkan sebagai prioritas pembangunan pendidikan daerah.
“Peran kami difokuskan pada penguatan tata kelola kebijakan berbasis bukti, mulai dari membantu Dinas Pendidikan memetakan masalah literasi–numerasi, merumuskan intervensi yang relevan, hingga menyepakati indikator keberhasilan yang terukur,” ujar Anang kepada Tribunnews, Jumat (9/1/2026).
Dalam kolaborasi tersebut, Tanoto Foundation berfokus pada penguatan tata kelola kebijakan berbasis bukti.
Pendampingan dilakukan sejak tahap pemetaan persoalan literasi dan numerasi bersama Disdikud Kendal, perumusan intervensi yang relevan dengan konteks sekolah, hingga penyepakatan indikator keberhasilan yang terukur.
Upaya ini dilakukan agar kebijakan yang diambil benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran di ruang kelas.
Tanoto Foundation juga aktif mendorong terbangunnya forum kolaborasi lintas pemangku kepentingan, melibatkan pengawas sekolah, perwakilan KKKS/MKKS, Kementerian Agama (Kemenag), serta pihak terkait lainnya.
“Kami mendorong agar Perbup ini diterjemahkan ke dalam ‘aturan main operasional’ yang jelas: apa yang harus dilakukan sekolah, bukti apa yang harus ditunjukkan, siapa yang memverifikasi, dan bagaimana tindak lanjutnya,” imbuhnya lagi.
Pihanya melanjutkan bahwa fokus intervensi diarahkan pada sekolah dengan capaian numerasi rendah, penguatan perencanaan kepala sekolah, serta peningkatan praktik pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Untuk memastikan implementasi kebijakan berjalan konsisten dan terpantau, Pemerintah Kabupaten Kendal memanfaatkan platform digital E-Kendali sebagai sistem pemantauan berbasis data.
Melalui E-Kendali, sekolah melakukan penilaian mandiri terhadap 14 indikator literasi–numerasi dan delapan Standar Nasional Pendidikan, disertai bukti praktik nyata seperti program membaca 15 menit, penguatan pojok baca dan perpustakaan, pembelajaran numerasi kontekstual, hingga penyelenggaraan festival literasi–numerasi.
Seluruh data dilaporkan secara real-time dan dianalisis melalui dasbor untuk mengidentifikasi sekolah yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Tanoto Foundation turut mendorong agar hasil pemantauan E-Kendali diintegrasikan ke dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), sehingga penguatan literasi dan numerasi didukung oleh perencanaan dan penganggaran yang jelas.
“Sehingga sinergi antara Perbup, E-Kendali, dan pendampingan Tanoto Foundation ini memastikan upaya peningkatan literasi dan numerasi di Kendal selaras dengan target SDGs Poin 4, yaitu memastikan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh anak di Kabupaten Kendal,” tutupnya.
Beragam program untuk mendukung pemerintah mencapai SDGs poin ke-4 yakni pendidikan berkualitas terus dirancang dan dikembangkan Tanoto Foundation.
Salah satu wujud nyata fokus percepatan untuk mencapai pendidikan berkualitas yang dilakukan Tanoto Foundation adalah dengan mendirikan SDGs Academy Indonesia di kantor Tanoto Foundation, Jakarta Pusat.
“SDGs Academy Indonesia wujud kolaborasi Tanoto Foundation Indonesia, United Nations Development Programme (UNDP), serta Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas,” ungkap Anang.
SDGs Academy Indonesia saat ini dikelola sepenuhnya oleh Sekretariat Nasional SDGs di bawah Bappenas.
Menjadi kebanggaan bagi Tanoto Foundation program yang dicanangkan kini dapat diadopsi pemerintah dan berkembang menjadi kekayaan strategis nasional.
(*)










