.CO.ID, GAZA — Sayap bersenjata kelompok perlawanan Hamas kembali menggunakan nama samaran Abu Ubaidah untuk juru bicara pengganti Abu Ubaidah sebelumnya yang syahid dibunuh Israel. Mengapa nama sahabat Rasulullah SAW itu dipilih sebagai sandi untuk juru bicara kelompok perlawanan Palestina?
Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin al-Jarrah (semoga Allah meridhainya) adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Abu Ubaidah adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Makkah yang termasuk paling awal memeluk agama Islam.
Ia termasuk kelompok al-‘asyarah al-mubasysyarun bil jannati, “sepuluh orang dijanjikan masuk surga,” berdasar sebuah hadis. Riwayat tentang sosok yang bernama asli Amir bin Abdullah ini cukup banyak walau jarang yang membicarakan kehidupannya sebelum memeluk Islam. Berasal dari Suku Quraisy, ia menjadi Muslim hanya selang sehari setelah Islamnya Abu Bakar ash-Shiddiq.
Abu Ubaidah bin al-Jarrah memeluk Islam melalui perantaraan dakwah yang dilakukan Abu Bakar. Bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un, dan al-Arqam bin Abil Arqam, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah SAW.
Sejak saat itu, Abu Ubaidah selalu setia mendampingi beliau dalam menyebarkan risalah Islam. Tidak sedikitpun rasa ragu dalam dirinya untuk membela Rasulullah SAW, baik pada masa sebelum maupun sesudah hijrah. Ia ikut bersama umat Islam berpindah dari Makkah ke Madinah, sejalan dengan arahan al-Musthafa.
Berbagai medan jihad diikutinya, termasuk Perang Badar. Dalam banyak momen, dirinya tampil menjadi tameng bagi Rasulullah SAW. Pernah dalam sebuah pertempuran, helm perang Nabi SAW bengkok. Ujungnya yang tajam menghujam dan sampai-sampai mematahkan gigi beliau. Abu Ubaidah segera melepaskan benda sempit itu dari kepala beliau.
Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang tepercaya dan dicintai Nabi Muhammad SAW. Abu Ubaidah mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam, dia juga menjadi panglima perang yang sangat memperhatikan keselamatan tentaranya.
Pada masa Umar bin Khattab Abu Ubaidah dikirim sebagai panglima untuk membebaskan wilayah Syam. Setelah membebaskan wilayah Suriah Abu Ubaidah mengadakan pertemuan dengan komando tertingginya, termasuk Khalid bin Walid, untuk memutuskan penaklukan di masa depan.
Mereka memutuskan untuk membebaskan Yerusalem. Pengepungan Yerusalem berlangsung selama empat bulan setelah kota tersebut setuju untuk menyerah, tetapi hanya kepada khalifah Umar secara langsung.
Umar kemudian tiba di Yerusalem yang kemudian secara resmi menyerah pada bulan April 637. Setelah Yerusalem direbut, Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid, yang memimpin 17.000 tentara bergerak ke utara untuk menaklukkan seluruh Suriah utara.
Ia kemudian menjabat sebagai gubernur Syam setelah pembebasan pungkas.
Abu Ubaidah bin Jarrah juga terkenal karena pernah menyerahkan semua pajak yang telah dikumpulkan pada masa pemerintahannya kepada penduduk Syam khususnya non-Muslim. Itu dilakukan Abu Ubaidah ketika Syam dalam ancaman serangan Romawi.
Diriwayatkan, suatu saat Abu Ubaidah mendengar bahwa Heraklius yakni kaisar Romawi tengah menyiapkan pasukan perang dalam jumlah besar untuk merebut kembali wilayah Syam. Abu Ubaidah hanya memiliki sedikit pasukan yang tidak mungkin dapat mempertahankan Damaskus.
Pada saat itu, Abu Ubaidah mengumpulkan penduduk Syam dan kemudian menyampaikan kepada mereka bahwa dirinya yang telah memungut jizyah atau pajak untuk melindungi penduduk Syam ternyata sekarang tidak mampu memenuhi kewajibannya itu. Maka pada saat itu juga Abu Ubaidah mengembalikan semua jizyah yang diterimanya dari kalangan non muslim karena dia telah gagal melindungi mereka.
Setelah uang pembayaran jizyah dikembalikan, orang-orang non muslim terheran-heran dengan sifat amanah yang ditunjukkan Abu Ubaidah. Maka lantas para pendeta Nasrani ramai-ramai mendatangi gereja dan kapel untuk berdoa agar kaum muslimin mampu mempertahankan kota dari serangan pasukan Heraklius. Ketika melepas keberangkatan kaum Muslim, para pendeta Nasrani itu berucap “Semoga Tuhan mengizinkan kalian kembali lagi ke kota ini dan menyelamatkan kami dari kekejaman Heraklius.”
Ia wafat di Syam karena terinfeksi wabah sampar alias pes yang tengah merajalela. Umar bin Khattab meneteskan air matanya ketika mendapat kabar duka itu. “Semoga rahmat Allah terlimpah bagimu wahai saudaraku,” ujar Umar sebagai tanda perpisahan.
