Ringkasan Berita:
- Kepala KPPG Makassar, Handayani, mengungkapkan hingga awal 2026 terdapat sekitar 60 SPPG di Kabupaten Gowa, sebanyak 55 unit sudah aktif, sementara delapan lainnya siap operasional.
- Satu SPPG dapat mengelola anggaran Rp850 juta hingga Rp1 miliar per bulan dan menyerap puluhan tenaga kerja.
- SPPG Polsek Bajeng Barat 01, hasil kolaborasi Polres Gowa dan Yayasan Kemala Bhayangkari.
, GOWA –Upaya memperkuat pemenuhan gizi masyarakat di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) terus digenjot
Salah satunya dengan peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Minggu (11/1/2026)
Lokasinya di Dusun Romang Lompoa, Kecamatan Bajeng Barat.
SPPG ini diresmikan Wakil Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin, Kapolres Gowa AKBP Muhammad Aldy Sulaiman didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Gowa Ny. Dessy Aldy.
Kemudian, Ketua DPRD Gowa, Ramli Rewa, Wakapolres Gowa, Kompol Gani, Camat Bajeng Barat, PJU Polres Gowa
Kajari Gowa, Bambang serta Kepala KPPG Makassar, Handayani
Terlihat peresmiannya ditandai dengan pemotongan pita.
Usai pemotongan pita, mereka langsung meninjau dapur dengan memakai masker.
Satu persatu ruangan dapur dan fasilitas lainnya di cek.
Fasilitas ini menjadi bagian dari dukungan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
SPPG tersebut merupakan SPPG Polres Bajeng Barat 01, hasil kolaborasi Polres Gowa dan Yayasan Kemala Bhayangkari.
Darmawangsyah Muin mengatakan Keberadaan ini diharapkan menjadi dapur umum andalan dalam pemenuhan gizi.
Khususnya kata dia, bagi anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Ini bagian dari komitmen Polres dan Bhayangkara Gowa dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat,” katanya
Ia menegaskan, pembangunan SPPG di Gowa perlu dipercepat dan diperluas agar menjangkau seluruh wilayah.
Menurutnya, kebutuhan SPPG kerap disampaikan warga saat pemerintah daerah melakukan kunjungan ke kecamatan-kecamatan.
“Semakin cepat SPPG dibangun dan beroperasi, semakin besar manfaatnya bagi masyarakat,” ujarnya.
Darmawangsyah berharap SPPG Bajeng Barat menjadi pemicu hadirnya SPPG lain di berbagai wilayah Gowa.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung capaian Gowa dalam menekan angka stunting.
Ia menyebut berdasarkan SSGI 2024, prevalensi stunting di Gowa pada 2025 turun signifikan menjadi 17 persen, dari sebelumnya 21,1 persen.
Capaian tersebut menjadikan Gowa sebagai salah satu daerah dengan angka stunting terendah di Sulsel.
“Keberhasilan ini harus terus diperkuat melalui optimalisasi program MBG dan SPPG,” tegasnya.
Tak hanya berdampak pada kesehatan, SPPG juga dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Darmawangsyah mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) mempercepat pembangunan SPPG.
Ia juga mengajak pemerintah desa mengaktifkan BUMDes.
Salah satunya melalui pengembangan peternakan ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan dapur SPPG.
Kapolres Gowa AKBP Aldy Sulaiman menyebut pembangunan SPPG ini sebagai wujud komitmen Polri mendukung program pemerintah.
“Tidak hanya di bidang keamanan, tetapi juga sosial dan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia berharap SPPG Polres Bajeng Barat 01 menjadi sarana pelayanan sosial yang berkelanjutan dalam mendukung program pemerintah terkait peningkatan gizi masyarakat serta pencegahan stunting.
Menurutnya, SPPG ini bukan sekadar fasilitas, tetapi wujud nyata kepedulian Polres Gowa dan Bhayangkari terhadap masa depan generasi bangsa.
“Kami berharap program ini dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” ujar AKBP Muhammad Aldy Sulaiman.
Kepala KPPG Makassar, Handayani, mengungkapkan hingga awal 2026 terdapat sekitar 60 SPPG di Kabupaten Gowa.
Sebanyak 55 unit sudah aktif, sementara delapan lainnya siap operasional.
Menurutnya, satu SPPG dapat mengelola anggaran Rp850 juta hingga Rp1 miliar per bulan dan menyerap puluhan tenaga kerja.
Jika seluruh SPPG beroperasi optimal, perputaran ekonomi di Gowa diperkirakan mencapai Rp60 miliar per bulan.
Ia menekankan pentingnya sinergi pemerintah daerah dalam menjaga pasokan bahan pangan, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga ketersediaan susu yang masih terbatas.(*)





