KediriNews.com – Pada hari Jumat, 1 Desember 2025, sebuah penemuan yang menggegerkan masyarakat sekitar dan para ahli sejarah terjadi di Plafon Masjid Kecamatan Tarokan. Dalam proses perbaikan struktur bangunan masjid, para teknisi menemukan satu buah Kitab Kuno Pegon yang tersimpan rapi di dalam plafon. Penemuan ini menjadi momen penting dalam upaya pelestarian warisan budaya Nusantara, khususnya dalam konteks keberadaan kitab-kitab kuno beraksara Pegon.
Penemuan ini disambut antusias oleh masyarakat setempat, termasuk para tokoh agama dan budaya. Salah satu tokoh masyarakat, Sugihartono, yang juga sebagai takmir masjid, menyampaikan bahwa penemuan ini sangat signifikan karena menunjukkan adanya jejak sejarah yang belum terungkap sebelumnya. “Ini adalah bukti bahwa masjid ini memiliki nilai sejarah yang sangat dalam. Kami berharap penemuan ini bisa menjadi awal dari penelitian lebih lanjut,” ujarnya.
Sejarah Masjid Kecamatan Tarokan
Masjid Kecamatan Tarokan telah lama menjadi pusat kegiatan ibadah dan budaya bagi warga setempat. Meskipun tidak banyak informasi detail tentang sejarah pembangunannya, namun diketahui bahwa masjid ini berdiri sejak beberapa abad silam. Sejarah lokal menyebutkan bahwa masjid ini pernah menjadi tempat perlindungan selama masa perang dunia kedua. Hal ini memperkuat gagasan bahwa masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol perjuangan dan ketahanan masyarakat.
Pada tahun 2025, pihak masjid melakukan renovasi besar-besaran untuk menjaga kestabilan struktur bangunan. Dalam proses tersebut, tim teknis menemukan kitab kuno yang tersimpan di bagian plafon. Kitab ini dibungkus dengan kain kain yang sudah mulai rusak, namun kondisinya masih relatif baik. Dari hasil pengamatan awal, kitab ini menggunakan aksara Pegon, yang merupakan bentuk tulisan Arab yang telah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan kebudayaan lokal.
Peran Aksara Pegon dalam Warisan Budaya
Aksara Pegon memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Menurut Libra Hari Inagurasi, peneliti BRIN, aksara ini digunakan untuk menulis kitab-kitab keagamaan dan ilmu pengetahuan. “Kitab-kitab yang ditulis dengan aksara Pegon adalah saksi bisu dari akulturasi budaya antara Islam dan tradisi lokal,” jelasnya dalam webinar terkait pelestarian masjid kuno.
Kitab kuno yang ditemukan di masjid Tarokan kemungkinan besar merupakan salah satu dari sekian banyak kitab yang pernah digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar di pesantren-pesantren tempo dulu. Aksara Pegon sering digunakan dalam metode bandongan, yaitu cara membaca kitab dengan guru membaca dan murid menyalinnya. Hal ini menunjukkan bahwa kitab ini memiliki nilai edukasi dan spiritual yang tinggi.
Proses Identifikasi dan Pelestarian
Setelah penemuan ini dilaporkan ke pihak berwenang, tim arkeolog dan ahli sejarah langsung turun tangan untuk melakukan identifikasi lebih lanjut. Mereka melakukan analisis terhadap isi kitab, bahan kertas, serta bentuk tulisan. Hasil awal menunjukkan bahwa kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa kuna dan berisi teks-teks keagamaan serta cerita-cerita moral.
Selain itu, pihak Rumah Naskah Nusantara Kabupaten Ciamis juga turut merespons penemuan ini. Kang Gun Gun, Ketua Rumah Naskah Nusantara, menyatakan bahwa penemuan seperti ini sangat penting untuk dilestarikan. “Kitab kuno seperti ini harus dipelajari dan dijaga agar tidak hilang dari ingatan kita,” katanya.
Kesimpulan dan Harapan
Penemuan Kitab Kuno Pegon di Plafon Masjid Kecamatan Tarokan pada 1 Desember 2025 menjadi bukti bahwa warisan budaya Nusantara masih tersimpan di berbagai sudut tanah air. Ini juga menjadi ajakan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan dan melestarikan aset budaya yang ada di sekitar mereka. Dengan kolaborasi antara masyarakat, lembaga budaya, dan pemerintah, harapan besar dapat diwujudkan untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya Indonesia.
