Hal kecil ini ternyata amal jariyah dalam rumah tangga, Ustaz Khalid Basalamah sebut pahalanya kalahkan pahala yang lain

 Memulai hari dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT merupakan kebiasaan baik yang dianjurkan dalam Islam.

Dengan berdoa sebelum beraktivitas, setiap pekerjaan yang dilakukan diharapkan bernilai ibadah, mendatangkan pahala, serta membawa keberkahan dari Allah SWT.

Tak hanya itu, doa juga menjadi bentuk ikhtiar agar setiap langkah yang dijalani mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya.

Melansir bangkapos.com, setiap makhluk yang terlahir ke dunia pasti akan menghadapi kematian.

Karena itu, mereka yang terlalu mencintai dunia dikhawatirkan akan merugi di akhirat kelak. Sebab, ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah seluruh kesempatan untuk mengumpulkan pahala dan bekal amal.

Namun, Islam memberikan kabar gembira. Dalam ajaran Islam, terdapat tiga amalan yang pahalanya tidak akan terputus meski seseorang telah wafat, hingga datangnya hari kiamat.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila seorang hamba meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat serta anak shaleh yang senantiasa mendoakan kebaikan baginya.”

Dilansir dari banjarmasinpost.co.id, pendakwah Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa kehidupan rumah tangga menyimpan banyak peluang amal jariyah bagi suami dan istri.

Menurut beliau, amal jariyah dalam rumah tangga bisa datang setiap hari, baik dari suami, istri, maupun anak. Semua itu menjadi ladang pahala sekaligus sumber keberkahan dari Allah SWT.

Ustadz Khalid Basalamah juga menegaskan bahwa kehidupan pernikahan tidak pernah lepas dari ujian dan cobaan. Karena itu, menjaga rumah tangga sesuai tuntunan Islam menjadi kunci untuk mempertahankan keharmonisan dan meraih ridha Allah.

Dalam pernikahan, pasangan suami istri akan membentuk sebuah keluarga yang kemudian bertambah dengan kehadiran anak. Mereka hidup bersama dan saling bergantung satu sama lain.

Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa anggota keluarga sejatinya merupakan aset amal jariyah dan kunci menuju surga bagi kaum muslimin.

“Bagi istri, suami aset amal jariyah, cuma siapkan makannya minumnya, bajunya, mati masuk surga. Bagi suami, uang hasil bekerja dinafkahkan ke istri, anak, orangtua, pada saat ada urusan di rumah di perbaiki, mati masuk surga,” jelas Ustadz Khalid Basalamah dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kanal YouTube Lentera Islam.

Karena itu, orang-orang terdekat di sekitar kita sesungguhnya adalah aset amal jariyah. Seorang ayah atau suami yang memberikan nafkah, lalu nafkah tersebut dibelanjakan istri untuk kebutuhan pangan keluarga, semuanya bernilai pahala.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada makanan yang dihidangkan diniatkan untuk orang lain, kecuali Allah akan letakkan berkah di situ.”

Makna dari hadits tersebut adalah makanan yang dimakan akan menjadi bagian dari tubuh orang yang mengonsumsinya, baik sebagai energi maupun pembentuk tubuh.

Ustadz Khalid Basalamah memberikan contoh nyata:

“Sekarang saya ceramah, orangtua saya panen pahala, karena saya tumbuh dari ASI Ibu saya dan tumbuh juga dari nafkah Ayah saya, karena tidak semua makanan jadi kotoran, ada yang jadi energi, ada yang jadi bagian tubuh kita,” terangnya.

Memberi makan istri dan anak menjadi amal jariyah karena dari makanan tersebut, istri dan anak dapat beraktivitas dan melanjutkan kehidupan.

Bahkan, pahala memberi makan disebut sebagai salah satu pahala terbesar setelah ibadah wajib. Termasuk di dalamnya memberi nafkah kepada istri, anak, dan orang tua.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dinar yang dikeluarkan untuk istri dan anak jauh lebih besar pahalanya dibandingkan sedekah ke fakir miskin bahkan jihad fii sabilillah.”

Ustadz Khalid Basalamah menegaskan:

“Mengalahkan pahala yang lain-lainnya padahal di dalam rumah, suami yang memberi nafkah tiap bulan ke istri dan anak mengalahkan pahala sedekah dan jihad,” ucapnya.

Meski demikian, sebagai pemimpin rumah tangga, suami tetap dianjurkan memiliki pegangan uang pribadi. Setidaknya untuk kebutuhan mendesak, agar tidak sepenuhnya bergantung kepada istri, misalnya untuk membeli pulsa atau keperluan kecil lainnya.

Penting juga dipahami bahwa suami tidak memiliki hak atas harta pribadi istri. Jika istri memperoleh harta warisan setelah menikah, maka suami tidak berhak meminta bagian sedikit pun dari harta tersebut.

“Kalau laki-laki mau menjadikan istri dan anak amal jariyahnya, apapun hasil keringat diberikan kepada istri dan anak adalah sedekah paling besar,” jelas Ustadz Khalid Basalamah.

Rasulullah SAW juga menyampaikan kunci sederhana bagi seorang istri untuk masuk surga:

“Istri manapun yang menjaga lima waktu shalat adzan langsung shalat, berpuasa Ramadhan, dan mentaati suaminya pada hal yang ma’ruf, kecuali pada saat meninggal dia boleh pilih pintu surga mana yang ia ingin masuk.”

Amalan tersebut belum termasuk shalat sunnah dan puasa sunnah. Jika ditambah dengan ibadah sunnah, maka pahala dan tingkat ketakwaan seorang muslimah akan semakin bertambah. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *