KediriNews.com – Sebuah kejadian unik dan menarik terjadi pada Minggu, 30 November 2025, saat warga Kecamatan Pare menggelar lomba masak yang berbeda dari biasanya. Bukan hanya remaja atau ibu-ibu, kali ini para bapak-bapak turut serta dalam kompetisi memasak, dengan gaya yang tidak biasa: menggunakan daster istri mereka. Acara yang digelar di tengah-tengah kota Pare ini menjadi perhatian masyarakat setempat dan menjadi topik hangat di media sosial.
Lomba masak ini diselenggarakan sebagai bagian dari perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang jatuh pada bulan November. Namun, kali ini tema yang diangkat sedikit berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Meski masih berkaitan dengan pencegahan stunting dan pentingnya pola makan sehat, acara kali ini lebih menekankan pada keterlibatan aktif para ayah dalam kehidupan keluarga, khususnya dalam hal memasak. “Ini bukan sekadar lomba masak biasa, tapi juga bentuk perayaan cinta dan kerja sama antar anggota keluarga,” ujar salah satu panitia, Andi Suryadi, kepada KediriNews.com.
Menurut informasi yang dihimpun, lomba ini diikuti oleh puluhan bapak-bapak dari berbagai RT dan RW di Kecamatan Pare. Mereka diberikan waktu selama tiga jam untuk membuat hidangan utama yang sehat dan bergizi. Selain itu, peserta juga diminta untuk menggunakan daster milik istrinya sebagai pakaian resmi dalam lomba. Hal ini dilakukan sebagai bentuk simbolisasi bahwa para ayah harus lebih dekat dengan aktivitas rumah tangga, termasuk memasak.
“Tujuan utamanya adalah untuk membangun kesadaran bahwa memasak bukan hanya tugas perempuan. Para ayah juga bisa melakukannya dan bahkan bisa lebih kreatif,” kata Ketua Panitia, Siti Aminah. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkuat ikatan keluarga dan menciptakan suasana yang lebih harmonis.
Tujuan dan Konsep Lomba
Lomba masak ini memiliki beberapa tujuan utama. Pertama, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya nutrisi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, untuk memberikan ruang bagi para ayah agar lebih aktif dalam kegiatan rumah tangga. Ketiga, untuk memperkuat hubungan antara suami dan istri melalui kegiatan yang menyenangkan dan kolaboratif.
Konsep lomba ini juga didasarkan pada prinsip DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), yang serupa dengan program yang pernah dijalankan di Kota Parepare beberapa tahun silam. Namun, kali ini fokusnya lebih pada partisipasi laki-laki dalam pengaturan makanan keluarga.
- Peningkatan Kesadaran Nutrisi: Peserta diajarkan cara membuat hidangan yang sehat dan bergizi.
- Partisipasi Laki-Laki dalam Rumah Tangga: Lomba ini menunjukkan bahwa laki-laki juga bisa berkontribusi dalam kehidupan rumah tangga.
- Penguatan Hubungan Keluarga: Melalui kegiatan bersama, ikatan antar anggota keluarga semakin kuat.
Proses Pelaksanaan Lomba
Lomba dimulai sejak pagi hari dengan pembagian tim dan penyerahan alat masak. Setiap tim terdiri dari tiga orang, yaitu dua bapak dan satu istri sebagai penasehat. Mereka diberi bahan baku dasar seperti telur, sayuran, dan bumbu dasar. Pemilihan bahan ini dilakukan agar semua peserta memiliki kesempatan yang sama dalam membuat hidangan.
Selain itu, setiap tim juga diberi batasan waktu selama tiga jam untuk menyelesaikan masakan mereka. Setelah itu, hasil masakan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari perwakilan dari Dinas Kesehatan, tokoh masyarakat, dan pelaku kuliner lokal.
“Kami ingin menilai dari segi rasa, kreativitas, dan kesehatan makanan,” ujar salah satu juri, Rina Wijaya. “Tidak hanya enak, tapi juga bergizi.”
[IMAGE: Bapak-bapak lomba masak di kecamatan pare dengan daster istri]
Reaksi Masyarakat dan Media Sosial
Acara ini mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Banyak warga yang hadir langsung untuk menyaksikan proses lomba dan memberikan dukungan kepada para peserta. Bahkan, beberapa dari mereka mengambil foto dan video untuk diunggah ke media sosial.
Di Twitter, tagar #BapakBapakLombaMasak mulai ramai dibicarakan. Beberapa netizen menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini, sementara yang lain menyebutnya sebagai bentuk hiburan yang segar dan berbeda.
“Sangat keren! Ini membuktikan bahwa laki-laki juga bisa memasak dengan baik,” tulis akun @RizkyIndra.
Penutup
Lomba masak yang diikuti oleh bapak-bapak di Kecamatan Pare pada tanggal 30 November 2025 menjadi contoh bagaimana masyarakat bisa merayakan Hari Keluarga Nasional dengan cara yang kreatif dan menyenangkan. Tidak hanya sekadar lomba, acara ini juga membawa pesan penting tentang peran laki-laki dalam kehidupan keluarga dan pentingnya pola makan sehat.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lain untuk mengadakan lomba serupa dan memperkuat ikatan keluarga melalui aktivitas bersama.
