– Siswa kelas 9 yang mau melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, bisa memilih melanjutkan ke SMA (Sekolah Menengah Atas) maupun SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).
Ada beberapa alasan kamu bisa memilih melanjutkan pendidikan di SMK. Alasan utama melanjutkan pendidikan di SMK adalah untuk mendapatkan keahlian praktis dan siap kerja. Karena kurikulum di SMK berfokus pada praktik langsung, program magang (PKL) di industri.
Serta membekali siswa dengan keterampilan spesifik yang dibutuhkan pasar kerja. Sehingga membuka peluang karier lebih cepat atau mempermudah wirausaha, tanpa menutup kemungkinan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Jika kamu berencana memilih SMK, kamu bakal memilih jurusan. Jurusan di SMK juga sangat banyak.
Tapi menurut pakar pendidikan, ada beberapa jurusan yang ternyata sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Jurusan SMK yang sudah tidak relevan di 2026
Hal ini karena perubahan cepat dunia kerja dan kebutuhan industri. Perkembangan teknologi, otomatisasi, kecerdasan buatan serta pergeseran struktur ekonomi membuat sejumlah bidang keahlian dinilai tidak lagi sejalan dengan permintaan pasar tenaga kerja.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang efektivitas sistem pendidikan dalam menyiapkan lulusan yang adaptif dan kompetitif.
Sebagian jurusan dianggap mengalami penurunan relevansi bukan karena ilmunya usang, melainkan karena terjadi tumpang tindih kompetensi dengan jenjang pendidikan lain.
Tapi di sisi lain, ada bidang yang tetap dibutuhkan namun kurang diminati akibat minimnya penghargaan dan prospek yang dianggap kurang menjanjikan.
Situasi tersebut mendorong evaluasi ulang terhadap arah pengembangan jurusan, khususnya di pendidikan vokasi dan menengah kejuruan.
Pembahasan ini menjadi penting agar kebijakan pendidikan ke depan lebih selaras dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia kerja.
Lantas, apa saja jurusan yang sudah tidak lagi relevan mulai 2026 nanti?
Dalam konteks pendidikan vokasi, pengamat pendidikan dari Perguruan Taman Siswa, Darmaningtyas menyoroti ketidaksesuaian sejumlah program keahlian di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan realitas kebutuhan tenaga kerja.
Menurutnya, ada 3 jurusan SMK yang sudah tidak relevan mulai tahun 2026.
1. Administrasi Perkantoran
2. Manajemen
3. Akuntansi di tingkat SMK
Sebanyak 3 jurusan SMK tersebut mulai kehilangan relevansi karena kebutuhan tenaga di bidang tersebut telah banyak dipenuhi oleh lulusan politeknik maupun sarjana strata satu.
“Kemampuan lulusan SMK dari jurusan-jurusan itu tidak mungkin mampu bersaing dengan lulusan politeknik atau S1. Sementara anak-anak SMK yang mengambil program tersebut belum tentu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” terang Darmaningtyas dikutip dari , Sabtu (3/12/2026).
Ia bahkan menilai, jika tidak ada penyesuaian serius, pembelajaran di jurusan tersebut berpotensi menjadi sia-sia dan patut dievaluasi secara mendalam.
Sebaliknya, Darmaningtyas menilai sektor agro. Seperti pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kelautan justru tetap sangat dibutuhkan hingga kini.
Persoalannya bukan pada relevansi, melainkan pada rendahnya penghargaan terhadap sektor-sektor tersebut.
“Sektor agro sebetulnya tetap dibutuhkan, cuma selama ini penghargaan terhadapnya masih kurang,” katanya.
Ia menambahkan, pengenalan bidang-bidang agro kepada siswa SMK sudah tepat, selama disesuaikan dengan tingkat kompetensi peserta didik.
Pada jenjang SMK, siswa memang belum dituntut untuk mahir sepenuhnya, melainkan diperkenalkan sebagai fondasi awal sebelum pendalaman di perguruan tinggi.
“Sebagai pengenalan kepada pelajar SMK itu sudah oke, sesuai tingkatannya. Kemampuan mereka memang belum sampai tahap mahir, tapi sudah saatnya dikenalkan sejak SMK,” ucapnya.
Relevansi jurusan ditentukan tujuan kuliah
Darmaningtyas menjelaskan jurusan yang dinilai tidak relevan di bangku kuliah. Namun, ia menegaskan bahwa relevansi sebuah jurusan kuliah tidak bisa dilepaskan dari tujuan utama menempuh pendidikan tinggi.
Jika kuliah dimaknai sebagai proses membangun dan mengasah pola pikir, maka seluruh jurusan tanpa kecuali akan tetap relevan sepanjang zaman.
“Kalau kuliah itu tujuannya untuk mengembangkan pola pikir maka semua jurusan di bangku kuliah akan selalu relevan sepanjang zaman,” jelasnya.
Tapi, persoalan muncul ketika kuliah dipersempit hanya sebagai jalan cepat menuju pekerjaan.
Dalam kerangka berpikir sempit tersebut, jurusan-jurusan dengan basis ilmu sosial dan humaniora kerap dicap tidak relevan karena dianggap tidak memiliki jalur karier yang lurus dan pasti.
“Kalau tujuan kuliah hanya untuk mencari pekerjaan, tentu ada bidang-bidang yang dianggap tidak relevan, terutama ilmu sosial dan humaniora, karena tidak mudah mendapatkan lapangan kerja yang konsisten dengan bidang keilmuannya,” papar Darmaningtyas.
Sebaliknya, ia menekankan bahwa jika pendidikan tinggi diarahkan untuk membentuk cara berpikir kritis, analitis, dan reflektif, maka jurusan-jurusan sosial dan humaniora justru akan terus relevan menghadapi perubahan zaman.
“Kalau kuliah tujuannya mengembangkan pola pikir, maka jurusan-jurusan dengan napas sosial dan humaniora akan selalu relevan terhadap perkembangan zaman,” tandasnya.
