Pentas Rintrik oleh Teater Kubur di TIM

, Jakarta – “Untuk terakhir kalinya, apa keinginanmu?”

“Syahwat yang besar sekali.”

“Apa itu?”

“Melihat wajah Tuhan.” Lalu, suara tembakan. Sejumlah orang menghambur, menjatuhkan diri dan meratap di kaki perempuan yang terkulai di tonggak tempat ia diikat.

Adegan itu menutup pementasan Teater Kubur di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat pada Jumat, 19 Desember 2025. Pementasan sekitar satu setengah jam berjudul Rintrik itu diadaptasi dari cerita pendek Danarto yang sesungguhnya “tanpa judul”. Cerpen yang dimuat di Majalah Sastra Horison pada Februari 1968, hampir 58 tahun lalu, itu oleh pengarangnya diberi judul sebuah gambar jantung tertusuk anak panah.

Rintrik tokoh utamanya. Diperankan Zazila, Rintrik mengakhiri, juga mengawali pertunjukan. Layar dibuka, panggung biru kelam, sepi, hanya suara panjang, gaung yang halus. Sesosok bergaun panjang berjalan “jauh” di latar panggung, di atas suatu gundukan.

Begitu cahaya pelan-pelan berubah agak terang, sebuah kesibukan di panggung prosenium, panggung dengan lima kelompok batang kayu tegak meninggi, tersebar tidak simetris, serta gundukan tempat sosok itu berada. Sejumlah sulur menggantung. Tampak suatu alam pedesaan dan orang-orang berbicara tentang Rintrik, perempuan tua yang menguburkan bayi-bayi yang dibuang. “Lubang demi lubang ia gali. Lubang demi lubang. Ya, lubang demi lubang. Sejak sebelum badai datang: sejak pagi-pagi benar ia sudah bekerja.”

Di bawah arahan sutradara Dindon Wahyudin, Rintrik terkesan dua babak. Pertama, gambaran suatu tempat yang masih alami, damai. Kedamaian ini terusik oleh pembuangan bayi-bayi. Masyarakat tak berdaya, penjaga keamanan disogok agar membiarkan pembuangan itu. Lalu, muncul sosok Rintrik si pengubur bayi-bayi.

Di “babak pertama” ini pula perubahan sikap masyarakat petani di daerah tersebut terjadi: dari penasaran dan takut kepada Rintrik, berubah menjadi sikap menghormati dan bahkan mengangkat Rintrik sebagai pelindung, sebagai sesepuh. Seorang perempuan tua, buta, rela menguburkan bayi-bayi yang dibuang. Maka, kata seseorang: “Tiap saat ada saja yang mengunjunginya. Ada yang ingin belajar ilmu yang tinggi-tinggi daripadanya. Ada yang ingin mendapat sorotan matanya yang buta itu, biar imannya kuat dan hidupnya sentosa. Ada yang hanya ingin melihat wajah perempuan yang luar biasa itu.”

Pada “babak kedua”, tepergoknya sejoli yang bertengkar perkara membuang atau tidak membuang bayi mereka ke Rintrik. Yang perempuan ingin bayi tetap hidup, yang lelaki cenderung mau membuangnya. Yang perempuan minta perlindungan Rintrik, pasangannya meminta Rintrik menguburkan bayi itu. Terjadi perdebatan; Rintrik menghardik, “Engkau tidak berhak atasnya.”

Di “babak kedua” inilah hidup Rintrik ditentukan oleh pemburu penguasa daerah tersebut yang mendadak muncul. Pemburu mengejar pasangan itu karena dia bapak sekaligus kekasih perempuan yang minta perlindungan Rintrik. Pemburu itu tak hanya mengakhiri hidup pasangan anaknya, dia juga menghabisi Rintrik. Alasannya, pemburu itu merupakan makhluk yang merasa tak terikat oleh apa pun. Dengar jawabnya tatkala Rintrik bertanya mengapa sebagai penguasa ia tak mencegah pembuangan bayi-bayi: “Itu sesukaku. Aku bisa berbuat apa saja di lembahku sendiri.”

Dua babak itu terasa disajikan dengan beda. Yang pertama, adalah gaya Teater Kubur yang umum dikenal: yang lazim dikatakan sebagai teater tubuh. Para pemeran menyampaikan segalanya pada pertunjukan terutama dengan tubuh dan properti. Maka kita saksikan, pemeran yang lalu-lalang, suami-istri setengah baya berjalan dengan gesture pasangan yang rukun dan damai. Lalu laki-laki dan perempuan yang berolah tubuh dengan gerakan keras, seolah sebuah keributan, suatu bencana mendadak yang mengubah suasana tenang dan damai. Dan lihatlah, bayi-bayi beterbangan di sekitar Rintrik dan piano putihnya.

Pentas Teater Kubur berjudul “Rintik”. Dok. Teater Kubur

Suasana mimpi di “babak pertama” berlanjut. Panggung mendapat siraman cahaya siang dan terlihatlah di ujung bawah sulur-sulur yang menggantung adalah bayi-bayi.

Namun, di babak ini bukan lagi “teater tubuh”. Dialog–-lebih tepat diskusi dan perdebatan–menjadi hal utama. Dialog yang bukan hanya persoalan bayi dibuang. Adalah juga perihal “aku dan Tuhan”, bahwa perbuatan manusia karena digerakkan Sang Mahapencipta. Maka sembur Rintrik kepada calon pembunuhnya: “Di seberang sana engkau bakar Jeanne d’Arc dan di padang yang lain engkau salibkan Al Hallaj. Di ujung sana engkau habisi Abraham Lincoln. Di ujung yang lain engkau seret-seret Mahatma Gandhi.”

Kebetulan saya membaca cerpen Danarto tersebut, juga naskah gubahan Dindon. Tampaknya itulah cara Dindon mengadaptasi cerpen Danarto ini. Mengadaptasi, mengalihwahanakan cerpen yang dibentuk dengan kata-kata (dan gambar, meskipun jarang) ke panggung sandiwara bermodal pemeran plus lain-lain (tata pentas, kostum, musik, tata cahaya, teknologi digital dan lain sebagainya).

Dindon menyajikan suasana dan cerita yang terbentuk dari kata-kata menjadikan pertunjukan. Ini solusi yang cerdas. Satu paragraf cerpen Danarto seperti ini. “Hujan deras membasahi angin dan angin menerbangkan hujan bagai anak panah salju, dan hujan dan angin itu dibelah-belah petir, dan ekor-ekor petir jadi melempem oleh suasana dingin yang beku bagai krupuk dalam lemari es.”

Kata-kata itu menggambarkan hujan badai, suasana yang bersama unsur-unsur lain membantuk suasana magis. Dindon menyajikannya dengan “teater tubuh”. Betapa menantang menyajikan suasana dari kata-kata menjadi adegan pada panggung. Satu hal lagi, beberapa paragraf narasi pada cerpen Danarto yang juga membentuk suasana, oleh Dindon diubah sebagai dialog “seseorang”.

Ada satu hal. Sosok perempuan bergaun hitam panjang, berkata-kata tentang hidup dan Tuhan, sebuah piano putih, bayi-bayi yang melayang-layang, sebuah alam pedesaan. Sebuah suasana mimpi, mistis, sureal.

Lalu mengapa “rasa” ini kurang sampai di panggung Graha Bhakti Budaya? Teater tubuh, dialog-dialog perdebatan Rintrik, pemuda dan pacarnya, dan pemburu terasa berjarak, tertelan oleh ruang yang luas. Bahkan klimaks, ketika nasib Rintrik ditentukan, Rintrik ingin melihat wajah Tuhan sebelum dieksekusi, terasa datar. Ini memang panggung prosenium termasuk luas, 15x10x6 meter. Saya bayangkan, di teater arena pementasan akan lebih “menggigit”.

Bambang Bujono, Penulis Kesenian

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *