Menikmati puisi akrotanka

Komunitas Penulis Pengajar Jawa Barat (KPPJB) pada tanggal 13 April sampai dengan 10 Mei 2025 menyelenggarakan pelatihan merangkai puisi Akrotanka dengan narasumber pak Edi Sudrajat, S.Pd. atau akrab dengan sapaan Aa Roy. Beliau memaparkan cara-cara penyusunan puisi akrostik dengan tanka.  

1. Pengertian 

“Waka” () adalah bentuk puisi Jepang yang sudah ada sejak zaman Asuka dan Nara, dan memiliki arti harfiah “puisi Jepang” untuk membedakannya dengan puisi Cina (kanshi).

Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang waka:

Asal-Usul dan Sejarah:

Waka muncul pada zaman Asuka dan Nara (akhir abad ke-6 hingga abad ke-8) dan merupakan bentuk puisi tradisional Jepang.

Penyair Waka:

Penyair waka disebut “kajin” ().

Jenis Waka:

Waka memiliki berbagai bentuk, termasuk chka, tanka, sedka, katauta, dan bussokusekika.

Perbedaan dengan Puisi Cina:

Istilah “waka” (puisi Jepang) digunakan untuk membedakannya dengan puisi Cina (kanshi).

Waka dalam Budaya Jepang:

Waka memiliki peran penting dalam budaya dan sastra Jepang, dan banyak puisi waka yang terkenal telah diwariskan dari generasi ke generasi. (Edi Sudrajat, 2025)

2. Pola susun puisi akrotanka  

Tanka adalah puisi tradisional Jepang yang terdiri dari lima baris, dengan pola 5-7-5-7-7 suku kata. Tanka merupakan salah satu genre utama sastra Jepang dan masih populer hingga saat ini.

Ciri-ciri tanka

Terdiri dari 31 suku kata

Dibagi menjadi frasa atas (tiga baris pertama) dan frasa bawah (dua baris terakhir)

Sering ditulis sebagai satu baris berkelanjutan tanpa tanda baca

Umumnya tidak berirama

Asal-usul tanka

Terbentuk dan dikumpulkan pada periode akhir penyusunan Kojiki dan Nihon Shoki, serta periode awal penyusunan Man’ysh (sekitar abad ke-7 hingga abad ke-8)

Istilah tanka (sajak pendek) dipakai untuk membedakannya dari bentuk lain waka yang disebut chka (sajak panjang)

Tanka dapat diartikan sebagai “puisi pendek” dalam bahasa Jepang. Kata tanka sendiri terdiri dari dua kanji, yaitu mijika () yang berarti pendek dan uta () yang berarti nyanyian atau puisi. (Edi Sudrajat, 2025)

3. Contoh puisi Akrotanka

TEKUN

Tabah menulis

Erat kuat berbuat

Ketelitian

Unjuk kebolehanmu

Niatkan tulus hati

jadi :

Tabah menulis

Erat kuat berbuat

Ketelitian

Unjuk kebolehanmu

Niatkan tulus hati

                                       Akrotanka Tekun_Roy

DESAH

Dalam rinduku (5)

Erangan suaramu (7)

Selalu kamu (5)

Aku terbayang kasih (7)

Harum memikat kalbu (7)

                                     Karawang, 13 April 2025_Akrotanka Desah_(21.30 WIB)

EMBUN

Endap menetes

Membawa kasih tulus

Bermusim tropis

Ungkapkan rindu lepas

Nan segar bawa bebas

                                Karawang, 14 April 2025_Akrotanka Embun_(13.30 WIB)

ISTRI

Ia bersabar

Senda gurau temani

Tabah tekuni

Rasa cinta kasihmu

Inilah idamanku

                               Karawang, 14 April 2025_Akrotanka Istri_(13.40 WIB)

KALAU HUJAN DERAS

Kisah berlalu

Aku merenung kelu

Lembaran akhir

Antara rindu kasih

Ubah haluan cinta

Hari terindah

Uap air basahi

Jatuh basahi

Akan berlabuh kangen

Namamu istmewa

Dingin menggigil

Empati cinta kita

Rangkaian kisah

Aku bersama kamu

Setia hingga akhir

                                              Karawang,  15 April 2025_Akrotanka Kalau Hujan Deras_(11.57 WIB)

TABUR KISAH

Tanpa cerita

Air laut pun hambar

Berbuih hilang

Ungkapkan butir kasih

Rentetan ceritaku

Kini kau rindu

Itu pun kau tunggui

Sesal berlalu

Akhirnya kau memelas

Hanya rindu berkasih

                                                Karawang, 15 April 2025_Akrotanka Tabur Kisah_(14.35 WIB)

MAKAN LAKSA

Makan laksa

Ada rasa gurihnya

Kreasi lawas

Ada isi sayuran

Nikmat tiada tara

Laksa lestari

Alot cara hidangan

Kuah favorit

Santan inti gurihnya

Ada daun kemangi

                                    Karawang, 16 April 2025_Akrotanka Makan laksa_(15.15 WIB)

4. Kolaborasi dengan narasumber dalam buku solo ” Tarian Rindu Ke Pintu Sorga”

Sebuah kepercayaan pun bersambut dari narasumber untuk berkolaborasi untuk menciptakan puisi akrotanka sendiri. Setiap puisi dibuat dan dinilai secara pola, kata-kata, ketepatan diksi, ketepatan penyampaian puisi agar enak dicerna olah pikir maupun olah ucap. Banyak pengalaman yang saya dapat selam berkolaborasi dengan narasumber sehingga lahir buku solo dengan judul di atas dengan rekomendasi beliau. Saya ucapkan terimakasih kepada beliau. Semoga beliau selalu sehat, Panjang umur, dan selalu dilindungi Tuhan YMK.   

Semoga puisi-puisi semakin terus tumbuh dann berkembang terus sehingga menambah kekayaan sastra di Indonesia. Begitu juga semoga semakin banyak penikmat puisi yang terus bermunculan dengan gagasan-gagasan baru yang lebih fresh.  

Terimakasih bagi siapa pun yang singgah dan membaca tulisan ini di

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *