, JEPARA– Penampakan baru terlihat pada sebuah jembatan penghubung Desa Pendosawalan – Banyuputih, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara di awal 2026.
Jembatan tersebut sudah berpuluh-puluh tahun menjadi satu di antara jembatan fenomenal di Kecamatan Kalinyamatan yang tak tersentuh anggaran pemerintah.
Struktur jembatan pada mulanya berupa bambu yang dirangkai atas swadaya masyarakat sebagai harapan sesaat warga penghubung antar desa.
Lebar jembatan pada mulanya hanya 1 meter, praktis hanya bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda motor.
Harapan sesaat yang dibangun masyarakat tersebut justru membantu warga dalam kurun waktu puluhan tahun kokoh menjadi pijakan penyeberangan, tanpa ada campur tangan pemerintah.
Masyarakat yang hendak menyeberang dari Pendosawalan ke Banyuputih atau sebaliknya dengan mengendarai mobil terpaksa harus memutar sejauh kurang lebih 5 kilometer.
Kepala Desa Pendosawalan, Hidarwo menjelaskan, jembatan tersebut kurang lebih dibangun sejak 1985 dengan menggunakan bambu.
Awalnya jembatan diproyeksikan sebagai akses terbatas penghubung dua daerah.
Memudahkan masyarakat Pendosawalan dalam mengakses pasar, tempat kerja, pendidikan, dan berbagai kebutuhan lain di pusat kota Kalinyamatan.
Kondisi jembatan yang semakin rapuh dan berbahaya termakan usia, akhirnya struktur jembatan mulai diganti dengan besi secara berkala pada 1995.
Lagi-lagi atas swadaya masyarakat dengan struktur lantai jembatan menggunakan lempengan kayu.
Namun lebar jembatan masih sama dan belum bisa dilewati mobil.
“Kami sudah ajukan proposal pembangunan jembatan ke Provinsi Jawa Tengah. Sempat tertunda, baru terlaksana 2025 kemarin,” tuturnya.
Kini jembatan penghubung Pendosawalan dengan Banyuputih tersebut sudah lebih kokoh dan lebar 6 meter dengan panjang 32 meter dibangun dengan anggaran Rp 3,5 miliar bersumber dari APBD Kabupaten Jepara Tahun Anggaran 2025.
“Yang jelas saat ini jembatan sudah bisa dilalui mobil, masyarakat tidak perlu lagi muter. Akses perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan lain-lainnya semakin mudah dan lebih maju,” harapnya.
Jembatan tersebut sudah dinantikan warga dua desa selama berpuluh-puluh tahun.
Kunarsi senang dengan terbangunnya jembatan yang lebih kuat dan lebar dari struktur jembatan sebelumnya yang memprihatinkan.
Dia berharap akan lahir jembatan-jembatan serupa tersebar di berbagai daerah yang membutuhkan.
Guna mempermudah akses masyarakat dari satu daerah ke daerah lainnya.
“Senang pasti, jembatannya sudah bagus dan bisa dilalui mobil. Nanti semakin ramai lewat sini,” ujarnya.
Diketahui bahwa jembatan tersebut tidak hanya menjadi akses utama antar desa, namun juga menjadi jalur penting bagi para pekerja industri, akses distribusi produksi UMKM, serta mobilitas masyarakat sehari-hari.
Sekretaris Daerah Kabupaten Jepara, Ary Bachtiar menuturkan, usulan pembangunan jembatan sudah cukup lama dan sempat tertunda empat tahun sebelum akhirnya dapat direalisasikan pada 2025.
Letak jembatan berada di jalan poros yang sangat vital karena menghubungkan dua kawasan industri di Kalinyamatan.
Sehingga bisa membantu masyarakat menjangkau daerah lebih cepat dari sebelumnya.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo berharap keberadaan jembatan yang sudah selesai dibangun ulang ini mampu mempercepat mobilitas karyawan pabrik, mengurai kemacetan, serta memberikan dampak signifikan bagi peningkatan ekonomi masyarakat.
Kata dia, masih terdapat beberapa kekurangan fasilitas pendukung yang menjadi PR dan akan ditindaklanjuti.
Di antaranya belum adanya senderan pada saluran air pembuang di dekat jembatan.
Juga penerangan jalan umum di sekitar jembatan belum maksimal.
Rencananya, penerangan jalan di sekitar jembatan tersebut dikerjakan pada 2028 mendatang.
“Mari jaga dan rawat jembatan ini sebaik-baiknya,” tutur dia. (Sam)
