KediriNews.com – Pada tanggal 20 Februari 2025, masyarakat Kecamatan Semen akan kembali merayakan tradisi nyekar dengan menghadirkan bunga kenanga kuning sebagai simbol keharuman dan penghormatan terhadap almarhum. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga menjadi bentuk kebudayaan lokal yang kental dengan makna spiritual dan sosial.
Bunga kenanga kuning memiliki aroma yang harum dan tahan lama, sehingga menjadi pilihan utama dalam acara nyekar. Dalam bahasa Jawa, istilah “nyekar” berasal dari kata “sekar”, yang berarti bunga. Praktik ini telah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha dan terus berkembang hingga saat ini, menjadi bagian dari tradisi ziarah kubur umat Islam di Indonesia.
“Nyekar bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari ibadah dan penghormatan kepada leluhur yang telah tiada,” ujar Ustaz Suryadi, tokoh agama setempat. “Dengan menabur bunga, kita tidak hanya mengingat kematian, tetapi juga memperkuat hubungan antara dunia manusia dan alam kubur.”
Sejarah dan Makna Tradisi Nyekar
Tradisi nyekar memiliki akar sejarah yang dalam. Awalnya, masyarakat membawa bunga sebagai simbol kesucian saat ziarah kubur. Dalam ajaran Islam, ziarah kubur dianjurkan sebagaimana disebutkan dalam hadis:
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah karena itu dapat mengingatkan kalian pada kematian.” (HR. Muslim)
Prosesi nyekar biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadan dan Syawal, sebagai bentuk persiapan spiritual untuk menyambut bulan suci. Di Kecamatan Semen, tradisi ini dipenuhi oleh perayaan yang khas, termasuk penaburan bunga, membersihkan makam, dan membaca doa serta Yasin.
Jenis Bunga yang Umum Digunakan

Masyarakat Kecamatan Semen menggunakan berbagai jenis bunga dalam nyekar, seperti:
- Kenanga kuning – Bunga yang memiliki aroma wangi dan tahan lama.
- Melati – Simbol kesucian dan kebersihan.
- Kantil – Bunga yang sering digunakan dalam ritual keagamaan.
- Sedap malam – Bunga yang mekar di malam hari dan memiliki aroma yang khas.
- Mawar – Bunga yang sering digunakan sebagai simbol cinta dan penghormatan.
Setiap jenis bunga memiliki makna tersendiri, namun yang paling unggul adalah kenanga kuning, yang menjadi ciri khas dari acara nyekar di wilayah ini.
Peran Bunga Kenanga Kuning dalam Ritual Nyekar

Bunga kenanga kuning tidak hanya memiliki aroma yang wangi, tetapi juga memiliki makna simbolis. Dalam tradisi nyekar, bunga ini digunakan untuk mengirimkan doa dan pahala kepada almarhum. Selain itu, bunga ini juga menjadi simbol kesegaran dan keharuman yang mengingatkan kita akan kefanaan hidup.
“Kenanga kuning adalah pilihan yang tepat untuk nyekar karena aromanya yang harum dan tahan lama,” jelas Ibu Rina, salah satu warga Kecamatan Semen. “Selain itu, bunga ini juga mudah ditemukan dan murah.”
Tantangan dan Pengembangan Tradisi
Meski tradisi nyekar masih dilestarikan, terdapat tantangan yang dihadapi. Beberapa kelompok masyarakat mulai mengaitkan praktik ini dengan ajaran yang tidak sesuai atau menganggapnya sebagai bentuk bid’ah jika niat dan pelaksanaannya tidak dijaga. Oleh karena itu, pemahaman yang benar melalui kajian kitab dan ceramah oleh ulama sangat diperlukan agar tradisi ini dapat terus dilestarikan dalam kerangka ajaran Islam yang murni.
“Kita harus menjaga niat dalam melakukan nyekar,” tambah Ustaz Suryadi. “Jangan sampai praktik ini berubah menjadi penyimpangan makna, seperti meminta pertolongan kepada arwah atau menganggapnya sebagai upaya eksibisi.”
Kesimpulan
Tradisi nyekar di Kecamatan Semen, khususnya dengan bunga kenanga kuning, merupakan bentuk kebudayaan dan keagamaan yang penting. Dengan mengacu pada hadis dan penjelasan ulama, kegiatan ini dapat dipahami sebagai bentuk penghormatan, doa, dan pengingat akan kematian. Selama niatnya tetap murni dan praktik pelaksanaannya tidak menyimpang, tradisi ini tidak hanya melestarikan nilai budaya lokal, tetapi juga memperkuat kesadaran spiritual umat Islam dalam menghadapi kefanaan dunia.




