KediriNews.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali memicu kekhawatiran masyarakat di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Pada 18 April 2025, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pare dilaporkan penuh dengan pasien yang terjangkit nyamuk Aedes aegypti. Hal ini menunjukkan meningkatnya risiko wabah DBD di wilayah tersebut, terutama menjelang musim hujan.
“Kami melihat peningkatan signifikan jumlah pasien DBD dalam beberapa minggu terakhir,” ujar dr. Suryadi, dokter umum di RSUD Pare. “Banyak pasien datang dengan gejala demam tinggi, nyeri sendi, dan perdarahan. Kami harus segera memberikan pengobatan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.”
Peningkatan kasus DBD ini tidak hanya terjadi di Pare, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), sejak 1 Januari hingga 3 Februari 2025, tercatat 6.050 kasus DBD dengan 28 kematian yang tersebar di 235 kabupaten/kota yang ada di 23 provinsi. Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat menjadi daerah dengan lonjakan kasus tertinggi.
Faktor Penyebab Wabah DBD
Salah satu faktor utama penyebab wabah DBD adalah perubahan iklim yang membuat nyamuk Aedes aegypti semakin aktif. Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, Ina Agustina Isturini, menjelaskan bahwa kenaikan suhu memengaruhi frekuensi gigitan nyamuk. “Jika pada suhu 18 derajat Celsius nyamuk menggigit setiap 5,5 hari sekali, maka saat suhu naik menjadi 33 derajat Celsius mereka menggigit setiap 2 hari sekali,” jelas Ina.
Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap gejala DBD juga menjadi tantangan. Banyak orang menganggap demam awal sebagai demam biasa, sehingga baru mencari pertolongan saat kondisi sudah memburuk. “Masyarakat tidak tahu bahwa ketika demam turun di hari ke-4 atau ke-5, itu justru masa kritis. Jika diabaikan, risiko mengalami syok dengue dan komplikasi meningkat,” tambah Ina.
Upaya Pencegahan dan Tanggung Jawab Bersama
Untuk mencegah penyebaran DBD, Kemenkes RI terus mendorong Gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang, serta langkah tambahan seperti fogging dan abatisasi). Namun, menurut Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, pencegahan dengan fogging saja belum cukup efektif. “Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik nyamuk merupakan sumber utama masalah,” ujarnya.
Pencegahan yang lebih efektif adalah dengan melakukan gotong-royong maupun kepedulian mandiri rutin, seperti bersihkan dalam maupun pekarangan rumah dan perkantoran, menguras bak mandi, membersihkan got dan parit yang ada. “Dengan kesadaran mandiri serta peran aktif partisipasi kita semua dalam upaya pencegahan, diharapkan bisa terhindar dari segala penyakit dan terciptanya udara segar,” kata Danrem.
Respons Pemerintah dan Masyarakat
Di DKI Jakarta, Gubernur Anies Rasyid Baswedan telah menggratiskan biaya pengobatan untuk pasien DBD di seluruh RSUD yang berada di Jakarta. Seluruh biaya obat ataupun perawatan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Semua di RSUD kita, perawatannya gratis untuk kasus demam berdarah dan fasilitasnya bagus,” ujar Anies.
Namun, respons serupa juga diperlukan di daerah lain, termasuk di Kecamatan Pare. Masyarakat harus lebih waspada dan proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. “Ini hanya bisa kita lakukan jika orangtua, lingkungan, dorongan saudara, tetangga, lingkungannya yang tanda-tandanya seperti demam berdarah untuk periksa,” tambah Anies.
Kesimpulan
Wabah DBD di Kecamatan Pare, Kediri, menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih waspada. Dengan meningkatnya kasus DBD di berbagai daerah, penting untuk memperkuat upaya pencegahan melalui kesadaran mandiri dan kerja sama antara masyarakat dan petugas kesehatan. Hidup sehat dimulai dari kebersihan lingkungan dan kesadaran akan bahaya nyamuk Aedes aegypti.
