Ringkasan Berita:
- Taopik Hidayat, warga Tasikmalaya, tertipu tawaran kerja online shop di Malaysia, namun justru dijadikan pekerja scam di Kamboja.
- Dipaksa kerja hingga 14 jam, dihina dan dihukum karena tak capai target, tanpa gaji selama 8 bulan.
- Berhasil kabur saat hendak dijual ke perusahaan lain dan akhirnya pulang ke Indonesia awal 2026.
Laporan wartawan , Jaenal Abidin
, KABUPATEN TASIKMALAYA – Taopik Hidayat (26) tidak menyangka harapannya ingin mengubah hidup jadi lebih baik ternyata malah jadi budak scam di Kamboja.
Warga asal Desa Kutawaringin, Salawu Kabupaten Tasikmalaya ini menjadi salah satu korban TPPO Kamboja yang berhasil kabur dan pulang dengan selamat ke Indonesia.
Pria bertubuh kurus dengan tinggi sekitar 168 cm itu itu selalu terbata-bata, ternyata menjadi pekerja scam di Kamboja.
Bahkan dalam benaknya memancarkan beban yang berat, seolah menceritakan pengalaman hidup yang pahit menjadi pekerja tapi menipu orang Indonesia di Kamboja.
Tahun 2025 tepatnya di bulan April menjadi awal baru bagi Taopik ketika ditawari bekerja di sebuah perusahaan online shop di Malaysia oleh rekan kerjanya di Medan.
Taopik awalnya bekerja sebagai penyortir manggis di Medan. Namun, nasibnya berubah ketika ditawari bekerja di Malaysia oleh rekannya.
Ternyata niat untuk merubah hidupnya berbalik pahit. Karena pria bertubuh tinggi kecil ini dijadikan budak Scammer di Kamboja.
Bapak anak dua ini mengira tawaran awal sebagai online shop di Malaysia bisa berjalan mulus, tapi malah menjadi petaka.
Taopik berangkat ke Malaysia pada bulan Mei 2025 bersama rekan kerja awal di Medan untuk melamar sebagai pekerja online shop. Namun, ketika sampai di Malaysia ternyata dia dibohongi. Karena tujuan aslinya ke Kamboja.
Saat itu, Taopik dan kawan-kawannya berangkat dengan menggunakan paspor wisata.
Lalu sesampainya di Malaysia, dia dijemput dan dibawa ke Kamboja oleh rekan dari Medan yang sudah dikenalinya.
Sempat terbesit untuk pulang kembali, namun apa daya dirinya tetap terpaksa melanjutkan ajakan rekannya karena tidak ada ongkos balik ke tempat kerja awal di Medan.
“Awalnya saya kerja di Medan jadi tukang nyortir manggis. Namun pas pulang kerja ada yang nawarin kerja namanya Zidan ngajak kerja saya ke Malaysia itu terjadi pada April tahun 2025,” ungkap Taopik ditemui wartawan , usai bertemu dengan Wakil Bupati Tasikmalaya, Minggu (11/1/2026).
Ia mengaku ditawari kerjaan jualan online shop di Malaysia dengan gaji yang besar. Sementara kerjaan di Medan tidak menentu gajinya.
“Ngasih janji manis gitu teman saya, makanya mau. Tapi pas saya setuju dan ikut berangkat yang awal ke Malaysia malah beda lagi tujuannya tapi ke Kamboja. Mau pulang lagi ga ada uang, jadi saya terpaksa ikut saja,” ucapnya dengan nada pelan.
Ternyata pas sampai ke Kamboja ia diminta bekerja sebagai Scammer dengan gaji diatas Rp5 juta setiap bulannya.
“Memang sesuai kontrak dapat gaji kurang lebih 5 tapi itu juga kalau dapat omzet. Tapi selama bekerja saya ga pernah mencapai target, hanya dapat makian setiap harinnya,” jelas Taopik.
Meskipun begitu, ia tetap mengikuti kerja tersebut bersama warga Indonesia lainnya di Kamboja dengan durasi kerja belasan jam setiap harinya.
“Kalau durasi kerja 14 jam dimulai jam setengah 9 pago sampai 11.30 dengan dikasih makan empat kali. Tapi soal gaji itu tetap harus nyampe target baru dikasih,” tuturnya.
Selama bekerja di Kamboja, ia kerap mendapatkan hukuman seperti push up, cacian dengan sebutan binatang.
“Saya pernah push up hingga 1000 gara-gara ga sampe target. Tapi hal yang saya ingat sampai sekarang itu makian sampai menyebut kata binatang yang jadi saya down,” jelasnya.
Selama di penampungan ternyata banyak warga Indonesia dari berbagai wilayah dan negara lain bernasib sama menjadi Scammer.
“Ribuan orang Indonesia juga banyak, bahkan ada Afrika, cina, dan negara lain di satu penampungan dengan perusahaan yang sama,” kata Taopik.
Setiap hari Taopik harus mencari korban yang akan ditipu melalui media sosial Instagram, Facebook, dan tiktok.
“Jadi kerja saya itu nyari korban lewat medsos IG, FB dan tiktok, kalau sudah kita meminta pertemanan dulu, terus konfirmasi baru disitu mulai kerja dengan dalih apapun supaya bisa tertipu oleh kita. Tapi selama saya kerja tak pernah dapat omzet, makanya selalu dapat cacian,” ucap Taopik.
Puncaknya Taopik bisa kabur ketika hendak dijual ke perusahaan lain karena selama bekerja dirinya tidak pernah mendapatkan omzet dari hasil menipu.
“Jadi saya pas dijalan bisa kabur ketika mau dijual ke perusahaan lain karena saya ga ada omzet selama 8 bulan kerja. Awalnya saya cuma sendiri, tapi di perjalanan ketemu orang Tasik lain dengan nasib yang sama,” jelas Taopik.
Namun, ia menambahkan pada saat kabur sempat minta tolong ke orang Kamboja untuk melaporkan ke kepolisian dan minta diantar ke KBRI.
“Saya minta tolong ke orang Kamboja dan di laporkan ke polisi, dan awalnya saya sendiri tapi ketemu warga Tasik lain yang nasibnya sama. Makanya kita sampai menyewa penginapan sekitar tiga Minggu sebelum pulang kesini di awal tahun 2026,” pungkasnya.
Ia pun bersyukur bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga meskipun tidak membawa uang hasil kerja selama 8 bulan di Kamboja.
“Bisa selamat dan pulang ke Tasikmalaya aja sudah bersyukur,” katanya. (*)










